Global Sumud Flotilla: Kesaksian WNI dari Penahanan Israel
- 26 Mei 2026 13:41 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Relawan Indonesia ungkap dugaan penyiksaan selama ditahan militer Israel dalam misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza.
- Pemerintah Indonesia lakukan diplomasi intensif hingga sembilan WNI peserta Global Sumud Flotilla berhasil dipulangkan.
- Relawan meminta dunia tetap fokus pada penderitaan rakyat Palestina meski mereka telah dibebaskan dari penahanan Israel.
Relawan asal Indonesia Herman Budianto menceritakan dugaan kekerasan selama penahanan oleh militer Israel terhadap peserta Global Sumud Flotilla. Herman menyebut banyak relawan mengalami luka berat sejak proses penangkapan hingga masa penahanan berlangsung.
“Banyak sekali yang mengalami cedera-cedera berat, rusuk patah. Ada sekitar 40 orang patah tangan, patah kaki, patah hidung, ada yang ditembak, dan seterusnya,” ujar Herman di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu 24 Mei 2026.
Menurut Herman, sejumlah relawan internasional mengalami cedera dengan tingkat keparahan berbeda selama berada dalam penahanan. Ia menyebut beberapa relawan mengalami patah tulang hingga luka akibat tindakan kekerasan fisik langsung.
“Bahwa memang penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh IDF itu nyata, sangat keji, sangat brutal. Dari mulai proses penculikan sampai dengan proses yang panjang, sekitar empat hari, melakukan penyiksaan-penyiksaan tadi,” ucapnya.

Selain mengalami kekerasan fisik, Herman menggambarkan kondisi penahanan yang menurutnya sangat tidak manusiawi. Ia mengatakan seluruh relawan diperlakukan secara ketat dalam kondisi fisik yang sudah sangat terbatas.
“Belum lagi hal-hal yang lain terkait dengan kondisi ketika kita ada di penjara dan seterusnya, diperlakukan seperti hewan. Kami harus berjalan dengan merangkak dengan lutut kami,” katanya.
Herman menyebut para relawan juga tidak diperbolehkan menatap langsung petugas selama menjalani masa penahanan. “Kami harus berjalan dengan selalu menunduk, tidak boleh menatap mereka,” ujarnya.
Kondisi tempat penahanan juga disebut sangat memprihatinkan. “Kami pun tidur di lantai yang tidak ada selimut, tidak ada, dalam kondisi basah dan baju basah,” ucap Herman.

Relawan lainnya, Rahendro Herubowo, juga mengungkapkan dugaan kekerasan fisik dan tekanan mental selama ditahan militer Israel. Menurutnya, tekanan mulai dialami para relawan sejak masih berada di atas kapal bantuan kemanusiaan.
“Setiap mereka melakukan sesuatu, mereka melempari kita granat kejut yang cukup keras,” ujar Heru. Ia mengatakan para relawan dipaksa berjalan dengan kepala menunduk saat dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain.
“Pada saat kita dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, kita harus nunduk dan tidak boleh angkat kepala sedikit pun. Angkat kepala sedikit, kita ditendang dan dipukul,” katanya.
Ia juga mengaku mengalami tindakan kekerasan langsung selama masa penahanan. “Saya sempat jatuh dan diinjak, saya juga sempat disetrum juga beberapa kali di bagian badan, kaki, dan punggung saya,” ujar Heru.
|
Selanjutnya,
Mogok Makan dan Perlawanan Para Relawan
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....