Kasus Skabies di Serui Kota Menurun, Puskesmas Ingatkan Pentingnya Kebersihan

  • 08 Sep 2026 07:58 WIB
  •  Serui

RRI.CO.ID,Serui – Kasus skabies yang ditangani Puskesmas Serui Kota, Kabupaten Kepulauan Yapen, menunjukkan tren penurunan dalam dua bulan terakhir. Berdasarkan data rekapitulasi pelayanan, tercatat sebanyak 101 kasus pada Juni 2026, kemudian menurun menjadi 72 kasus pada Juli 2026.

Kepala Puskesmas Serui Kota, dr. Agnes Irayne Lakoy, mengatakan meski jumlah kasus mengalami penurunan, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit kulit menular tersebut.

Menurutnya, skabies disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei yang berukuran sangat kecil dan dapat masuk ke lapisan kulit. Kondisi tersebut memicu rasa gatal yang kuat dan umumnya semakin terasa pada malam hari.

“Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh kutu atau tungau Sarcoptes scabiei. Tungau ini sangat kecil dan dapat masuk ke lapisan kulit sehingga menyebabkan rasa gatal yang hebat, terutama pada malam hari,” kata dr. Agnes, Senin 7 September 2026.

Ia menjelaskan, penularan skabies umumnya terjadi melalui kontak kulit yang dekat dan berlangsung cukup lama. Penularan juga dapat terjadi di lingkungan tempat tinggal dengan kontak erat antaranggota keluarga.

Karena itu, apabila salah satu anggota keluarga mengalami skabies, anggota keluarga lainnya perlu mewaspadai kemungkinan tertular.

“Biasanya kalau ada satu orang di dalam rumah yang terkena skabies, anggota keluarga lainnya juga berisiko tertular. Karena itu, penanganannya harus dilakukan dengan benar agar tidak terjadi penularan berulang,” jelasnya.

Penyakit skabies gatal gatal pada kulit ( Foto : Ggle )

Dr. Agnes mengatakan gejala yang paling umum adalah rasa gatal yang sangat kuat, terutama pada malam hari. Rasa gatal tersebut dapat membuat penderita terus menggaruk hingga menimbulkan luka pada kulit.

Keluhan biasanya dapat ditemukan pada sela-sela jari, pergelangan tangan, siku dan pinggang, meski bagian tubuh lainnya juga dapat terdampak. Jika tidak ditangani dengan baik, luka akibat garukan berisiko mengalami infeksi.

Dalam penanganannya, Puskesmas Serui Kota memberikan pengobatan berdasarkan kondisi masing-masing pasien. Salah satu obat yang dikenal efektif untuk skabies adalah permethrin,Namun, dr. Agnes menyebut ketersediaan obat tersebut di Serui saat ini menjadi salah satu kendala.

“Di Puskesmas kami memberikan pengobatan sesuai kondisi pasien. Untuk salep permethrin saat ini memang agak sulit ditemukan di Serui. Ada beberapa obat yang dijual di apotek, seperti Scabimite dan Scabicide, tetapi penggunaannya tetap harus sesuai petunjuk dokter,” ujarnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan obat secara sembarangan tanpa mengetahui jenis, dosis dan cara pemakaian yang tepat. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk memastikan keluhan yang dialami memang disebabkan oleh skabies dan menentukan terapi yang sesuai.

Selain pengobatan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggal menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan.

Pasien yang menjalani pengobatan disarankan memperhatikan kebersihan pakaian, sprei, sarung bantal, selimut serta barang-barang lain yang sering bersentuhan langsung dengan kulit.

“Kalau sprei dan pakaian dicuci, bisa menggunakan air panas apabila memungkinkan, kemudian dicuci seperti biasa dan dikeringkan dengan baik. Kasur dan bantal juga dapat dijemur. Pakaian yang sudah dicuci dapat disetrika untuk membantu menjaga kebersihan,” kata dr. Agnes.

Menurutnya, pengobatan yang dilakukan dengan benar harus dibarengi dengan penerapan pola hidup bersih. Langkah tersebut penting untuk mencegah terjadinya penularan kembali setelah pengobatan.

Ia juga menjelaskan bahwa rasa gatal tidak selalu langsung menghilang setelah pengobatan. Dalam beberapa kasus, rasa gatal masih dapat bertahan selama beberapa waktu meskipun tungau penyebab skabies telah berhasil ditangani.

Karena itu, pasien diminta tidak menghentikan pengobatan maupun mengganti obat secara sembarangan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

“Kalau pengobatan dilakukan dengan benar dan kebersihan tetap dijaga, skabies dapat ditangani. Tetapi kalau pengobatan tidak dilakukan dengan baik dan kebersihan lingkungan tidak diperhatikan, keluhan dapat berlangsung lebih lama dan berisiko menimbulkan infeksi pada kulit,” jelasnya.

Dr. Agnes menambahkan, anggota keluarga yang memiliki kontak erat dengan penderita juga perlu mendapat perhatian. Sebab, seseorang yang telah tertular dapat belum menunjukkan gejala pada tahap awal, tetapi kemudian mengalami keluhan atau berpotensi menularkan kembali kepada anggota keluarga lainnya.

Sementara itu, data Puskesmas Serui Kota menunjukkan adanya penurunan kasus dari 101 pasien pada Juni 2026 menjadi 72 pasien pada Juli 2026. Artinya, terdapat penurunan sebanyak 29 kasus atau sekitar 28,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski demikian, Puskesmas Serui Kota mengimbau masyarakat tidak mengabaikan gejala skabies dan tetap menjaga kebersihan diri maupun lingkungan tempat tinggal, Masyarakat yang mengalami gatal hebat, terutama pada malam hari, disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar dapat memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.

“Kalau ada anggota keluarga yang mengalami gatal seperti ini, sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu sampai semakin parah, karena penanganan yang tepat dan menjaga kebersihan sangat penting untuk mencegah penularan,” pungkas dr. Agnes.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....