Semangat Komunitas Astronomi Sumbar Amati Bulan Ditengah Hujan
- 20 Sep 2026 12:33 WIB
- Padang
Poin Utama
- Komunitas Astronomi Sumatera Barat menggelar acara pengamatan bulan serentak yang diinisiasi oleh NASA.
- Meski cuaca tidak mendukung, pengunjung dan relawan tetap antusias mengikuti rangkaian acara yang digelar secara gratis.
- Para relawan berharap pemerintah daerah memberikan perhatian dan dukungan terhadap keberadaan komunitas sains ini.
RRI.CO.ID, Padang - Pengamatan bulan tingkat dunia tetap bergulir antusias meski hujan lebat dan kabut asap pekat membalut langit Padang. Komunitas Astronomi Sumatera Barat mengalihkan agenda dengan menggelar diskusi interaktif serta penayangan film antariksa secara serentak.
Program siaran bertajuk Obrolan Malam Ruang Komunitas ini menghadirkan perwakilan aktivis pecinta langit malam di Ranah Minang yang tergabung dalam Komunitas Astronomi Sumbar. Fauzan Adam yang merupakan founder dari komunitas tersebut mengungkapkan bahwa kegiatan ini diinisiasi NASA untuk mengajak warga dunia bersama-sama.
"Inisiasi NASA ini bertujuan melibatkan masyarakat agar sama-sama mengamati bulan dalam satu malam yang sama," ujar Fauzan.
Teleskop canggih jenis Celestron dengan panjang fokus 900 milimeter sudah disiagakan panitia di lokasi pengamatan sejak awal. Alat optik profesional ini mampu memperbesar kawah bulan hingga cincin Planet Saturnus jika langit berada pada kondisi cerah.
Tantangan alam di Kota Padang memang tergolong cukup berat karena tingginya curah hujan serta gangguan polusi udara lokal. "Tantangan kami selama dua tahun pengamatan hilal adalah cuaca Sumbar yang siangnya cerah tapi malamnya hujan," kata Fauzan.
Namun, animo masyarakat umum maupun anggota muda untuk mengenal sains antariksa ternyata tidak surut gegara guyuran hujan deras. Salah seorang relawan Komunitas Astronomi Sumatera Barat, Femil Antika Putri mengapresiasi tinggi kehadiran para peserta yang bertahan hingga larut malam.
Persiapan teknis yang sempat tertunda akhirnya mulai berjalan lancar sekitar pukul 20.00 WIB di lokasi acara. "Kami mengapresiasi antusiasme pengunjung yang tetap datang mengamati teleskop meski cuaca kurang bersahabat," tutur Femil.
Diskusi hangat pun mengalir saat narasumber membeberkan fenomena unik mengenai perbedaan antara cahaya bintang dengan pantulan planet. Bintang nampak berkedip akibat gangguan lapisan atmosfer bumi, sedangkan planet berjarak relatif dekat sehingga cahayanya cenderung terlihat lebih stabil.
Materi edukasi ilmiah disampaikan secara sederhana agar mudah dimengerti warga awam yang baru pertama kali menggunakan teleskop. Pemateri juga menjelaskan konsep kecepatan cahaya matahari yang membutuhkan waktu perjalanan 8 menit untuk sampai menuju permukaan bumi.
Edukasi sains luar angkasa ini disajikan secara cuma-cuma tanpa dipungut biaya sepeser pun dari para pengunjung lokal. Komunitas independen ini mengandalkan semangat kesukarelawanan para generasi muda guna mempopulerkan astronomi di kalangan masyarakat luas di Sumatera Barat.
Memasuki bulan Oktober mendatang, panitia telah merancang agenda sosial menyambut gelaran bergengsi Pekan Antariksa Dunia. Para pegiat dan relawan komunitas ini berencana mengunjungi panti asuhan di Kota Padang untuk memberikan pelatihan praktis penggunaan alat pengamatan astronomi.
Para pegiat astronomi lokal berharap mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah dalam mendukung gerakan edukasi sains anak bangsa. "Kami berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap keberadaan komunitas relawan ini agar terus konsisten mengedukasi," pungkas Femil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....