Kearifan Lokal Negeriku Membungkam Jejak Kapitalismu

  • 29 Sep 2026 19:09 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Laju kendaraan membelah riuk lalu lintas Kota Medan yang padat. Di balik kaca mobil layanan transportasi online yang kutumpangi untuk mengejar agenda dinas hari itu, tepatnya Senin, (10/8/2026), deretan bangunan beton dan pendar neon merah, kuning, serta biru melintas tanpa jeda.

Hampir di setiap simpang dan sudut jalan, plang nama dua raksasa ritel nasional yakni Indomaret dan Alfamart berdiri tegak, mengepung ruang-ruang hidup warga kota. Perjalanan itu mulanya mengalir biasa, hingga sang pengemudi membuka percakapan ringan melalui cermin tengah.

"Ibu dari mana? Kelihatannya bukan orang sini. Ada tugas di Medan?" tanyanya ramah.

"Dari Padang, Pak. Ada agenda dinas beberapa hari di sini," jawabku singkat sembari mengangguk.

Mendengar kata Padang, pria berkulit sawo matang yang kuperkirakan berumur 40 tahunan mendadak menghentikan pandangannya sejenak ke spion. Senyum tipis mengembang di wajahnya yang tampak sedikit lelah.

“Orang Minang itu hebat, Bu. Berpendirian teguh,” cetusnya dengan nada tegas.

Beberapa kali ia menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Mana berani Indomaret atau Alfamart bercokol di tanah Minang? Jauh beda dengan kota saya ini, Bu. Sudah berderai air mata kami di sini. Pribumi makin terpinggirkan. Cobalah ibu lihat sepanjang jalanan kota yang kita lalui. Tak satu bangunan-bangunan itu milik pribumi. Ekonomi dikendalikan oleh kapitalis. Mereka berkuasa dan di sini pribumi hanya para pekerja yang digaji,” urainya.

Sentilan jujur dari balik kemudi itu seketika menghantam kesadaranku. Kalimat sederhana dari seorang pengemudi yang setiap hari bergulat dengan kerasnya jalanan Kota Medan membuka mata dan telingaku.

Ketidakhadiran ritel berjejaring raksasa di kotaku selama ini kuanggap hal yang biasa. Namun hal yang luar biasa di mata orang luar yang setiap harinya merasakan langsung himpitan modal raksasa yang membekukan usaha saudara-saudaranya. Satu hal besar yang kusadari, Tanah Minang sedang mempraktikkan prinsipnya secara terhormat.

Gelombang Invasi yang Selalu Kandas di Pintu Gerbang

Ketidakhadiran Alfamart dan Indomaret di Sumatera Barat sejatinya bukanlah cerita tanpa dinamika. Sejarah mencatat, berkali-kali gurita ritel modern ini mencoba menembus dan menancapkan kukunya di bumi Minangkabau.

Beberapa tahun silam, publik Sumbar sempat dihebohkan oleh manuver halus mereka yang mencoba masuk menggunakan nama lokal atau bekerja sama dengan mitramitra daerah. Gerai-gerai yang tadinya berwajah lokal perlahan-lahan memperlihatkan pola distribusi dan tata letak khas ritel raksasa nasional.

Namun, propaganda dan diplomasi modal itu selalu berakhir pada catatan kegagalan yang sama. Gelombang penolakan dari asosiasi pedagang, niniak mamak, hingga ketegasan pemerintah daerah secara konsisten menutup rapat pintu izin operasional mereka. Setiap kali kapitalisme mencoba menyelinap melalui celah sempit, tembok kearifan lokal Sumatera Barat selalu berdiri lebih kokoh untuk memulangkannya.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah secara konsisten menegaskan, kebijakan yang ditempuh bukanlah bentuk ketakutan terhadap persaingan pasar, melainkan komitmen konstitusional untuk melindungi napas hidup pedagang kecil.

Pernyataan sikap Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah terhadap ritel modern raksasa yang memupus usaha pedagang kecil.

“Kita bukannya anti-investasi. Namun, investasi yang masuk ke Sumatera Barat haruslah yang menguatkan, bukan yang mematikan UMKM lokal. Jika ritel berjejaring skala besar diizinkan masuk hingga ke nagari-nagari, ribuan kedai kelontong dan pedagang kecil akan gulung tikar. Kita ingin ekonomi Sumbar tumbuh dari akar rumput, di mana perputaran uangnya dinikmati langsung oleh masyarakat daerah,” ujar Mahyeldi dalam sebuah kesempatan.

Mesin Penyedot Modal vs Pancuran Air Nagari

Hal mendasar yang sering tidak disadari saat seseorang saat berbelanja di ritel berjejaring raksasa adalah ke mana perginya lembaran uang kertas yang berpindah tangan di meja kasir.

Dalam perbincangannya dengan RRI, Pengamat Ekonomi dari Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Yasri membedah secara mendalam dampak sistemik hadirnya ritel berjejaring terhadap struktur ekonomi daerah. Dari kacamata akademis, keteguhan Sumatera Barat membendung korporasi ritel nasional adalah sebuah keputusan rasional demi mencegah kebocoran ekonomi.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Yasri menilai perlu langkah antisipasi mencegah kebocoran ekonomi yang disebabkan ritel berjejaring raksasa.

