Titik Nadir JKN di Ranah Minang saat Negara Menjemput Nyawa demi Merawat Sesama

  • 31 Jul 2026 13:15 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Di balik megahnya Rumah Gadang dan lezatnya masakan Rendang, ada realita pahit yang kerap menghantam. Sakit keras bukan lagi sekadar cobaan hidup, melainkan ancaman kebangkrutan sebuah keluarga.

SUTAN: (Nada gelisah, logat Minang kental) Mak, jujur denai ko sabananyo bukan takuik mati, tapi takuik masuak rumah sakiek! Kabanyo, alun lamo ko tetangga di subalah rumah awak tapaso manggadaikan tanah pusakonyo ka untuak barubek operasi jantuang di rumah sakiek. Alangkah baiaknyo, denai ko mati saja daripado manyusahan dunsanak sakaum. (Emak, jujur sebenarnya saya bukan takut mati, tapi takut masuk rumah sakit! Kabarnya, belum lama ini, tetangga di sebelah rumah kita terpaksa menggadaikan tanah pusakanya untuk membayar biaya operasi jantung di rumah sakit. Alangkah baiknya saya mati saja daripada menyusahkan sanak saudara dalam kaum).

UMAK: (Menatap tajam, bersidekap) Jan lah Sutan mangecek mode tu bana! Ingek Sutan, itu namonyo kalah sabalum baparang. Di Minangkabau ko, kito indak bajalan surang. Dari dulu, urang awak bapadoman kapado adaik: Barek Samo Dipikua, Ringan Samo Dijinjiang. Sutan bantuaknyo alah lupo bahasonyo di zaman kini ko, gotong royong nan paralu dipakuek. Pado intinyo, negara alah turun tangan maagiah jalan kapado masyarakatnyo. (Janganlah Sutan berbicara seperti itu! Ingek Sutan, tu namanya kalah sebelum berperang. Di Minangkabau, kita berjalan tidaklah sendirian. Dari dulu kita berpedoman pada adat: Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing. Pada intinya, negara sudah turun tangan memberi jalan kepada masyarakatnya).

Di Ranah Minang, hidup diukur dari seberapa jauh kaki melangkah di rantau dan seberapa banyak bakti ditanam di kampung halaman. Namun, di balik itu semua, tersimpan satu ketakutan purba yang tak pernah sanggup disembunyikan, yakni hantaman bencana kesehatan.

Nilai luhur masyarakat Minangkabau sejatinya telah lama mengajarkan mitigasi kolektif. Lantas, bagaimana tradisi saiyo sakato ini bertransformasi di era modern? Berikut kita dengarkan penuturan Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Prof. Fauzi Bahar.

“Di sinilah titik temu yang luar biasa. Semangat saiyo sakato yang diwariskan para leluhur kini menemukan bentuk tertingginya dalam skala nasional melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS Kesehatan. Melalui JKN, esensi gotong royong bertransformasi. Yang sehat menanggung yang sakit, yang berpunya menyubsidi yang kurang beruntung untuk memastikan bahwa tidak ada satupun anak nagari yang harus mengorbankan tanah pusaka atau kehilangan martabatnya hanya karena jatuh sakit. Inilah wujud agung ketika kearifan lokal bertemu dengan kehadiran negara: merawat raga, menjaga asa dan melestarikan jiwa gotong royong dalam dekapan jaminan sosial yang sejati” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan, JKN bukanlah sekadar produk birokrasi.

SUTAN: (Perasaan takjub saat melihat layar ponselnya) Jadi iko nan Amak mukasuid tadi? Jo aplikasi Mobile JKN nan ado di layar HP denai ko, pendaftaran indak paralu antre subuh-subuh lai? Indak paralu pulo manggadaikan tanah pusako ka untuak barubek ka rumah sakiek? Ondeh mande, iyo sabana sero pelayanan kesehatan nan disadiokan dek negara ko! (Jadi ini yang Emak maksudkan tadi? Dengan menggunakan aplikasi Mobile JKN yang ada di layar HP saya ini, kita tidak perlu antre subuh-subuh lagi?Tidak perlu pula menggadaikan tanah pusaka untuk berobat ke rumah sakit? Ternyata layanan kesehatan yang disediakan negara sangatlah baik dan membantu)

Transformasi layanan ini pun dikonfirmasi langsung kepada pihak penyelenggara, demi memastikan tidak ada lagi warga yang terabaikan karena hambatan administratif. Berikut penegasan yang disampaikan Kepala RST Tingkat III DR. Reksodiwiryo Padang, Hasnita.

"Kami terus berkomitmen memangkas birokrasi melalui digitalisasi. Lewat aplikasi Mobile JKN, peserta dapat mengakses layanan tanpa harus antre di kantor cabang. Komitmen kami jelas: memberikan kepastian jaminan kesehatan yang mudah, cepat dan setara bagi seluruh masyarakat, termasuk di wilayah Sumatra Barat,” papar Hasnita.

Di tengah himpitan ekonomi yang kian menantang, negara hadir sebagai perisai pelindung yang memastikan warganya tidak perlu memilih antara membeli sebutir obat atau bertahan hidup; ketegasan Menteri Keuangan RI, Purbaya yang melarang segala bentuk kenaikan atau utak-atik iuran BPJS Kesehatan adalah wujud nyata keberpihakan mutlak negara.

“Sampai tahun depan sepertinya belum, sampai pertengahan tahun depan ya. Kita lihat gini, kalau untuk utak atik iuran, itu kita lihat kondisi masyarakat dulu, kalau ekonominya agak bagus baru mereka boleh utak atik iuran,” pangkas Purbaya.

Demikian Feature Produksi Radio Republik Indonesia, Titik Nadir JKN di Ranah Minang Saat Negara Menjemput Nyawa demi Merawat Sesama.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....