Ketika Singaraja Menjadi Simpul Penting Jaringan Maritim Hindia Belanda

  • 21 Sep 2026 12:31 WIB
  •  Singaraja
Sejarah pelabuhan sebenarnya adalah sejarah kota

SEBELUM pesawat dan jalan raya mengubah cara orang datang ke Bali, laut di utara menjadi gerbang utama. Kapal-kapal datang dari berbagai pelabuhan, barang-barang bergerak, toko-toko tumbuh di pesisir. Foto-foto lama ini merekam Singaraja ketika menjadi salah satu simpul penting jaringan maritim Hindia Belanda.

Kapal uap Van der Hagen milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) berlabuh di rede Buleleng pada 1939. Kapal ini menjadi bagian dari armada kapal uap KPM yang melayani jalur kepulauan Nusantara (Hindia Belanda), menghubungkan berbagai pelabuhan penting di kawasan timur Indonesia seperti Ambon, Ternate, Manado, dan Sulawesi. (Foto: Dok. KITLV).

Sebuah kapal uap berukuran besar berhenti di rede Buleleng. Cerobongnya menjulang di antara tiang-tiang kapal. Di bawahnya, laut terbentang tanpa dermaga besar yang langsung menyambut lambung kapal.

Pemandangan semacam ini merupakan ciri penting Pelabuhan Buleleng pada masa kolonial. Kapal-kapal besar tidak dapat merapat langsung karena kondisi perairannya yang dangkal. Mereka berlabuh di rede, sementara barang dan penumpang dipindahkan menggunakan kapal-kapal yang lebih kecil.

Pada paruh pertama abad ke-20, Buleleng telah menjadi bagian dari jaringan pelayaran antarpulau yang dikelola Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Purnawibawa dan Yasa dalam Exploring Colonial Photographs Potential as a Historical Source on Reconstructing Buleleng Maritime History (2024) menunjukkan bahwa foto-foto kolonial periode 1920-1940 memperlihatkan posisi Buleleng sebagai pusat perdagangan dan pertukaran budaya maritim.

Buruh membongkar barang dari kapal uap Van der Hagen di Pantai Bueleng, 1939. (Foto: Dok. KITLV).

Foto ini menunjukkan apa yang tidak tampak di foto pertama. Sekelompok pekerja berdiri di pantai, perahu-perahu kayu menunggu dengan perahu besar tampak di kejauhan. Peti dan karung berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.

Foto ini telah diidentifikasi dalam penelitian Purnawibawa dan Yasa. Keterangan arsipnya menyebut aktivitas pembongkaran barang dari Van der Hagen di pantai Buleleng tahun 1939.

Peti-peti yang terlihat membawa tulisan BPM. Dugaannya, singkatan itu berkaitan dengan Bataafsche Petroleum Maatschapij. Tetapi tidak diketahui dengan pasti apa isi peti tersebut.

Bataafsche Petroleum Maatschapij adalah anak perusahaan hasil penggabungan Royal Dutch Company dan Shell Transport and Trading Company untuk mengelola sektor produksi minyak di Nusantara. Pada tahun 1920-an, BPM menguasai dan memproduksi lebih dari 95 persen total minyak mentah di Indonesia dengan pusat operasi awal di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara.

Dermaga Pelabuhan Buleleng dengan latar laut terbuka, sekitar 1920-1935. (Foto: Dok. KITLV).

Dermaga kayu memanjang ke laut. Tiang-tiangnya menopang dari bawah. Di ujung, tampak dua orang berdiri menghadap laut.

Foto ini diperkirakan berasal dari tahun 1925 dan merupakan bagian dari dokumentasi kolonial mengenai Pelabuhan Buleleng. Dalam Peranan Pelabuhan Buleleng sebagai Pusat Pelayaran dan Jalur Perdagangan pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda Tahun 1846-1939 (2020), Martini dan Alit menempatkan pelabuhan ini sebagai pusat pelayaran dan berkembang karena letaknya yang strategis.

Kantor Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) di Buleleng sekitar tahun 1920. (Foto: Dok. KITLV).

