Praktisi GIS Sumbar: Edukasi Gempa sejak Dini Kunci Keselamatan di Sumbar
- 26 Agt 2026 03:27 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Sumatera Barat punya potensi kegempaan yang cukup tinggi, baik bersumber dari daratan maupun laut. Kondisi tersebut membuat edukasi mitigasi bencana perlu ditanamkan sejak dini melalui lingkungan sekolah dan dilakukan secara berkelanjutan.
Praktisi Geografis Informasi Sistem (GIS) Sumatera Barat, Timtim Deby Purnasebta mengatakan berdasar catatan BMKG stasiun geofisika Padang Panjang hampir setiap bulan ada kejadian gempa di Sumatera Barat, baik berkekuatan kecil ataupun besar. Untuk itu, edukasi tentang kesiapsiagaan gempa di sekolah dinilai perlu diulang secara rutin, minimal satu kali dalam sebulan yang melibatkan guru, komunitas kebencanaan, dan instansi terkait.
"Saya kira memang harus mendarah daging, memang harus ditanamkan sejenis mungkin dari masuk ke kurikulum-kurikulum sekolah," ucapnya, Selasa, 25 Agustus 2026.
Timtim menjelaskan, ancaman gempa di Sumatera Barat berasal dari beberapa sumber, termasuk zona megathrust Mentawai dan Sesar Mentawai di wilayah pesisir Sumatera Barat. Sementara di daratan, Sesar Sumatera atau sesar semangko melewati beberapa daerah seperti Pasaman Barat, Agam, Padang Panjang, Tanah Datar, hingga Solok, termasuk kawasan Ngarai Sianok.
Menurut Timtim, risiko gempa tidak hanya ditentukan dari kekuatan guncangan, namun juga kondisi bangunan, kerentanan masyarakat, serta kesiapan pemerintah dan lingkungan dalam menghadapi bencana. Risiko akan semakin tinggi ketika ancaman gempa bertemu dengan bangunan yang rentan dan masyarakat yang belum punya pengetahuan mitigasi yang memadai.
"Risiko akan semakin tinggi ketika ancaman gempa bertemu dengan bangunan yang rentan dan masyarakat yang belum punya pengetahuan mitigasi yang memadai.
Biar mitigasi itu menjadi budaya dari sejak dini gitu. Edukasinya itu kepada sekolah, baik itu SD, SMP, SMA, supaya tetap terulang-ulang gitu. Apa yang harus dilakukan, apa yang disiapkan untuk meminimalisir dampak dari gempa itu," ujarnya.
Praktisi GIS Sumatera Barat Timtim Deby Purnasebta menekankan warisan terbaik untuk generasi muda tidak hanya pembangunan fisik, namun tata ruang yang aman dan berkelanjutan serta infrastruktur yang memperhitungkan ancaman gempa. Kebijakan berbasis risiko, bangunan yang lebih tangguh, dan budaya kesiapsiagaan yang tumbuh di masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi dampak ketika gempa terjadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....