Global Sumud Flotilla: Kesaksian WNI dari Penahanan Israel

  • 26 Mei 2026 13:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Relawan Indonesia ungkap dugaan penyiksaan selama ditahan militer Israel dalam misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza.
  • Pemerintah Indonesia lakukan diplomasi intensif hingga sembilan WNI peserta Global Sumud Flotilla berhasil dipulangkan.
  • Relawan meminta dunia tetap fokus pada penderitaan rakyat Palestina meski mereka telah dibebaskan dari penahanan Israel.
Misi Kemanusiaan yang Berujung Penahanan

SUASANA haru menyelimuti Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta saat sembilan Warga Negara Indonesia relawan Global Sumud Flotilla tiba di Tanah Air, Minggu 24 Mei 2026 sore. Keluarga dan relawan kemanusiaan tampak langsung menyambut kedatangan mereka dengan pelukan dan tangis haru.

Area kedatangan internasional dipadati keluarga serta simpatisan Palestina yang membawa banner bertuliskan “Selamat Datang Pejuang Kemanusiaan”. Sejumlah bendera Palestina juga tampak berkibar di sekitar terminal bersama buket bunga putih dan poster dukungan untuk para relawan.

Beberapa anggota keluarga langsung menghampiri para relawan sambil memeluk dan menyalami mereka dengan emosional. Suasana penyambutan berlangsung hangat di tengah padatnya awak media dan relawan kemanusiaan yang hadir di lokasi.

Di sekitar area kedatangan, simpatisan Palestina turut berdiri bersama keluarga sambil membawa atribut solidaritas internasional bagi Gaza. Kehadiran mereka menambah suasana dukungan terhadap perjuangan para relawan selama menjalankan misi kemanusiaan tersebut.

Kepulangan para relawan menandai berakhirnya penahanan dramatis oleh militer Israel setelah kapal bantuan Global Sumud Flotilla dicegat di perairan internasional. Setelah melalui diplomasi intensif Pemerintah Indonesia dan dukungan internasional, seluruh relawan akhirnya dibebaskan dan dipulangkan.

Menlu RI, Sugiono saat dijumpai awak media di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, saat menyambut kepulangan sembilan WNI yang sebelumnya ditangkap oleh tentara Israel dalam misi Global Sumud Flotilla, Minggu 24 Mei 2026 (Foto: RRI/Zahfa Putri)
Internet Hilang, Ketegangan Dimulai

Sembilan Warga Negara Indonesia peserta misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla sebelumnya ditangkap tentara Israel saat membawa bantuan untuk warga sipil Gaza melalui jalur laut internasional. Selama beberapa hari terakhir, proses pembebasan hingga pemulangan mereka menjadi perhatian publik nasional maupun internasional.

Misi Global Sumud Flotilla 2.0 merupakan bagian dari gerakan solidaritas internasional untuk menembus blokade Gaza. Dalam rombongan itu, sembilan WNI terdiri dari aktivis kemanusiaan dan jurnalis yang bergabung bersama relawan berbagai negara.

Misi kemanusiaan tersebut melibatkan hampir 500 aktivis dari 45 negara di dunia. Seminggu sebelum insiden, lebih dari 50 kapal sipil dalam armada Global Sumud Flotilla bertolak dari pelabuhan Marmaris, Turki.

Pihak penyelenggara menegaskan pelayaran itu merupakan bagian akhir perjalanan menuju pesisir Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan warga Palestina. Di dalam kapal, para aktivis membawa logistik penting seperti makanan, susu formula bayi, dan bantuan medis.

Kementerian Luar Negeri RI kemudian mengecam tindakan militer Israel yang mencegat kapal-kapal dalam rombongan misi kemanusiaan internasional tersebut di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur. Insiden itu memicu kekhawatiran internasional karena melibatkan relawan sipil dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Juru Bicara Kementarian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang (tengah) saat konferensi pers, Kamis 30 April 2026 di Ruang Palapa, Jakarta (Foto: Dokumentasi/RRI/Retno Mandasari)

Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang mengatakan sedikitnya sepuluh kapal dikonfirmasi telah ditangkap. Beberapa kapal dalam rombongan tersebut di antaranya Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys.

“Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), di kapal Josef diinformasikan terdapat seorang WNI. Atas nama Andi Angga Prasadewa yang merupakan delegasi dari GPCI-Rumah Zakat,” kata Yvonne dalam keterangannya, Senin 18 Mei 2026 malam.

Selain itu, Kemlu RI juga terus mengupayakan komunikasi dengan kapal yang membawa jurnalis Republika, Bambang Noroyono. Pemerintah Indonesia mendesak Israel segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan.

Sejak awal, Kemlu RI melalui Direktorat Pelindungan WNI berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman untuk menyiapkan langkah antisipatif bagi para relawan Indonesia.

Detik-detik Kapal Dikuasai Militer Israel

Relawan kemanusiaan asal Indonesia, Andre Prasetyo Nugroho mengungkapkan kapal Global Sumud Flotilla kehilangan akses internet beberapa jam sebelum dicegat militer Israel. Akibatnya, para relawan tidak sempat mengirim dokumentasi lengkap saat proses penangkapan berlangsung di perairan internasional.

Andre mengatakan kapal yang ditumpanginya dicegat ketika rombongan tinggal sekitar 200 mil menuju wilayah Gaza. Penangkapan tersebut terjadi pada Senin 19 Mei 2026 sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

“Dua ratus mil lagi menuju Gaza terus abis itu udah langsung di intercept. Sebelum di intercept tiga jam itu Starlink kapal saya udah enggak bisa konek internet manapun,” ujar Andre di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu 24 Mei 2026.

Menurut Andre, hilangnya koneksi internet membuat para relawan kehilangan akses komunikasi dengan dunia luar. Kondisi tersebut juga menyebabkan rekaman penting mengenai detik-detik penangkapan tidak dapat dikirim keluar kapal.

Relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla asal Indonesia, Andre Prasetyo Nugroho saat diwawancarai awak media di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu 24 Mei 2026 sore (Foto: RRI/Zahfa Putri)

Sebelum komunikasi total diputus, dua jurnalis Indonesia sempat mengirimkan rekaman video pesan darurat atau Save Our Souls (SOS) sebagai bagian dari protokol keselamatan pelayaran GSF apabila sewaktu-waktu mereka ditangkap.

Bambang Noroyono dalam pesan videonya menyatakan:

“Saya Bambang Noroyono alias Abeng. Saya warga Indonesia. Saya adalah partisipan pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026. Saya mohon agar pemerintah Republik Indonesia membebaskan saya dari penculikan tentara penjajah Zionis Israel dan meminta Pemerintah Indonesia agar selalu mendukung kemerdekaan Palestina.”

Sementara itu, Andre Prasetyo Nugroho juga sempat mengirimkan video berdurasi 53 detik kepada tim GPCI sesaat sebelum dirinya ditahan. “Apabila kawan-kawan sudah menonton video ini, tandanya saya telah ditangkap oleh rezim Zionis Israel.”

Kesaksian Dugaan Kekerasan Fisik dan Penyiksaan

Satu jam sebelum melakukan tindakan fisik di laut, Kementerian Luar Negeri Israel sempat mengeluarkan peringatan keras melalui media sosial X. “Sekali lagi, sebuah provokasi demi provokasi: apa yang disebut 'armada bantuan kemanusiaan' lainnya tanpa ada bantuan kemanusiaan di dalamnya,” tulis Kementerian Luar Negeri Israel melalui akun resminya.

Pada Senin 18 Mei 2026 sekitar pukul 10.30 waktu Siprus, armada kapal sipil Global Sumud Flotilla mulai dikepung kapal perang Angkatan Laut Israel di perairan internasional sekitar 250 mil laut dari Gaza. Siaran langsung video dari situs resmi GSF memperlihatkan detik-detik mencekam ketika pasukan komando Israel dengan perlengkapan taktis lengkap mendekati kapal peserta menggunakan kapal penyerbu cepat.

