Kepak Sayap JNE di Bilik Tenun: Menyulut Denyut Koto Gadang ke Panggung Kolombo

  • 15 Jun 2026 19:50 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang — Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung rendah di langit Koto Gadang, Kabupaten Agam, saat langkah kakiku berhenti di depan sebuah bangunan tua yang kokoh. Di papan kayu itu tertulis sebuah nama yang menggetarkan dada para perawat sejarah: Yayasan Amai Setia, yang didirikan pada tahun 1911 oleh pahlawan nasional perempuan, Roehana Koeddoes. Di sinilah bermula kisah tentang selembar benang emas, bersenyawa dengan heroisme logistik modern yang bergerak menggunakan hati untuk merajut marwah budaya bangsa di panggung dunia.

Dari ruang sunyi yang dikepung pekat perbukitan Sumatera ini, suara ritmis alat tenun tradisional (kayu panta) yang setia mendendangkan nyanyian peradaban seabad silam. Di sini, selembar Songket Koto Gadang ditenun dengan jemari penuh cinta. Lembaran kain ini tak lagi sekadar dipersiapkan untuk pasar lokal, namun siap melintasi Selat Malaka demi memenuhi takdir sakral pernikahan anak rantau di Kuala Lumpur, Malaysia.

Lewat dekapan erat sabuk logistik JNE, mahakarya bernilai tinggi ini diterbangkan menembus batas negara, bahkan mengepak jauh hingga lintas benua. Selembar benang emas nyatanya mampu merajut urat rindu insan berbeda bangsa. Semuanya terungkap secara benderang dalam sepenggal kisah perjalanan jurnalistik penulis (Sri Darni) ke Kolombo, Sri Lanka.

Perjalanan jurnalistik penulis di Kolombo, Sri Lanka saat menggali ruang kolaborasi kebudayaan antar dunia dalam sebuah sesi wawancara dengan Duta Besar RI (Dewi Gustina Tobing). Narasi perdamaian yang bersenyawa dengan heroisme logistik modern demi merajut persaudaraan lintas benua. (Foto: RRI/Sri Darni).
Perjalanan jurnalistik penulis di Kolombo, Sri Lanka saat menggali ruang kolaborasi kebudayaan antar dunia dalam sebuah sesi wawancara dengan Duta Besar RI (Dewi Gustina Tobing). Narasi perdamaian yang bersenyawa dengan heroisme logistik modern demi merajut persaudaraan lintas benua. (Foto: RRI/Sri Darni).

Memasarkan Songket Koto Gadang ke pasar internasional jelas bukan perkara mudah seperti mengirim komoditas pabrikan yang massal dan kaku. Kain ini bernyawa; ia menyimpan helai-helai kelembutan yang sangat sensitif. Salah cara melipat, sedikit saja terpapar kelembapan udara yang buruk selama perjalanan lintas samudra, atau terselip di bawah tumpukan beban berat kargo, struktur benang emasnya yang rapuh bisa patah seketika. Bagi Yayasan Amai Setia, melepaskan kain ini menyeberangi lautan adalah pertaruhan atas sebuah kehormatan.

“Makanya setiap kali membungkus songket ke dalam kotak pengiriman, jantung selalu berdebar. Rusak sedikit saja di jalan, runtuh marwah yang selama ini kami jaga nilainya," ungkap Rina, admin sekaligus agen JNE di Kota Padang kepada RRI, Sabtu, 13 Juni 2026.

Catatan dari sudut loket JNE di Padang, Sumatera Barat yang merekam momen bincang santai penulis (Sri Darni) dengan petugas tentang arti sebuah kepercayaan dan tanggung jawab menjaga amanah. (Foto: RRI/Sri Darni).

Di titik rawan itulah, JNE hadir mengambil peran sebagai penjaga amanah. Lewat jemari para kurir, lahir sebuah SOP tak tertulis yang melampaui aturan baku perusahaan. Sebuah prosedur yang dibasuh oleh kearifan lokal untuk memastikan lembaran sutra berlapis emas itu tidak diposisikan sebagai "barang paket", melainkan entitas budaya yang harus dilindungi.

JNE tidak semata memindahkan materi mati dari satu resi ke resi lainnya. Di atas jok motor dan di dalam lambung kargo udara, para kurir sejatinya sedang menggendong kehormatan budaya dengan penuh takzim.