“Dalam skema waralaba nasional, rupiah yang bergulir ke meja kasir berpendingin udara akan tersedot secara otomatis melalui jaringan sistem perbankan menuju rekening korporasi pusat di Jakarta pada hari yang sama. Ritel raksasa ibarat mesin penyedot air berkapasitas besar. Ia mengambil potensi ekonomi dari akar rumput daerah dan mengalirkannya keluar tanpa sisa. Sebaliknya, kedai tradisional di nagari berfungsi seperti pancuran air yang memutar kesejahteraan di dalam kolamnya sendiri,” jelas Prof. Yasri.

Ketika warga di nagari membeli beras, sebungkus garam atau kopi di kedai tetangganya, uang itu tidak terbang ke Jakarta. Uang itu tetap berputar di dalam nagari. Pemilik kedai menggunakan keuntungan itu untuk membayar sekolah anaknya, membeli sayur dari pedagang pasar lokal, atau menyumbang kas untuk pembangunan mesjid.

Lapau Nagari, Ruang Kemanusiaan yang Tak Bisa Dibeli Triliunan Rupiah

Lebih dari sekadar hitung-hitungan Ekonometri dan angka-angka statistik, ada harga diri kebudayaan dan nilai sosial yang sedang dipertahankan di balik pintu-pintu kedai tradisional Minangkabau.

Di ritel modern, transaksi berlangsung dingin dan serba otomatis. Pembeli datang, mengambil barang dari rak kaca, membayar ke kasir yang tersenyum formal, lalu pergi tanpa sapaan emosional. Hubungan antarmanusia direduksi semata-mata menjadi transaksi finansial.

Namun di lapau Minang, transaksi jual-beli hanyalah pintu masuk dari sebuah interaksi yang hangat. Lapau adalah jantung kehidupan sosial nagari. Di atas meja kayu yang sederhana, di antara seduhan kopi dan aroma teh hangat, warga duduk sejajar untuk maota. Berdiskusi tentang harga pupuk, berita nagari, hingga merencanakan gotong royong.

Lapau nagari yang sejauh ini tetap bertahan di Ranah Minang.

Senada dengan apa yang dismpaikan Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Prof. Dr. Ir. Fauzi Bahar. Menurutnya Fauzi, lapau adalah benteng terakhir pertahanan tatanan adat dan sosial Minangkabau yang tidak boleh digantikan oleh mesin kasir otomatis.

“Lapau di Minangkabau itu bukan sekadar tempat bertukarnya uang dan barang harian. Lapau adalah ruang silaturahmi, tempat niniak mamak, kaciak, dan mudo bermusyawarah, bertukar warta, serta merawat rasa kepedulian. Di lapau ada empati; ada catatan utang di buku lusuh pemilik kedai yang menyelamatkan dapur warga saat tertimpa musibah. Bisakah kasir otomatis ritel triliunan rupiah memberikan tenggat pembayaran atas dasar kekerabatan dan empati seperti itu? Tidak akan pernah! Jika lapau mati digantikan minimarket modern, maka hilanglah salah satu pilar kebersamaan nagari kita," ungkap Prof. Fauzi Bahar dengan nada tegas.

Marwah yang Tetap Terjaga

Perjalanan dinas ke Medan hari itu memberikan oleh-oleh berharga, melebihi Bika Ambon yang kubawa pulang sebagai buah tangan. Rasa bangga membuncah di rongga dada.

Keberanian Sumatera Barat membentengi ekonominya dari gempuran waralaba raksasa bukanlah bentuk sikap anti terhadap kemajuan, melainkan sebuah pernyataan politik-ekonomi yang matan dan dewasa. Pembangunan tidak harus mengorbankan pedagang kecil, dan modernisasi tidak wajib merobohkan warung-warung tetangga.

Di saat daerah lain pasrah menyaksikan pedagang-pedagang kecil gulung tikar satu per satu tergilas modal besar, Tanah Minang berdiri tegak membuktikan kearifan lokal, ketegasan sang pemimpin, dan kepedulian negara bisa hadir sebagai perisai yang tangguh. Di tanah Minang, kapitalisme raksasa harus bungkam dan berlutut pada kesepakatan adat serta marwah ekonomi rakyat.

Beberapa hari setelah menjalankan tugas kedinasan di Kota Medan, kakiku kembali menginjak bumi Minangkabau. Sepanjang perjalanan pulang dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menuju rumah, aku menyaksikan dengan bangga kedai-kedai kayu sederhana milik warga yang masih berdiri kokoh melayani para pembeli. Aku menatapnya dengan dada tegak. Di balik meja lapau bersahaja itu, harga diri dan kedaulatan bangsaku sedang dipertahankan dengan sangat terhormat.

(Catatan Perjalanan dari Medan ke Ranah Minang tentang Meja Lapau dan Marwah Ekonomi Rakyat yang Tak Boleh Tergusur)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....