Guru Bahasa Inggris dan Pokdarwis Dibekali Pembelajaran English For Tourism
- 21 Sep 2026 02:43 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Mendorong peningkatan kemampuan Bahasa Inggris Masyarakat, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Padang (UNP) melaksanakan kegiatan “Pelatihan Implementasi Pembelajaran Berdampak bagi Guru MGMP Bahasa Inggris SMP Kota Padang Panjang melalui Pendampingan English for Tourism kepada Pokdarwis” pada 7–8 Agustus 2026. Kegiatan ini mempertemukan dunia pendidikan dengan pengelola wisata lokal melalui kolaborasi antara guru MGMP Bahasa Inggris SMP Kota Padang Panjang dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kubu Gadang.
Kegiatan pengabdian diketuai oleh Elviza Yeni Putri, M.Pd., dengan anggota tim Marsika Sepyanda, M.Pd. dan Feriantano Sundang Pranata, S.Pd., M.Kom., serta melibatkan mahasiswa UNP. Mitra kegiatan adalah MGMP Bahasa Inggris SMP Kota Padang Panjang yang diketuai oleh Evi Fatri Yenti, S.Pd. dan Pokdarwis Kubu Gadang yang diketuai oleh Yulio Hasanoma. Program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan guru dalam mengembangkan pembelajaran Bahasa Inggris yang berdampak dan kontekstual sekaligus mendukung kemampuan komunikasi Bahasa Inggris masyarakat pengelola wisata. Sasaran tersebut sejalan dengan permasalahan dan tujuan yang dirumuskan dalam program pengabdian.
Guru Mengembangkan Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Potensi Wisata Lokal
Elviza Yeni mengatakan, kegiatan hari pertama dilaksanakan pada 7 Agustus 2026 di SMPN 1 Padang Panjang dan diikuti oleh 27 guru MGMP Bahasa Inggris SMP Kota Padang Panjang. Pelatihan difokuskan pada implementasi Pembelajaran Berdampak dengan menjadikan potensi wisata lokal sebagai konteks autentik dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
Pada sesi awal, Indra Saputra, M.Pd. memberikan materi mengenai Deep Learning melalui Pembelajaran Berdampak. Guru diperkenalkan pada bagaimana pembelajaran dapat dikembangkan secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan serta dihubungkan dengan konteks kehidupan nyata peserta didik. Materi kemudian dilanjutkan dengan penerapan Pembelajaran Berdampak dalam Bahasa Inggris melalui pendekatan English for Local Tourism. Rangkaian materi tersebut merupakan bagian utama agenda pelatihan guru pada hari pertama.
"Guru diajak melihat potensi Desa Wisata Kubu Gadang sebagai sumber belajar kontekstual. Potensi wisata lokal dapat dihubungkan dengan materi dan aktivitas Bahasa Inggris sehingga pembelajaran tidak hanya berorientasi pada materi di dalam kelas, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan lingkungan sosial, budaya, dan pariwisata yang dekat dengan peserta didik," ucap Elvisa, Senin, 21 September 2026.
Pada sesi berikutnya, Marsika Sepyanda, M.Pd. memberikan penguatan mengenai strategi pengembangan materi Pembelajaran Berdampak berbasis wisata lokal. Materi mencakup komunikasi Bahasa Inggris yang relevan dengan aktivitas pariwisata, seperti greeting visitors, welcoming tourists, introducing yourself, giving directions, offering help, dan berbagai ungkapan yang dapat digunakan dalam komunikasi dengan wisatawan.