Perwakilan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Ahmad Juwaini (kedua dari kiri) dan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid dalam pertemuan di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa 19 Mei 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

Dalam video tersebut, para relawan terlihat mengenakan rompi pelampung dan mengangkat tangan saat militer Israel mendekat. Pasukan bersenjata kemudian menaiki kapal pertama di siang bolong.

Bersamaan dengan aksi pengambilalihan kapal tersebut, siaran langsung komunikasi para aktivis mendadak terputus. “Kapal-kapal militer saat ini sedang mencegat armada kami dan pasukan (Israel) menaiki kapal pertama kami di siang bolong,” tulis pihak penyelenggara GSF dalam pernyataan resminya.

“Kami menuntut jalur aman untuk misi kemanusiaan kami yang sah dan non-kekerasan. Pemerintah harus bertindak sekarang untuk menghentikan tindakan ilegal atau pembajakan ini yang dimaksudkan untuk mempertahankan pengepungan genosida Israel di Gaza.”

Hingga Senin sore, pihak penyelenggara menyebut sedikitnya 16 kapal telah dicegat dan ditangkap oleh pasukan Israel di kawasan Mediterania Timur.

Mogok Makan dan Perlawanan Para Relawan

Relawan asal Indonesia Herman Budianto menceritakan dugaan kekerasan selama penahanan oleh militer Israel terhadap peserta Global Sumud Flotilla. Herman menyebut banyak relawan mengalami luka berat sejak proses penangkapan hingga masa penahanan berlangsung.

“Banyak sekali yang mengalami cedera-cedera berat, rusuk patah. Ada sekitar 40 orang patah tangan, patah kaki, patah hidung, ada yang ditembak, dan seterusnya,” ujar Herman di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu 24 Mei 2026.

Menurut Herman, sejumlah relawan internasional mengalami cedera dengan tingkat keparahan berbeda selama berada dalam penahanan. Ia menyebut beberapa relawan mengalami patah tulang hingga luka akibat tindakan kekerasan fisik langsung.

“Bahwa memang penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh IDF itu nyata, sangat keji, sangat brutal. Dari mulai proses penculikan sampai dengan proses yang panjang, sekitar empat hari, melakukan penyiksaan-penyiksaan tadi,” ucapnya.

Relawan asal Indonesia, Herman Budianto (berbicara di mikrofon) saat menceritakan dugaan penyiksaan selama penahanan oleh militer Israel terhadap peserta Global Sumud Flotilla dalam keterangan pers di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu 24 Mei 2026 (Foto: RRI/Zahfa Putri)

Selain mengalami kekerasan fisik, Herman menggambarkan kondisi penahanan yang menurutnya sangat tidak manusiawi. Ia mengatakan seluruh relawan diperlakukan secara ketat dalam kondisi fisik yang sudah sangat terbatas.

“Belum lagi hal-hal yang lain terkait dengan kondisi ketika kita ada di penjara dan seterusnya, diperlakukan seperti hewan. Kami harus berjalan dengan merangkak dengan lutut kami,” katanya.

Herman menyebut para relawan juga tidak diperbolehkan menatap langsung petugas selama menjalani masa penahanan. “Kami harus berjalan dengan selalu menunduk, tidak boleh menatap mereka,” ujarnya.

Kondisi tempat penahanan juga disebut sangat memprihatinkan. “Kami pun tidur di lantai yang tidak ada selimut, tidak ada, dalam kondisi basah dan baju basah,” ucap Herman.

Relawan kemanusiaan asal Indonesia, Rahendro Herubowo di Bandara Soekarno Hatta (Foto: RRI.CO.ID/Afriani Respati)

Relawan lainnya, Rahendro Herubowo, juga mengungkapkan dugaan kekerasan fisik dan tekanan mental selama ditahan militer Israel. Menurutnya, tekanan mulai dialami para relawan sejak masih berada di atas kapal bantuan kemanusiaan.

“Setiap mereka melakukan sesuatu, mereka melempari kita granat kejut yang cukup keras,” ujar Heru. Ia mengatakan para relawan dipaksa berjalan dengan kepala menunduk saat dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain.

“Pada saat kita dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, kita harus nunduk dan tidak boleh angkat kepala sedikit pun. Angkat kepala sedikit, kita ditendang dan dipukul,” katanya.

