SMSI Buleleng Ajak Masyarakat Lebih Kritis Hadapi Maraknya Hoaks di Media Sosial

  • 08 Jun 2026 06:44 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Maraknya penyebaran hoaks di media sosial menjadi tantangan serius di era digital saat ini. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah mempercayai setiap informasi yang beredar sebelum memastikan kebenarannya melalui sumber yang kredibel.

Ajakan tersebut disampaikan Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Buleleng, Francelino Xavier Ximenes Freitas, mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi informasi telah membuat penyebaran berita berlangsung sangat cepat. Sayangnya, kondisi tersebut juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan informasi palsu yang dapat menyesatkan masyarakat.

Ia mencontohkan, banyak hoaks yang sengaja dibuat dengan judul bombastis dan provokatif untuk menarik perhatian pembaca. Bahkan tidak jarang menggunakan foto maupun video lama yang dikaitkan dengan peristiwa berbeda sehingga menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.

“Kalau masyarakat membaca berita yang judulnya terlalu bombastis, provokatif, dan sumbernya tidak jelas, maka itu patut dicurigai sebagai hoaks. Berita yang benar selalu memiliki narasumber, tempat kejadian, waktu kejadian, dan informasi yang jelas,” ujarnya.

Berdasarkan data yang disampaikannya, jumlah konten hoaks di Indonesia masih cukup tinggi. Pada tahun politik 2024 tercatat ribuan isu hoaks beredar di ruang digital. Sementara hingga Mei 2026, ratusan isu hoaks masih ditemukan dan terus menyebar di berbagai platform media sosial.

Menurut Francelino, tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa hoaks masih memiliki ruang untuk berkembang karena sebagian masyarakat belum terbiasa melakukan verifikasi terhadap informasi yang diterima.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menerapkan langkah sederhana sebelum mempercayai suatu informasi, yakni dengan membandingkannya dengan pemberitaan di media-media terpercaya.

“Kalau ada informasi yang viral di media sosial, coba cek apakah berita yang sama juga dimuat oleh media mainstream yang kredibel. Jika tidak ada, maka masyarakat harus berhati-hati dan jangan langsung mempercayainya,” katanya.

Selain mengedukasi masyarakat, Francelino menilai media massa juga harus terus memperkuat praktik jurnalisme berbasis verifikasi, menjaga independensi, serta berpegang teguh pada kode etik jurnalistik.

Ia menegaskan bahwa wartawan tidak boleh sekadar mengejar kecepatan publikasi, tetapi harus mengutamakan akurasi dan kebenaran informasi.

Menurutnya, kemampuan literasi digital masyarakat menjadi kunci penting untuk menekan penyebaran hoaks. Dengan semakin banyak masyarakat yang kritis dan selektif dalam menerima informasi, ruang bagi penyebar hoaks akan semakin sempit.

“Harapan kami, masyarakat jangan langsung percaya dengan informasi yang beredar di media sosial. Verifikasi terlebih dahulu, cek sumbernya, dan pastikan informasinya benar sebelum dibagikan kepada orang lain,” ucapnya.




google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....