Sementara itu, Elviza Yeni Putri, M.Pd. memandu peserta dalam menganalisis potensi dan hambatan penerapan pembelajaran berbasis wisata lokal dengan mempertimbangkan kondisi nyata pembelajaran di sekolah. Diskusi tersebut memberikan ruang bagi guru untuk menghubungkan konsep yang diperoleh dengan peluang implementasinya dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Agenda hari pertama memang dirancang untuk bergerak dari pemahaman konsep menuju strategi penerapan dan analisis kondisi implementasi.
Guru MGMP Mendampingi Pokdarwis Berlatih English for Tourism
Kegiatan dilanjutkan pada 8 Agustus 2026 di Desa Wisata Kubu Gadang dengan melibatkan 15 anggota Pokdarwis Kubu Gadang. Berbeda dengan hari pertama yang berfokus pada guru, hari kedua diarahkan pada pelatihan dan praktik English for Tourism bagi masyarakat pengelola wisata dengan melibatkan guru MGMP Bahasa Inggris dalam proses pendampingan.
Materi English for Tourism diberikan oleh Elviza Yeni Putri, M.Pd. dan difokuskan pada kemampuan komunikasi praktis yang dibutuhkan ketika berinteraksi dengan wisatawan. Peserta berlatih menggunakan Bahasa Inggris untuk menyambut wisatawan, memperkenalkan diri, memberikan petunjuk, menawarkan bantuan, serta menggunakan ungkapan sederhana dalam pelayanan wisata.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi “Describing Kubu Gadang in English”. Anggota Pokdarwis didampingi untuk menyampaikan berbagai potensi Kubu Gadang dalam Bahasa Inggris, mulai dari sejarah desa, Silek Lanyah, Rumah Gadang, kuliner, aktivitas wisata hingga nilai-nilai budaya lokal. Pada tahap ini, guru MGMP berperan langsung sebagai pendamping sehingga terjadi kolaborasi antara kompetensi Bahasa Inggris yang dimiliki guru dengan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat pengelola wisata.
Salah satu bagian yang mendapat keterlibatan tinggi dari peserta adalah praktik speaking melalui simulasi dan role play. Anggota Pokdarwis mempraktikkan berbagai situasi yang dapat ditemui ketika melayani wisatawan, seperti menyambut pengunjung, menjelaskan daya tarik wisata, menawarkan aktivitas atau paket wisata, menjawab pertanyaan, hingga menutup interaksi dengan wisatawan. Guru MGMP mendampingi peserta selama latihan dan membantu penggunaan ungkapan Bahasa Inggris sesuai dengan konteks komunikasi yang dipraktikkan. Rangkaian praktik tersebut merupakan bagian utama sesi pendampingan pada hari kedua.
Ketua Tim Pengabdian, Elviza Yeni Putri, M.Pd., menjelaskan bahwa program ini dirancang agar manfaat kegiatan dapat menjangkau dua kelompok sekaligus, yaitu guru Bahasa Inggris dan masyarakat pengelola wisata. “Melalui kegiatan ini, kami ingin pembelajaran Bahasa Inggris semakin dekat dengan kehidupan nyata. Guru dapat memanfaatkan potensi wisata lokal sebagai konteks pembelajaran, sementara anggota Pokdarwis memperoleh kesempatan untuk berlatih Bahasa Inggris yang sesuai dengan kebutuhan mereka dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan,” ujar Elviza.
Kegiatan mendapat respons positif dari peserta. Guru menilai penggunaan konteks wisata lokal relevan untuk memperkaya pembelajaran Bahasa Inggris, sementara anggota Pokdarwis merasakan bahwa materi English for Tourism berkaitan langsung dengan kebutuhan komunikasi yang mereka hadapi dalam aktivitas pariwisata. Antusiasme peserta terlihat melalui keterlibatan dalam diskusi, latihan, dan simulasi selama kegiatan berlangsung.

Kolaborasi antara MGMP Bahasa Inggris dan Pokdarwis menjadi salah satu karakter utama kegiatan ini. Guru tidak hanya memperoleh materi dalam ruang pelatihan, tetapi juga mendapatkan pengalaman menghubungkan pembelajaran Bahasa Inggris dengan konteks masyarakat. Sebaliknya, anggota Pokdarwis memperoleh pendampingan komunikasi Bahasa Inggris dari guru yang memahami aspek kebahasaan dan pembelajaran.
Setelah kegiatan tatap muka selesai, pendampingan tetap dilanjutkan melalui grup WhatsApp antara Tim Pengabdian dan peserta. Forum tersebut dimanfaatkan untuk mengecek progres, berdiskusi, dan mempertahankan komunikasi setelah kegiatan. Pendekatan ini sejalan dengan rancangan keberlanjutan program yang memasukkan forum komunikasi daring sebagai bagian dari tindak lanjut kegiatan.

Melalui program ini, Tim Pengabdian UNP berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, guru, dan masyarakat pengelola wisata dapat terus dikembangkan. Integrasi potensi wisata lokal dalam pembelajaran Bahasa Inggris diharapkan dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual bagi peserta didik, sementara penguatan English for Tourism dapat mendukung kesiapan Pokdarwis dalam memberikan informasi dan pelayanan kepada wisatawan. Kegiatan ini sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui penguatan kompetensi pendidikan, pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata, dan kolaborasi antara perguruan tinggi, guru, serta komunitas lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....