UNP Perkuat Kompetensi Sosial Emosi menuju Sekolah Percontohan Anti Perundungan
- 19 Agt 2026 09:28 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Penguatan kompetensi sosial emosional guru menjadi salah satu peran strategis yang bisa mencegah perundungan di sekolah. Upaya dimaksud menjadi langkah yang diperlukan selain penerapan aturan dan sanksi. Menindaklanjuti hal tersebut, tim dosen Universitas Negeri Padang (UNP) melaksanakan pelatihan bertajuk Penguatan Kompetensi Sosial Emosional Guru sebagai Strategi Pencegahan Perundungan Menuju Sekolah Percontohan Anti-Perundungan di SD Pembangunan Laboratorium UNP.
Pelatihan yang merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dimaksud dilaksanakan dalam tiga pertemuan pada 17, 24, dan 31 Agustus 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas guru dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan.
Kegiatan PKM ini diketuai oleh Dr. Leni Zahara, M.P., dengan anggota tim Yesi Anita, M.Pd.; Anisa Yudita, S.Pd., M.Pd.; dan Arinda Frismelly, S.Pd., M.Pd.T. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Nurul Husna Zakiyah dan Azizah Gusdelia, serta Yasmadewi, S.Pd. sebagai anggota mitra dari SD Pembangunan Laboratorium UNP.
Seluruh dosen yang tergabung dalam tim pengabdian turut menjadi pemateri dalam rangkaian pelatihan. Untuk memperkuat substansi kegiatan, pelatihan ini juga menghadirkan Dr. Ary Kiswanto Kenedi, M.Pd. dari Universitas Samudra serta Adnan Arafani, M.Ed. Kons. dari Bimbingan dan Konseling UNP.
Menurut Dr. Leni Zahara, guru memiliki peran strategis dalam mengenali kondisi emosional peserta didik, membangun hubungan yang positif, mengelola konflik, serta menciptakan suasana belajar yang aman dan saling menghargai. Penguatan kompetensi sosial-emosional guru menjadi salah satu fondasi penting dalam pencegahan perundungan. “Guru perlu memiliki kemampuan untuk memahami emosi diri dan peserta didik, membangun komunikasi yang empatik, mengelola konflik, serta menciptakan interaksi yang sehat di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelatihan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai bentuk dan dampak perundungan, tetapi juga membekali guru dengan berbagai strategi praktis agar mampu melakukan pencegahan dan penanganan sejak dini. Harapannya, setelah mengikuti kegiatan ini para guru semakin peka terhadap perubahan perilaku peserta didik, mampu mengidentifikasi potensi perundungan, serta dapat mengambil langkah preventif maupun responsif secara tepat. “Tujuan akhirnya adalah membangun budaya sekolah yang aman, ramah anak, dan bebas dari perundungan,” ujarnya.
Kepala SD Pembangunan Laboratorium UNP, Yasmadewi, S.Pd., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, penguatan kompetensi sosial-emosional guru merupakan bagian penting dalam menciptakan iklim sekolah yang positif sekaligus mendukung perkembangan peserta didik secara utuh.
“Kami sangat mengapresiasi pelatihan yang dilaksanakan oleh tim dosen UNP bersama para narasumber. Pencegahan perundungan merupakan tanggung jawab bersama, dan guru menjadi salah satu pihak yang memiliki peran sangat penting karena berinteraksi langsung dengan peserta didik dalam kegiatan sehari-hari di sekolah,” kata Yasmadewi.
Ia berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan secara konsisten dalam proses pembelajaran maupun dalam interaksi sosial di lingkungan sekolah. “Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan saja, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah. Kami ingin seluruh warga sekolah memiliki kesadaran yang sama untuk saling menghargai, saling menjaga, dan tidak memberikan ruang bagi terjadinya perundungan. Dengan dukungan berbagai pihak, kami berharap SD Pembangunan Laboratorium UNP dapat berkembang menjadi sekolah percontohan anti-perundungan,” ujarnya.
Pelatihan yang berlangsung dalam tiga pertemuan tersebut memberikan penguatan kepada guru mengenai kompetensi sosial-emosional, pemahaman tentang perundungan, faktor risiko dan dampaknya terhadap perkembangan peserta didik, komunikasi empatik, pengelolaan emosi dan konflik, serta strategi membangun lingkungan sekolah yang aman dan positif. Kehadiran Adnan Arafani, M.Ed. Kons. dari BK UNP turut memperkuat perspektif bimbingan dan konseling, terutama dalam memahami kondisi psikologis dan sosial peserta didik serta strategi pendampingan yang dapat dilakukan guru.
Sementara itu, Dr. Ary Kiswanto Kenedi, M.Pd. dari Universitas Samudra, bersama seluruh dosen tim pengabdian, memberikan penguatan dalam pengembangan strategi pembelajaran dan budaya sekolah yang mendukung interaksi sosial yang sehat serta pencegahan berbagai bentuk perilaku perundungan.
Melalui kegiatan ini, guru diharapkan tidak hanya mampu merespons kasus perundungan ketika terjadi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk melakukan pencegahan melalui penguatan karakter, keteladanan, komunikasi positif, kepedulian, serta pengelolaan lingkungan pembelajaran yang kondusif. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam kegiatan ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang aman dan berpihak pada perkembangan peserta didik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....