Mengenal Siklus Pergeseran Kalender Islam lewat Kacamata Astronomi
- 21 Jul 2026 20:53 WIB
- Padang
Poin Utama
- Sistem Hijriah menggunakan rotasi Bulan mengelilingi Bumi (komariah), sedangkan Sistem Masehi menggunakan peredaran Bumi mengitari Matahari (syamsiah).
- Satu tahun Hijriah berlangsung 354–355 hari, sedangkan Masehi 365 hari.
- Selisih 10–11 hari per tahun ini menyebabkan jadwal puasa sunah dan hari besar Islam selalu maju lebih cepat di kalender Masehi.
RRI.CO.ID, Padang - Perubahan jadwal puasa sunah serta hari besar Islam setiap tahun selalu memicu rasa penasaran masyarakat luas di Indonesia. Komunitas Astronomi Sumbar menjelaskan fenomena pergeseran penanggalan tersebut lewat program Obrolan Komunitas di siaran RRI Pro 1 Padang.
Perbedaan mendasar antara sistem penanggalan Hijriah dan Masehi menjadi alasan utama pemicu pergeseran tanggal ibadah bagi umat Islam. Sistem Hijriah bertumpu penuh pada rotasi Bulan mengelilingi Bumi, sedangkan Masehi menghitung peredaran Bumi mengitari Matahari secara presisi.
Dalam siaran Obrolan Komunitas pada Sabtu, 18 Juli 2026, Ziven Sisra Anasif memaparkan perhitungan matematis secara rinci mengenai selisih hari. Satu tahun kalender Hijriah hanya berlangsung sekitar 354 hingga 355 hari, sementara sistem Masehi membutuhkan kurun 365 hari.
Perbedaan rentang jumlah hari tersebut menciptakan selisih waktu sekitar 10 hingga 11 hari pada setiap pergantian tahun Masehi. Kondisi alamiah ini membuat momen perayaan hari besar Islam selalu bergerak maju lebih cepat dari penanggalan Masehi sebelumnya.
Anggota Komunitas Astronomi Sumbar lainnya, Nurwahdah turut menambahkan penjelasan mengenai perulangan siklus musim yang dialami oleh seluruh umat Muslim. Setiap kurun waktu 32 hingga 33 tahun, akumulasi pergeseran kalender akan mengembalikan posisi tanggal ibadah ke titik semula.
Fenomena alam yang unik ini memungkinkan umat Islam di berbagai belahan dunia merasakan suasana berpuasa dalam musim berbeda. Pengalaman beribadah saat musim panas maupun musim dingin memberikan variasi tersendiri bagi kehidupan spiritual harian seluruh umat Muslim.
Dua metode utama yaitu perhitungan Hisab dan pengamatan Rukyat tetap menjadi pijakan penting dalam menentukan awal bulan Hijriah. Pemerintah bersama para pakar ilmu astronomi menerapkan kriteria MABIMS melalui syarat batas ketinggian Hilal minimal 3 derajat ruang.
Syarat kriteria sudut elongasi Hilal minimal 6,4 derajat juga harus terpenuhi untuk menetapkan batas awal masuknya bulan baru. Pengamatan Hilal secara langsung di lapangan kerap menghadapi kendala berupa cuaca berawan tebal sewaktu tim mengarahkan instrumen teleskop.
Penggiat komunitas astronomi pernah mendapati fenomena Hilal yang mendadak terlihat sangat jelas menggunakan mata telanjang setelah awan terbuka. Momen pengamatan di lapangan tersebut memberikan kesan mendalam sekaligus menjadi pengalaman edukasi sains yang sangat berharga bagi anggota.
Seorang pendengar setia siaran RRI dari Yogyakarta bernama Haris sempat menanyakan kepastian patokan jadwal waktu untuk buka puasa. Penentuan jadwal Imsak harian tetap mengacu pada pergerakan posisi Matahari lokal, bukan pada pergeseran bulanan dalam kalender Hijriah.
Ziven menegaskan bahwa perbedaan pandangan penetapan hari besar merupakan bentuk dinamika ilmu pengetahuan yang patut kita hargai bersama. Keragaman metode perhitungan astronomi justru memperkaya wawasan sains masyarakat tanpa perlu memicu timbulnya perselisihan di tengah umat beragama.
Saat ini Komunitas Astronomi Sumbar tengah sibuk mengurus legalitas badan hukum resmi guna memperluas jangkauan kegiatan edukasi publik. Masyarakat umum dapat menyimak beragam informasi agenda pengamatan benda langit lewat unggahan terbaru akun Instagram resmi milik komunitas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....