Mempertanyakan Kemungkinan Adanya Kehidupan di Luar Bumi

  • 02 Agt 2026 16:06 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Matahari hanya satu dari miliaran bintang di galaksi Bima Sakti, dan alam semesta berisi miliaran galaksi lain.
  • Pengamatan manusia terhadap alam semesta diibaratkan seperti melihat keluar lewat jendela rumah — sangat terbatas.
  • Belum ada bukti ilmiah pasti soal kehidupan/peradaban cerdas di luar Bumi.

RRI.CO.ID, Padang - Program Obrolan Komunitas RRI Pro 1 Padang mengangkat tema kemungkinan kehidupan di luar Bumi pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Diskusi dipandu Rani Zuwe menghadirkan narasumber dari Komunitas Astronomi Sumatera Barat, yakni Aldino Adry Baskoro dan Pradika Alim Zulemil.

Aldino menjelaskan manusia mengamati alam semesta layaknya seseorang di dalam rumah yang hanya bisa melihat keluar lewat jendela. Keterbatasan sudut pandang itu membuat pemahaman manusia soal alam semesta masih sangat terbatas dibanding luasnya semesta yang sesungguhnya.

Matahari yang menjadi pusat tata surya hanyalah satu bintang kecil di antara miliaran bintang di galaksi Bima Sakti. Di alam semesta yang jauh lebih luas lagi, para astronom bahkan sudah menghitung keberadaan miliaran galaksi tambahan lainnya.

Foto Pale Blue Dot yang diabadikan wahana Voyager 1 memperlihatkan Bumi sebagai titik biru pucat berukuran sangat kecil. Skala alam semesta yang maha luas membuat kemungkinan kehidupan lain di luar Bumi menjadi masuk akal secara logika.

Hingga saat ini, ilmu pengetahuan belum menemukan bukti pasti mengenai keberadaan kehidupan atau peradaban cerdas di luar Bumi. Menurut Aldino, minimnya bukti tersebut bisa saja terjadi karena kehidupan cerdas memang langka atau sudah lebih dulu punah.

Kemungkinan lain, peradaban asing sebenarnya ada namun belum atau memilih tidak berkomunikasi hingga sinyal mereka belum pernah berbalas. Faktor lainnya adalah keterbatasan teknologi manusia yang dinilai belum cukup canggih mendeteksi lokasi mereka berjarak miliaran tahun cahaya.

Aldino mengingatkan kriteria kehidupan di luar Bumi tidak harus sama persis dengan kehidupan di Bumi yang bernapas oksigen. Zat yang selama ini dianggap beracun bagi manusia, seperti karbon monoksida dan metana, justru bisa jadi sumber kehidupan.

Upaya ilmiah pencarian kehidupan dilakukan lewat program SETI yang terus memindai sinyal radio dari luar angkasa secara berkelanjutan. Teleskop Luar Angkasa James Webb turut dikerahkan mendeteksi jejak gas atmosfer planet, sementara rover terus menjelajahi permukaan Mars.

Istilah UAP atau Unidentified Anomalous Phenomena merujuk pada benda maupun fenomena langit yang masih belum berhasil teridentifikasi asal-usulnya. Begitu berhasil teridentifikasi sebagai balon cuaca, drone, atau sampah antariksa, fenomena itu tak lagi disebut UFO, kata Aldino.

Sesi tanya jawab menghadirkan pertanyaan Wahyu, pendengar dari Painan, Pesisir Selatan, tentang cahaya terang melintas cepat di langit. Merespon hal ini, Pradika menjelaskan posisi Indonesia yang tepat di garis khatulistiwa membuatnya sering dilintasi satelit geostasioner dan sisa wahana antariksa.

Cahaya lurus yang dilihat Wahyu diyakini pantulan sinar matahari pada satelit atau debris antariksa yang terbakar memasuki atmosfer. Aldino juga meluruskan anggapan warga yang kerap mengira pantulan sorot lampu Masjid Raya di langit sebagai fenomena Aurora.

Aurora sesungguhnya lahir dari badai angin matahari yang berinteraksi dengan medan magnet Bumi, hingga hanya tampak di kutub. Syarat utama ditemukannya kehidupan adalah planet berada di zona layak huni, jarak ideal ke bintang agar air cair.

Komunitas Astronomi Sumatera Barat segera membuka pendaftaran volunteer untuk International Observe the Moon Night (InOMN) dan World Space Week pada September–Oktober 2026, melalui akun Instagram @astronomisumbar. Bagi masyarakat yang tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini bisa langsung cek di akun sosial media komunitas ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....