JNE International: Merajut Kembali Urat Rindu

Hubungan kultural antara Ranah Minang dan Semenanjung Malaya telah mengakar sejak berabad-abad lalu melalui jalur migrasi dan kekerabatan badunsanak (bersaudara). Bagi masyarakat keturunan Minang di Malaysia atau Singapura, Songket Koto Gadang adalah simbol status, legitimasi adat, dan pengikat rindu yang mahadahsyat pada tanah leluhur.

Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu menegaskan, betapa krusialnya peran logistik modern dalam menjaga denyut nadi tradisi ini agar tetap melintasi batas negara tanpa kehilangan kesucian nilainya.

“Songket Koto Gadang yang melintasi Selat Malaka menggunakan layanan JNE International bukan sekadar pengiriman barang dagangan. Bagi kami di Yayasan Amai Setia, ini adalah perjalanan merawat kekerabatan lintas negara. Kain ini membawa identitas dan kehormatan adat. Lewat penanganan JNE yang andal dan aman, mahakarya para perempuan Koto Gadang bisa mendarat di Malaysia atau Singapura dalam kondisi sesempurna saat ia baru dilepas dari alat tenunnya. JNE telah menjadi urat nadi yang menghubungkan kembali rasa persaudaraan lama kita di tanah seberang,” papar Trini Tambu, Kamis, 11 Juni 2026.

Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu (selendang kuning) bersama para pengurus.

Melalui jaringan internasionalnya, JNE mengambil peran penting dalam mengelola rantai pasok rasa. Ketika kurir JNE International mengetuk pintu rumah pemesan di Malaysia dan menyerahkan paket tersebut dalam kondisi utuh tanpa cela, saat itulah JNE tidak sekadar mengantar barang. Mereka sedang menyatukan kembali dua hati dari dua negara yang dipisahkan lautan, namun ditenun oleh sepotong cinta yang sama.

Dari Koto Gadang Menyeberang ke Kolombo: Kesaksian dari Sri Lanka

Kepakan sayap logistik berhati ini ternyata terbang jauh lebih tinggi, melintasi Samudra Hindia hingga berlabuh di jantung Asia Selatan. Jika di Koto Gadang JNE menjaga marwah selembar kain songket, di Kolombo, Sri Lanka, JNE menjelma menjadi penopang megahnya panggung diplomasi budaya Nusantara.

Kesaksian humanis datang dari Muhammad Febrian, seorang pelatih tari Nusantara yang mendedikasikan hidupnya untuk memperkenalkan keindahan gerak etnik Indonesia di Kolombo. Di tanah rantau yang jauh dari pelukan ibu pertiwi, lulusan ISI Yogyakarta ini kerap kali dihadapkan pada tantangan besar. Bagaimana menghadirkan jiwa Indonesia secara utuh dalam setiap pertunjukan jika ragam busananya didatangkan dari tanah air. Kembali, JNE International menuliskan cerita heroisme logistiknya dengan cara yang lebih santun.

“Pagelaran seni budaya Nusantara di Kolombo seringkali menitipkan harapannya pada ketepatan dan ketulusan layanan JNE. Bayangkan, busana-busana adat dari 38 provinsi di Indonesia dengan segala kerumitan payet, mahkota yang begitu rapuh, hingga helaian kain tenun yang sarat makna diterbangkan melintasi samudra demi sepotong panggung diplomasi,” ungkap Muhammad Febrian dengan mata berbinar.

Menghadirkan jiwa Indonesia secara utuh melalui kostum adat nusantara bagi Muhammad Febrian (tengah) sebuah ikhtiar suci yang menitipkan harapannya pada ketepatan layanan logistik bertaraf internasional. (Foto: RRI/Sri Darni).

Bagi Febrian, JNE bukan lagi sekadar entitas bisnis pengirim barang. Di tanah rantau yang jauh, kehadiran kurir internasional ini dirasakannya sebagai jembatan rasa yang sunyi namun kokoh.

“Di sini kami melihat, JNE mengambil peran yang sangat sakral sebagai penyambung lidah budaya antar dunia. Ketika busana etnik dari ujung Sumatera hingga Papua bisa kami kenakan dalam kondisi utuh tanpa cela, saat itulah dunia tidak hanya melihat indahnya gerak tari kami, tetapi juga merasakan kehangatan dan pesan damai yang dikirimkan langsung dari rahim Ibu Pertiwi,” pungkasnya lembut.

