Memastikan Sistem Keselamatan Laut Bekerja sebelum Kecelakaan Terjadi
- 20 Sep 2026 17:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, diperpanjang selama tujuh hari ke depan.
- Basarnas mencatat sebanyak 126 orang masih dalam pencarian dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes KM Virgo.
- Surat Persetujuan Berlayar harus menjadi instrumen keselamatan, bukan sekadar formalitas di pelabuhan.
OPERASI pencarian korban KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, diperpanjang selama tujuh hari ke depan. Basarnas mencatat, hingga hari ketujuh pencarian, Sabtu 19 September 2026 malam, sebanyak 117 orang telah ditemukan.
Rinciannya, 108 orang selamat dan sembilan orang dinyatakan meninggal dunia. Sementara 126 orang lainnya masih dalam pencarian dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes.
Ketika operasi pencarian korban masih berlangsung, kini pertanyaan yang lebih besar juga muncul: Apakah sistem keselamatan transportasi laut selama ini sudah benar-benar bekerja untuk melindungi penumpang?
Kapal boleh memiliki sertifikat, manifes boleh tersedia, surat Persetujuan Berlayar bisa saja sudah terbit. Namun, semua dokumen itu pada akhirnya tidak berarti banyak jika sistem keselamatan gagal melindungi manusia ketika kapal menghadapi masalah di tengah laut.
Kecelakaan KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, kembali membuka pertanyaan tersebut. Kapal Ro-Ro yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin itu mengalami kecelakaan pada Minggu 13 September 2026 dini hari.
Kapal kemudian ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Masalembo. Kini, tujuh hari nerlali setelah kecelakaan, operasi pencarian belum juga berakhir, masih ada 126 orang yang belum ditemukan.
Basarnas pun memperpanjang operasi pencarian dan pertolongan selama tujuh hari ke depan. Pada saat yang sama, tim salvage yang dikoordinasikan pemilik kapal juga mulai membahas penanganan bangkai kapal.
Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo Nur Sasongko mengatakan operasi salvage kemungkinan membutuhkan waktu panjang. "Operasi salvage yang akan dilaksanakan mungkin membutuhkan waktu yang lama, tidak sesingkat yang kita bayangkan," ujar Yudhi di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Sabtu 19 September 2026 malam.
Namun, di tengah pencarian korban dan penanganan bangkai kapal, ada persoalan yang lebih besar yang tak boleh ikut tenggelam. Bagaimana memastikan sistem keselamatan laut bekerja sebelum kecelakaan terjadi?
|
Selanjutnya,
Bukan Sekadar Kapal Punya Surat
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....