Hagnyono Bahas Penguatan SDM Penyidik dalam Implementasi HSI

  • 01 Okt 2026 14:40 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Negara – Penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu aspek yang dibahas dalam pengembangan Humanistic Scientific Investigation (HSI), sebuah pendekatan yang dikembangkan Hagnyono, S.H., M.H., personel Bareskrim Polri sekaligus peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I.

Pembahasan tersebut dilakukan Hagnyono bersama Kombes Pol Agus Yulianto, M.Psi., Psikolog, dari Biro Psikologi Staf Sumber Daya Manusia (SSDM) Polri. Diskusi difokuskan pada penguatan kompetensi psikologis, komunikasi, serta pemahaman terhadap karakter pihak yang diperiksa dalam proses penyidikan.

HSI dikembangkan sebagai pendekatan yang memadukan Scientific Investigation dengan aspek kemanusiaan dalam proses penyidikan. Pendekatan tersebut mencakup lima unsur utama, yakni Scientific Investigation, Psikologi Investigatif, Komunikasi Humanis, HAM dan Akuntabilitas, serta Kesadaran Hukum.

Hagnyono menjelaskan, penerapan kelima unsur tersebut membutuhkan penyidik yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam pembuktian, tetapi juga memahami dinamika manusia selama proses pemeriksaan.

Korban, saksi, maupun tersangka dapat memiliki kondisi psikologis dan tingkat kerentanan yang berbeda. Kondisi tersebut dapat memengaruhi komunikasi, kemampuan mengingat suatu peristiwa, respons terhadap tekanan, serta interaksi selama proses pemeriksaan.

Karena itu, aspek psikologi dalam HSI diarahkan untuk memberikan bekal yang relevan kepada penyidik, bukan untuk menjadikan penyidik sebagai psikolog. Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu penyidik mengenali situasi pemeriksaan, membangun komunikasi yang tepat, serta menjaga proses memperoleh informasi tetap profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.

Diskusi bersama Biro Psikologi SSDM Polri juga membahas bagaimana prinsip HSI dapat diterjemahkan menjadi kompetensi dan pola kerja yang dapat dipahami serta diterapkan oleh penyidik.

Pendekatan humanis dalam HSI tidak hanya ditempatkan sebagai sikap dalam berinteraksi. Aspek tersebut diarahkan menjadi kemampuan dan perilaku kerja yang dapat dipelajari, dilatih, diterapkan, serta dievaluasi.

Dalam pengembangannya, masukan dari perspektif psikologi sumber daya manusia menjadi salah satu bahan untuk mematangkan perangkat implementasi HSI. Perangkat tersebut mencakup model HSI, pedoman atau SOP, model pemeriksaan, modul pembelajaran bagi penyidik, serta dashboard pendukung implementasi.

Modul pembelajaran menjadi salah satu instrumen yang disiapkan agar konsep HSI dapat dipahami secara praktis oleh penyidik. Materinya antara lain mencakup pembangunan raport, komunikasi dalam pemeriksaan, pemahaman terhadap kondisi pihak yang diperiksa, akuntabilitas proses, serta penerapan prinsip pembuktian ilmiah.

Selain melibatkan unsur terkait di lingkungan Polri, pengembangan HSI juga dilakukan melalui Tim Efektif yang dibentuk Hagnyono. Tim tersebut berperan dalam proses brainstorming, pemetaan kebutuhan, penyempurnaan konsep, dan penerjemahan gagasan ke dalam perangkat implementasi.

Septia Zul Putra menjadi salah satu anggota Tim Efektif yang terlibat dalam proses brainstorming bersama Hagnyono. Kolaborasi tersebut berjalan beriringan dengan pengayaan perspektif dari ahli dan pemangku kepentingan terkait.

Rangkaian pembahasan tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan HSI agar pendekatan yang dirumuskan tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam pembelajaran, diuji dalam praktik, serta dievaluasi sesuai kebutuhan organisasi.

Melalui HSI, pengembangan penyidikan diarahkan untuk memadukan penguatan metode pembuktian ilmiah dengan kemampuan penyidik dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara profesional, terukur, serta akuntabel.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....