Seni Pedalangan Media Edukasi Moral
- 14 Apr 2026 08:39 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Seni pedalangan adalah media edukasi moral yang efektif, menggabungkan hiburan, filosofi, dan nilai-nilai budi pekerti untuk membentuk karakter generasi muda.
Melalui pertunjukan wayang, dalang menyampaikan pesan etika, spiritual, dan sosial, mengajarkan perbedaan antara kebaikan (dharma) dan keburukan (adharma).
Di tengah gempuran tren modernisasi, seni pedalangan Bali seringkali dianggap sebagai bidang yang eksklusif dan sulit ditembus, terutama bagi mereka yang tidak memiliki garis keturunan seni.
Namun, sebuah perspektif baru muncul dari seorang pemuda bernama Gusti Made Aryana yang akrab dipanggil Gus Dek, dan kini dikenal sebagai Dalang Sembroli, seniman wayang kulit inovatif asal Buleleng, Bali, yang terkenal dengan pementasan unik dan edukatif.
Lahir dari keluarga petani tanpa latar belakang darah seni, perjalanan menjadi seorang dalang bukanlah hal mudah baginya. Ketertarikan pada seni pedalangan dimulai sejak 2011 didasari oleh hobi menonton pertunjukan wayang dan seni tradisi Bali.
Memasuki dunia akademik pedalangan, tantangan berat sempat dirasakan hingga muncul keinginan untuk menyerah di semester kedua. Namun dengan tekad kuat akhirnya pada 25 Desember 2015 Ia lulus dan diwinten sebagai dalang hingga saat ini.
| Baca juga: Sudah Tahu? Ini Jadwal PKB 3 Juli 2026 |
Menurut Gus Dek, dalam Dharma Pewayangan, ada istilah Dalang Maawak Dewa, Maawak Butha, Maawak Bumi. Filosofi ini merujuk pada peran seorang dalang yang serba bisa dan mampu masuk ke segala lini kehidupan.
"Segala sesuatu yang ada di dunia ini bisa diucapkan atau dilakukan oleh seorang dalang," ujar Gus Dek, dalam sebuah Obrolan Budaya di RRI Singaraja.
Ia menekankan bahwa Dalang ibarat guru loka atau guru masyarakat, yang artinya ia tidak hanya sekadar seniman atau penghibur, tetapi juga pendidik, penyampai pesan moral, dan nilai-nilai luhur bagi kehidupan Masyarakat.
Oleh karena itu, ilmu pedalangan atau pewayangan ini tidak seharusnya ditakuti melainkan harus disebarluaskan secara luas.
Menurut Gus Dek, menghadapi tantangan zaman, inovasi menjadi kunci agar wayang kulit tetap relevan. Salah satu strategi yang diusung adalah melalui kolaborasi lintas kesenian, seperti memadukan pertunjukan wayang dengan kesenian Bondres atau seni pertunjukan lainnya.
Harapannya, anak-anak muda tidak lagi melihat wayang sebagai tontonan kuno, melainkan sebagai media kolaboratif yang mampu beradaptasi dengan berbagai bidang kehidupan di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....