SPPG Sawan Sangsit Terapkan Pengawasan Ketat, Gandeng UMKM Lokal untuk Program MBG
- 03 Jun 2026 14:35 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- SPPG
- Sawan
- Sangsit
- Terapkan Pengawasan Ketat
- Gandeng UMKM Lokal
- Program MBG
RRI.CO.ID, Singaraja – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Sawan, Kabupaten Buleleng, tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi penerima manfaat, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala SPPG Sawan Sangsit, I Made Hendra Dwiguna Pawitra, mengatakan seluruh kebutuhan bahan baku program MBG saat ini masih dapat dipenuhi dari wilayah Buleleng. Bahan-bahan seperti beras, telur, ayam, sayur, dan buah diperoleh melalui kerja sama dengan sejumlah UMKM lokal.
“Di Sangsit kami memiliki delapan distributor UMKM yang bekerja sama dalam penyediaan bahan seperti telur, ayam, sayur, dan buah. Mereka juga saling bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan bahan baku,” ujarnya.
Menurut Hendra, seluruh bahan yang masuk ke dapur SPPG harus melalui proses seleksi ketat. Bahan yang tidak memenuhi standar kualitas, seperti sayuran atau buah yang rusak, tidak akan digunakan dalam proses produksi makanan.
“Kalau ada bahan yang jamuran atau busuk, langsung kami tolak karena berisiko. Jadi walaupun jumlahnya banyak, kami tetap selektif memilih bahan yang digunakan,” ucapnya.
Ia menjelaskan, pengelolaan MBG dilakukan sesuai standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN). Mulai dari infrastruktur dapur, peralatan memasak, kendaraan distribusi, hingga pengelolaan limbah harus memenuhi standar operasional yang telah ditentukan.
Selain itu, setiap SPPG wajib memiliki tenaga ahli gizi yang bertugas menyusun menu dan menentukan gramasi makanan sesuai kebutuhan penerima manfaat.
“Menu dan takaran makanan ditentukan oleh ahli gizi. Jadi tidak sembarangan. Semua sudah dihitung sesuai standar kebutuhan gizi masing-masing kelompok penerima,” katanya.
Saat ini SPPG Sawan Sangsit didukung 47 tenaga kerja lokal dan tiga petugas dari BGN. Mereka bertanggung jawab mulai dari penerimaan bahan baku, proses memasak, pengemasan, hingga distribusi makanan ke sekolah dan posyandu.
Meski demikian, Hendra mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pelaksanaan program, terutama terkait pengelolaan limbah dan ketepatan waktu distribusi makanan.
“Masalah utama yang masih kami evaluasi adalah keterlambatan distribusi dan pengelolaan limbah. Dalam sehari limbah yang dihasilkan bisa mencapai 40 sampai 50 kilogram,” ucapnya.
Untuk mengurangi timbunan sampah organik, pihak SPPG bekerja sama dengan masyarakat sekitar yang memiliki usaha peternakan seperti bebek, kambing, dan budidaya ikan lele.
“Masyarakat yang membutuhkan pakan ternak bisa mengambil limbah organik yang masih layak. Jadi bisa membantu kami sekaligus bermanfaat bagi warga,” ujarnya.
Hendra menambahkan, pihaknya terus melakukan evaluasi agar kualitas makanan tetap terjaga dan distribusi dapat berjalan lebih efektif. Ia berharap program MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi positif bagi pelaku UMKM lokal di Buleleng.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....