Ketika Singaraja Menjadi Simpul Penting Jaringan Maritim Hindia Belanda

  • 21 Sep 2026 12:31 WIB
  •  Singaraja
Kerbau dimuat ke atas kapal Van der Hagen di Pelabuhan Buleleng sekitar tahun 1918. (Foto: Dok. KITLV).

Seekor kerbau tergantung di udara. Tali-tali mengikat tubuhnya. Sebuah derek kapal mengangkatnya dari perahu menuju kapal besar.

Adegan yang ganjil bagi mata kita hari ini. Tetapi, di masa itu ternak adalah bagian dari arus utama perdagangan.

Penelitian Purnawibawa dan Yasa mendokumentasikan aktivitas pengangkutan ternak ke kapal Van der Hagen di Buleleng. Kapal KPM itu punya derek yang digunakan untuk memindahkan ternak.

Perahu-perahu hias di lepas pantai Buleleng dengan kapal Hr.Ms. Krakatau sebagai latar belakangnya sekitar tahun 1928. (Foto: Dok. KITLV).

Hr.Ms. Krakatau (atau HNLMS Krakatau) adalah kapal penyebar ranjau milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda (Koninklijke Marine) yang beroperasi di wilayah Hindia Belanda. Nama kapal ini diambil dari nama gunung berapi terkenal di Indonesia, Gunung Krakatau. Kapal ini dibuat di Surabaya dan diluncurkan pada tahun 1924.

Purnawibawa dan Yasa dalam penelitiannya menunjukkan keberagaman jenis perahu di Buleleng pada periode 1920-1940. Mereka juga menemukan indikasi bahwa kehidupan maritim di Buleleng tidak hanya dibentuk oleh masyarakat Bali, tetapi berhubungan dengan pelaut dan pedagang dari berbagai wilayah Nusantara.

Perahu-perahu tradisional berlabuh di Buleleng dengan kapal uap terlihat di kejauhan sekitar tahun 1936. (Foto: Dok. KITLV).
Sebuah mobil dipindahkan menggunakan perahu di kawasan Pelabuhan Buleleng sekitar tahun 1932. Kapal besar terlihat di kejauhan. (Foto: Dok. KITLV).

Sejarah Pelabuhan Buleleng tidak berhenti ketika kapal-kapal besar tak lagi menjadikan pantainya sebagai tempat bongkar muat. Perubahan itu merupakan bagian dari pergeseran pusat pemerintahan dan jaringan transportasi Bali, terutama setelah ibu kota provinsi berpindah ke selatan pada 1960 dan pelabuhan utama berkembang di Benoa.

Perubahan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam menurunnya fungsi Pelabuhan Buleleng. Namun, berkurangnya aktivitas pelayaran tidak serta-merta menghapus arti kawasan ini. Dermaga, bangunan, dan foto-foto lama tetap menyimpan jejak tentang sebuah kota yang pernah terhubung dengan berbagai pelabuhan di Nusantara. Di antara foto kapal uap, buruh angkut, dan perahu-perahu kecil itu, sejarah Buleleng mengajak kita memahami bagaimana sebuah kota tumbuh, berubah, dan menemukan arti baru bagi warisan yang ditinggalkannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....