KPM adalah perusahaan pelayaran Belanda yang mengembangkan jaringan pelayaran antarpulau di Hindia Belanda. Keberadaannya di Buleleng menunjukkan bahwa di pelabuhan ini dulunya ada aktivitas yang melahirkan kota pelabuhan, bukan sekadar tempat singgah.

Kawasan pertokoan di Buleleng pada masa kolonial sekitar tahun 1925. Aktivitas pelabuhan turut membentuk kawasan perdagangan kota. (Foto: Dok. KITLV).

Deretan toko berdiri rapat. Atap-atapnya menaungi bagian depan bangunan. Pelabuhan Buleleng telah menciptakan kota di belakangnya, orang-orang berjalan di antaranya.

Aktivitas perdagangan mendorong berkembangnya kawasan pertokoan dan pergudangan di sekitar pelabuhan. Komunitas pedagang Tionghoa juga memainkan peranan penting dalam perdagangan di kawasan tersebut.

Kerbau dimuat ke atas kapal Van der Hagen di Pelabuhan Buleleng sekitar tahun 1918. (Foto: Dok. KITLV).

Seekor kerbau tergantung di udara. Tali-tali mengikat tubuhnya. Sebuah derek kapal mengangkatnya dari perahu menuju kapal besar.

Adegan yang ganjil bagi mata kita hari ini. Tetapi, di masa itu ternak adalah bagian dari arus utama perdagangan.

Penelitian Purnawibawa dan Yasa mendokumentasikan aktivitas pengangkutan ternak ke kapal Van der Hagen di Buleleng. Kapal KPM itu punya derek yang digunakan untuk memindahkan ternak.

Perahu-perahu hias di lepas pantai Buleleng dengan kapal Hr.Ms. Krakatau sebagai latar belakangnya sekitar tahun 1928. (Foto: Dok. KITLV).

Hr.Ms. Krakatau (atau HNLMS Krakatau) adalah kapal penyebar ranjau milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda (Koninklijke Marine) yang beroperasi di wilayah Hindia Belanda. Nama kapal ini diambil dari nama gunung berapi terkenal di Indonesia, Gunung Krakatau. Kapal ini dibuat di Surabaya dan diluncurkan pada tahun 1924.

Purnawibawa dan Yasa dalam penelitiannya menunjukkan keberagaman jenis perahu di Buleleng pada periode 1920-1940. Mereka juga menemukan indikasi bahwa kehidupan maritim di Buleleng tidak hanya dibentuk oleh masyarakat Bali, tetapi berhubungan dengan pelaut dan pedagang dari berbagai wilayah Nusantara.

Perahu-perahu tradisional berlabuh di Buleleng dengan kapal uap terlihat di kejauhan sekitar tahun 1936. (Foto: Dok. KITLV).
Sebuah mobil dipindahkan menggunakan perahu di kawasan Pelabuhan Buleleng sekitar tahun 1932. Kapal besar terlihat di kejauhan. (Foto: Dok. KITLV).

Sejarah Pelabuhan Buleleng tidak berhenti ketika kapal-kapal besar tak lagi menjadikan pantainya sebagai tempat bongkar muat. Perubahan itu merupakan bagian dari pergeseran pusat pemerintahan dan jaringan transportasi Bali, terutama setelah ibu kota provinsi berpindah ke selatan pada 1960 dan pelabuhan utama berkembang di Benoa.

Perubahan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam menurunnya fungsi Pelabuhan Buleleng. Namun, berkurangnya aktivitas pelayaran tidak serta-merta menghapus arti kawasan ini. Dermaga, bangunan, dan foto-foto lama tetap menyimpan jejak tentang sebuah kota yang pernah terhubung dengan berbagai pelabuhan di Nusantara. Di antara foto kapal uap, buruh angkut, dan perahu-perahu kecil itu, sejarah Buleleng mengajak kita memahami bagaimana sebuah kota tumbuh, berubah, dan menemukan arti baru bagi warisan yang ditinggalkannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....