Badrul Mustafa: Edukasi Kebencanaan Harus Terus Diperkuat

  • 24 Jul 2026 03:16 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang- Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan gempa bumi yang sangat tinggi di Indonesia. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh keberadaan dua sumber gempa utama, yakni Megathrust Mentawai di lepas pantai dan Sesar Semangko di daratan. Karena itu, masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui upaya mitigasi bencana.

Pakar gempa Sumatera Barat, Badrul Mustafa, menjelaskan secara tektonik Sumatera Barat berada di kawasan yang memiliki potensi gempa besar. Menurutnya, Megathrust Mentawai terdiri atas dua segmen utama, yakni Segmen Siberut dan Segmen Sipora-Pagai, sementara di daratan terdapat jalur Sesar Semangko yang juga aktif.

"Kita memiliki dua sumber gempa di Sumatera Barat. Pertama Megathrust Mentawai dan di darat ada Sesar Semangko. Di Megathrust Mentawai sendiri terdapat dua segmen, yaitu Segmen Siberut dan Segmen Sipora-Pagai. Ditambah lagi jalur sesar yang masuk dari Sumatera Utara ke Sumatera Barat. Artinya, dari segi tektonik kita memang sangat-sangat rawan," ujar Badrul Mustafa, Kamis 23 Juli 2026.

Ia mengatakan, ancaman tersebut bukan hanya berdasarkan teori ilmiah, tetapi telah berulang kali dirasakan masyarakat melalui berbagai kejadian gempa besar. Mulai dari gempa pada 10 April 2005, gempa darat pada Maret 2007, hingga rangkaian gempa Megathrust Mentawai pada September 2007 menjadi bukti nyata bahwa Sumatera Barat berada di kawasan aktif kegempaan.

Meski berbagai sosialisasi kebencanaan telah dilakukan pemerintah, akademisi, maupun organisasi pengurangan risiko bencana seperti KOGAMI, Badrul menilai pemahaman masyarakat masih perlu terus ditingkatkan. Menurutnya, masih banyak warga yang belum memahami potensi gempa maupun langkah-langkah yang harus dilakukan saat menghadapi bencana.

"Saya secara pribadi merasa belum puas. Dalam berbagai pertemuan informal masih banyak yang bertanya tentang potensi gempa, dan setelah dijelaskan ternyata pemahamannya masih kurang. Karena itu sosialisasi bahkan simulasi kebencanaan harus terus dilakukan agar masyarakat benar-benar siap menghadapi bencana," katanya.

Badrul menegaskan mitigasi pra-bencana merupakan langkah paling penting dalam mengurangi risiko korban maupun kerugian. Ia menjelaskan mitigasi tersebut meliputi mitigasi struktural, seperti pembangunan bangunan tahan gempa, serta mitigasi non-struktural berupa edukasi, latihan evakuasi, dan peningkatan kesadaran masyarakat. Dengan kesiapan yang baik, dampak bencana dapat diminimalkan meski gempa tidak dapat diprediksi secara pasti.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan hasil penelitian para ahli menunjukkan Segmen Siberut pada Megathrust Mentawai telah melewati siklus pengulangan gempa sekitar 200 tahun sehingga akumulasi energinya diperkirakan semakin besar. Meski demikian, waktu dan bentuk pelepasan energi tersebut belum dapat dipastikan.

"Energi yang tersimpan suatu saat harus dilepaskan dalam bentuk gempa. Kita tidak tahu apakah akan terjadi satu gempa besar atau beberapa gempa yang lebih kecil. Yang jelas, kita harus selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk melalui mitigasi yang berkelanjutan," tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....