Ia juga mengaku mengalami tindakan kekerasan langsung selama masa penahanan. “Saya sempat jatuh dan diinjak, saya juga sempat disetrum juga beberapa kali di bagian badan, kaki, dan punggung saya,” ujar Heru.

Dugaan Pelecehan terhadap Relawan

Relawan kemanusiaan asal Indonesia, Hendro Prasetyo mengungkapkan para aktivis Global Sumud Flotilla sempat melakukan mogok makan selama ditahan militer Israel. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap perlakuan selama penahanan berlangsung.

Menurut Hendro, pihak Israel sempat memberikan makanan dan minuman kepada para relawan. Namun, para aktivis memilih tidak mengonsumsi makanan tersebut karena merasa khawatir terhadap keamanan pemberian tersebut.

“Prinsip kami, segala yang mereka berikan itu semuanya adalah penderitaan. Kami tidak tahu apakah mengandung racun atau tidak,” ujar Hendro.

Relawan kemanusiaan asal Indonesia, Hendro Prasetyo (tengah paling belakang) disambut bahagia oleh rekan-rekan satu gerakan di SMART 171 setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu 24 Mei 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

Kondisi tersebut membuat sebagian besar aktivis mengalami kelaparan hingga dehidrasi cukup berat selama berada di bawah pengawasan militer Israel. “Mereka menahan diri untuk tidak memakan roti dan mineral yang diberikan Israel selama tiga hingga lima hari,” katanya.

Hendro mengaku akhirnya tidak mampu menahan dehidrasi yang dialami. “Dehidrasinya tidak bisa saya tahan lagi, jadi akhirnya sempat meminum,” ucapnya.

Ia juga menggambarkan minimnya akses air bersih selama masa penahanan.“Jadi kami minum semacam air keran. Kami dikasih air teko untuk dibagi ke 30 orang, per orang hanya minum tiga kali teguk,” ujar Hendro.

Indonesia Bergerak: Diplomasi dan Evakuasi WNI

Aktivis yang dibebaskan dari tahanan Israel juga melaporkan dugaan pelecehan seksual termasuk pemerkosaan. Mereka mengaku dilucuti pakaiannya dan mendapat kekerasan selama masa penahanan.

Dilansir Al Jazeera, Jumat 22 Mei 2026, penyelenggara Global Sumud Flotilla mengatakan beberapa aktivis harus dirawat di rumah sakit setelah dibebaskan. Sebanyak 15 orang dilaporkan mengalami serangan seksual, termasuk pemerkosaan.

Pasukan Israel diketahui menculik sedikitnya 430 orang dari 50 kapal di perairan internasional. Tindakan tersebut dilakukan beberapa hari sebelumnya saat rombongan aktivis bergerak menuju Gaza.

Relawan kemanusiaan asal Indonesia, Ronggo Wirasanu di Bandara Soekarno Hatta (Foto: RRI.CO.ID/Afriani Respati)

“Setidaknya 15 kasus serangan seksual, termasuk pemerkosaan. Ditembak dengan peluru karet dari jarak dekat. Puluhan tulang orang patah,” tulis penyelenggara di Telegram.

“Sementara mata dunia tertuju pada penderitaan para peserta kami, kami tidak dapat cukup menekankan bahwa ini hanyalah sekilas dari kebrutalan yang dilakukan Israel setiap hari terhadap sandera Palestina,” ujarnya.

Seorang ekonom Italia, Luca Poggi, yang ditahan di atas kapal armada tersebut. “Kami dilucuti pakaian, dilempar ke tanah, ditendang," ucapnya.

"Banyak dari kami disetrum dengan alat kejut listrik, beberapa mengalami pelecehan seksual, dan beberapa ditolak aksesnya ke pengacara," ujarnya. Saat ini jaksa Italia disebut sedang menyelidiki kemungkinan kejahatan, termasuk penculikan, penyiksaan, dan pelecehan seksual.