Melalui jemari para penenun Koto Gadang dan gerak tari anak-anak bangsa di Kolombo, kita disadarkan pada sebuah hakikat yang lebih besar. Seni dan budaya adalah bahasa universal yang paling ampuh untuk merajut perdamaian dunia.

Di balik layar-layar megah diplomasi itu, JNE bergerak layaknya sayap merpati. Ia tidak membawa pesan perang, melainkan membawa jubah-jubah perdamaian antar bangsa. Setiap kepakan sayap kargonya adalah ikhtiar untuk mengantarkan kisah persaudaraan, merawat silaturahmi lintas negara, dan memastikan pesan-pesan damai dari kebudayaan Nusantara dapat mengetuk pintu-pintu hati masyarakat dunia.

Buah Manis Komitmen Keberlanjutan di Tingkat Nasional

Jejak kemanusiaan, pelestarian budaya, hingga misi perdamaian yang merentang dari sudut Koto Gadang sampai panggung Kolombo ini akhirnya berbuah manis di panggung nasional. Komitmen JNE dalam merawat kemanusiaan dan keberlanjutan kembali menuai apresiasi tertinggi.

Dalam ajang Indonesia Corporate Social and Environmental Responsibility (CSR) Awards 2026 yang digagas Warta Ekonomi dengan tema “Recognizing Impact, Inspiring Sustainable Change”, JNE dinobatkan sebagai penerima:

“The Best Corporate Social Responsibility Award 2026 of Dedicated Humanitarian Action and Accessible Emergency Healthcare Services for Communities” untuk kategori Logistik dan Kurir.

Merespons pencapaian bernilai ini, Senior Vice President Marketing Group Head JNE, Eri Palgunadi menyampaikan apresiasinya kepada seluruh elemen yang bergerak bersama perusahaan.

Senior Vice President Marketing Group Head JNE, Eri Palgunadi saat menerima penghargaan.

“Penghargaan ini kami dedikasikan untuk seluruh karyawan, mitra dan masyarakat yang telah berjalan beriringan bersama JNE. Semangat ‘Connecting Happiness’ bukan sekadar slogan, melainkan komitmen kami untuk terus mengalirkan dampak positif yang berkelanjutan,” ungkap Eri hangat, Sabtu (6/6/2026).

Sabuk Pengikat Peradaban

Sore mulai beringsut di Koto Gadang saat penulis bersiap pamit dari Yayasan Amai Setia. Di luar bangunan, seorang kurir JNE dengan seragam khasnya tampak mengikat sebuah kotak dengan sangat hati-hati di atas motornya, bersiap membawa sepotong karya Roehana Koeddoes menembus awan menuju seberang selat.

Di usia JNE yang terus matang, perannya telah berevolusi menjadi sangat humanis. Lewat bait-bait benang Songket Koto Gadang hingga kibasan 38 busana adat di Kolombo, Sri Lanka, kita melihat wajah JNE yang sesungguhnya: bukan sekadar mesin pengirim barang, melainkan kelanjutan dari "Sabuk Pengikat Peradaban".

Sebuah sabuk yang ditenun dari masa lalu oleh Roehana Koeddoes, dirawat dengan air mata dan cinta oleh Yayasan Amai Setia, dihidupkan di panggung dunia oleh para penggerak seperti Muhammad Febrian, dan kini diterbangkan oleh sayap-sayap merpati JNE ke angkasa luas.

Penghargaan CSR Awards 2026 yang mereka terima minggu ini adalah bukti sah dari sebuah pemikiran luhur, ketika sebuah bisnis dijalankan dengan hati, ia tidak hanya mengantar paket, tetapi juga merajut martabat bangsa dan menebarkan damai di panggung dunia.

Peradaban budaya antar bangsa tidak datang dengan sendirinya. Ada kepak sayap si penjaga amanah (JNE) yang ikut berperan dalam panggung budaya dunia. Sesi foto Muhammad Febrian bersama para penari asal Sri Lanka. (Foto: RRI/Sri Darni).

Bisikan lirih Muhammad Febrian dari sudut Kota Kolombo masih terngiang di telinga penulis saat perjalanan pulang melintasi perbukitan Agam.

“JNE tidak sedang memindahkan materi dari satu titik koordinat ke titik lainnya. Mereka sedang menerbangkan doa-doa perdamaian dari rahim Ibu Pertiwi. Selama sayap merpati itu tetap mengepak, kami yang berada di tanah rantau tahu, bahwa kami tidak pernah berjalan sendirian menjaga marwah bangsa ini,” ungkapnya manis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....