Nitisastra Ajarkan Pendidikan hingga Akhir Hayat

  • 02 Mei 2026 12:11 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Konsep pendidikan seumur hidup dalam Kekawin Niti Sastra, sering kali dikaitkan dengan pentingnya menuntut ilmu tanpa memandang usia dan status.

Akademisi dan Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, Dr. I Nyoman Suka Ardiyasa mengatakan, relevansi peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi semakin mendalam ketika dikaitkan dengan filosofi “Taki-takining sewaka guna widya” yang bersumber dari Kekawin Nitisastra.

Pada fase awal kehidupan, fokus utama manusia adalah bersungguh-sungguh dalam mendapatkan kemahiran dan ilmu pengetahuan. Tanpa bekal intelektual dan keterampilan yang matang di masa muda, seseorang akan kesulitan menjalani fase hidup berikutnya.

Memasuki usia dua puluhan ke atas, manusia mulai dihadapkan pada godaan duniawi dan urusan asmara. Pada fase ini pendidikan bukan lagi sekadar menghafal teori, melainkan bagaimana mengelola emosi dan nafsu agar tetap berada di koridor etika.

Saat mencapai usia pertengahan, hasil proses belajar seharusnya terwujud dalam ucapan. Kata-kata seseorang harus mengandung kebenaran dan kesejukan. Pada tahap ini, manusia belajar untuk menjadi panutan bagi generasi di bawahnya.

Pendidikan seumur hidup dalam Nitisastra tidak berhenti pada urusan duniawi semata. Menjelang akhir hayat, saat atma (jiwa) bersiap meninggalkan raga, manusia dituntut untuk fokus pada pendidikan spiritual yang mendalam.

Suka Ardiyasa menyebutkan bahwa proses belajar pada tahap ini adalah upaya mencapai pembebasan dan ketenangan batin tanpa rasa takut. Kekawin Nitisastra mengajarkan bahwa belajar adalah sebuah proses adaptasi yang dinamis.

“Filosofi ini sejalan dengan ungkapan Nandurin karang awak, kaweruhe luir senjata, yang mengandung makna bahwa ilmu pengetahuan merupakan bekal utama dalam membangun dan memperkuat diri, layaknya senjata yang membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih bijaksana dan bermartabat,” ujar Suka Ardiyasa, Sabtu 2 Mei 2026.

Dengan memegang teguh filosofi ini, seseorang tidak akan mudah goyah oleh perubahan zaman yang begitu cepat, karena ia memandang setiap perubahan sebagai kelas baru untuk belajar.

Senada dengan Suka Ardiyasa, Pengurus PHDI Kabupaten Buleleng, Jro Mangku Ketut Rupa juga menegaskan bahwa, pendidikan hendaknya dipersiapkan dan dilakoni serta dikelola sejak usia dini bahkan hingga menyongsong kematian..

”Jika dikaitkan dengan pendidikan dewasa ini, pemerintah telah memberikan pendidikan komplit dari jenjang PAUD, Pendidikan Dasar, Menengah dan Pendidikan Tinggi. Oleh karenanya kesempatan dan fasilitas yg diberikan oleh pemerintah harus dimanfaatkan semaksimal mungkin,” kata Jro Mangku Ketut Rupa.

Nitisastra bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pedoman bagi manusia modern untuk tetap memanusiakan diri melalui ilmu pengetahuan yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....