GPCI Siapkan Laporan ke Mahkamah Internasional

Pemerintah Indonesia menunjukkan efektivitas strategi diplomasi senyap atau quiet diplomacy dalam menangani krisis penahanan sembilan relawan WNI peserta Global Sumud Flotilla 2.0. Menteri Luar Negeri Sugiono memastikan seluruh relawan Indonesia telah dibebaskan dari penahanan dan bergerak menuju Istanbul, Turki.

“Perkembangan positif ini merupakan buah dari kerja keras diplomasi Pemerintah Indonesia yang dilakukan secara intensif dan cepat. Juga terkoordinasi sejak pertama kali kami menerima laporan terkait pencegatan armada GSF 2.0,” ucap Sugiono.

“Keselamatan WNI adalah prioritas utama. Sehingga seluruh kanal diplomatik kami optimalkan untuk memastikan mereka memperoleh perlindungan dan dapat kembali ke Tanah Air dengan aman,” ujarnya.

Menurut Sugiono, keberhasilan pembebasan sembilan relawan Indonesia tersebut menunjukkan konsistensi pemerintah. Khususnya dalam menjalankan perlindungan terhadap warga negara yang menghadapi situasi darurat di luar negeri.

Selain mengaktifkan jalur diplomasi, Indonesia juga menjalin koordinasi erat dengan sejumlah negara sahabat. Pemerintah Turki disebut memiliki kontribusi penting dalam memfasilitasi jalur transit dan pemulangan para relawan menuju Istanbul.

Pemerintah Indonesia juga menegaskan sikap keras terhadap perlakuan yang diterima para WNI selama masa penahanan. Indonesia menilai tindakan terhadap relawan sipil dalam misi kemanusiaan harus menjadi perhatian serius dunia internasional.

“Pemerintah Indonesia akan terus mengawal seluruh proses pemulangan ini hingga seluruh WNI tiba kembali di Tanah Air. Dalam keadaan selamat, sehat, dan dapat berkumpul kembali bersama keluarga mereka,” ujar Sugiono.

Wakil Ketua Komisi I DPR Fraksi Demokrat Anton Sukartono Suratto mengapresiasi langkah diplomasi pemerintah Indonesia dalam proses pembebasan para relawan. “Alhamdulillah, kita patut bersyukur bahwa sembilan WNI relawan Global Sumud Flotilla yang sebelumnya ditahan oleh otoritas Israel kini telah kembali dengan selamat ke Tanah Air,” kata Anton.

Ia juga mengutuk tindakan tidak manusiawi terhadap para aktivis kemanusiaan. “Upaya solidaritas kemanusiaan semestinya direspons dengan pendekatan yang menjunjung hukum humaniter internasional dan nilai-nilai kemanusiaan universal,” ujarnya.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri juga telah membawa isu pelanggaran tersebut ke forum Dewan Keamanan PBB. “Kami juga menyampaikan kecaman ini di Dewan Kemanan PBB pada 21 Mei lalu, bahwa ini adalah tindakan yang tidak bisa diterima dan tidak boleh dibiarkan,” kata Sugiono.

Ia turut mengapresiasi keberanian seluruh relawan Indonesia yang ikut berlayar bersama misi Global Sumud Flotilla. “Seperti kita ketahui bahwa perjuangan rakyat Palestina dan juga solusi dua negara yang kita harapkan adalah bagian dari perjuangan dan politik luar negeri Indonesia,” ucap Sugiono.

Trauma yang Dibawa Pulang

Koordinator Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Maimon Herawati mengatakan Global Sumud Flotilla tengah menyiapkan langkah hukum terhadap Israel untuk dibawa ke pengadilan internasional. “Sudah ada 35 arrest warrant terhadap IDF dan pemimpin-pemimpinnya terkait berbagai pelanggaran yang mereka lakukan, dan akan semakin banyak tentunya,” kata Maimon dalam konferensi pers di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu 24 Mei 2026.

Maimon yang juga anggota Steering Committee GSF menyebut sejumlah langkah hukum internasional terhadap pejabat Israel mulai bermunculan. Ia mencontohkan larangan memasuki Prancis terhadap Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir.

Karena itu, kata Maimon, upaya hukum terhadap Israel harus terus dilanjutkan sebagai bagian dari perjuangan membela rakyat Palestina. Menurut Maimon, GSF juga telah menyiapkan sistem pelacakan, pendampingan hukum, dan koordinasi internasional bagi peserta misi yang ditahan Israel.

Steering Comittee Global Sumud Flotilla sekaligus Koordinator Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Maimon Herawati saat dijumpai awak media dalam rangka menyambut kepulangan sembilan WNI relawan misi kemanusiaan Gaza di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu 24 Mei 2026 (Foto: RRI/Zahfa Putri)

“Begitu mereka mendapatkan surat kuasa, yang langsung diusahakan adalah membebaskan mereka. Karena memang tidak ada pelanggaran hukum sama sekali,” ujar Maimon.

Ia mengatakan Turki awalnya hanya menyiapkan pesawat bagi 90 peserta asal negara tersebut. Namun setelah berkoordinasi dengan Steering Committee GSF, pemerintah Turkiye bersedia mengirim tiga pesawat untuk menerbangkan seluruh peserta ke Istanbul.

Langkah itu dilakukan guna mempermudah proses visum, dokumentasi kasus, dan penyusunan langkah hukum terhadap Israel. Maimon juga menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Luar Negeri RI yang menyediakan tiket kepulangan bagi sembilan WNI peserta GSF.

Pesan dari Relawan: Palestina Jangan Dilupakan

Khoziyah, istri Herman Budianto, tampak beberapa kali menyeka air mata ketika menunggu suaminya keluar dari terminal kedatangan. Ia mengaku misi kemanusiaan kali ini menjadi perjalanan paling membuat dirinya dihantui kecemasan mendalam.

Menurut Khoziyah, Herman sempat mengatakan kemungkinan terburuk sebelum berangkat mengikuti misi menuju Gaza. “Ketika sudah menandatangani ikut misi ini, beliau bilang ada kemungkinan untuk tidak kembali,” katanya lirih.

Herman Budianto memeluk hangat isteri dan anak-anaknya sesaat setelah tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu 24 Mei 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

Selama hampir sebulan keberangkatan Herman, komunikasi singkat melalui panggilan video menjadi penguat terbesar bagi keluarganya. “Yang ada bagaimana supaya kita membahagiakan beliau,” ucap Khoziyah dengan mata berkaca-kaca.

Perasaan serupa dirasakan Arie, istri relawan Ronggo Wirasanu, yang terus mengikuti kabar suaminya dari Indonesia. Ia mengaku selalu cemas sejak kapal relawan memasuki wilayah yang disebut para aktivis sebagai zona kuning.

Arie, isteri Ronggo Wirasanu bersama Hanan anak mereka saat diwawancarai awak media sambil menunggu kedatangan Ronggo di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu 24 Mei 2026 (Foto: RRI/Afriani Respati)

“Kalau untuk perasaan pasti ada rasa khawatir,” kata Arie saat menunggu kepulangan suaminya di bandara internasional. Meski demikian, ia memahami keputusan Ronggo membantu rakyat Palestina merupakan panggilan kemanusiaan yang diyakini sejak awal.

Keluarga lain juga terlihat menunggu dengan wajah cemas sambil menggenggam telepon genggam dan tas kecil masing-masing. Sebagian relawan kemanusiaan turut berdiri bersama keluarga membawa syal serta atribut solidaritas Palestina.

Relawan kemanusiaan asal Indonesia, Andre Prasetyo Nugroho meminta perhatian publik tetap diarahkan kepada penderitaan rakyat Palestina di Gaza. Menurutnya, pengalaman penyiksaan yang dialaminya selama penahanan belum sebanding dengan kondisi warga sipil Palestina setiap hari.

“Fokusnya, spotlightnya jangan ke sembilan orang, jangan ke saya jangan ke mereka-mereka. Tapi yang ada di sana, di Gaza di Palestina,” ujar Andre.

Andre mengatakan ribuan perempuan dan anak-anak Palestina mengalami kekerasan serupa setiap hari di wilayah konflik tersebut. “Sembilan ribu orang lebih, ibu perempuan dan anak itu mengalami penyiksaan yang saya alami selama empat hari kemarin. Sama, tapi mereka setiap hari bahkan dibunuh,” katanya.

Relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla asal Indonesia, Andre Prasetyo Nugroho melambaikan tangan kepada keluarga dan rekan-rekannya yang menyambut kedatangannya di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Minggu 24 Mei 2026 sore (Foto: RRI/Afriani Respati)

Ia mengaku heran masih terdapat pihak yang memberikan dukungan terhadap tindakan Israel di tengah krisis kemanusiaan Gaza. Menurutnya, situasi di Palestina seharusnya membuka kesadaran publik internasional untuk lebih peduli terhadap korban sipil.

Andre juga menegaskan penangkapan para relawan tidak akan menghentikan gerakan solidaritas internasional membela Palestina. “Dengan kejadian ini enggak mengurungkan tekad kaum-kaum lainnya untuk membela masyarakat Palestina,” ujarnya.

Menurut Andre, solidaritas antaraktivis dan relawan internasional menjadi kekuatan besar selama perjalanan menuju Gaza berlangsung. Kebersamaan tersebut membuat seluruh peserta tetap memiliki keyakinan membantu masyarakat Palestina meski menghadapi risiko besar.

Ia memastikan gerakan bantuan kemanusiaan untuk Palestina tidak akan berhenti hanya karena penangkapan militer Israel. “Bakal ada lagi Global Sumud Flotilla menembus blokade Gaza 3.0, 4.0 dan seterus-seterusnya,” ucap Andre.

Kata Kunci / Tags
agresi Israel aktivis internasional Gaza aktivis kemanusiaan Indonesia Al Jazeera Andi Angga Prasadewa Andre Prasetyo Nugroho Anton Sukartono Suratto armada Global Sumud Flotilla arrest warrant IDF Bambang Noroyono Bandara Soekarno-Hatta bantuan kemanusiaan Palestina bantuan makanan Gaza bantuan medis Gaza bendera Palestina blokade Gaza Dewan Keamanan PBB diplomasi Indonesia Palestina diplomasi pembebasan WNI dugaan pelecehan seksual dugaan penyiksaan Israel dukungan Indonesia untuk Palestina dukungan internasional Palestina dukungan keluarga relawan dukungan kemerdekaan Palestina evakuasi WNI Gaza Global Peace Convoy Indonesia Global Sumud Flotilla Global Sumud Flotilla 2.0 GPCI Hendro Prasetyo Herman Budianto hukum humaniter internasional IDF internet kapal hilang Israel Gaza Istanbul jalur Gaza jurnalis Indonesia Gaza kapal bantuan Gaza kapal dicegat Israel kapal Josef kejahatan kemanusiaan kekerasan terhadap relawan Kemlu RI kepulangan relawan Indonesia kesaksian relawan Indonesia konflik Gaza Mahkamah Internasional Maimon Herawati Marmaris Mediterania Timur Menteri Luar Negeri Sugiono militer Israel misi kemanusiaan Gaza misi kemanusiaan internasional mogok makan relawan pelanggaran HAM Israel pelanggaran kemanusiaan pelayaran kemanusiaan penahanan aktivis penahanan oleh Israel penahanan relawan Gaza pencegatan kapal bantuan penculikan relawan penderitaan rakyat Palestina pengadilan internasional penyelidikan kejahatan Israel penyiksaan aktivis penyiksaan tahanan perairan internasional perjuangan Palestina perlindungan WNI Rahendro Herubowo relawan dipenjara Israel relawan Gaza Indonesia relawan Global Sumud Flotilla relawan Indonesia dipukul relawan Indonesia disetrum relawan Indonesia Gaza relawan Indonesia Palestina relawan internasional relawan kemanusiaan Indonesia relawan Palestina Republika Reuters Ronggo Wirasanu Save Our Souls serangan terhadap relawan simpatisan Palestina Siprus solidaritas Palestina solusi dua negara SOS relawan Starlink kapal Sugiono Tempo TV tentara Israel trauma relawan Turkiye warga sipil Palestina WNI ditahan Israel Yvonne Mewengkang

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....