Bulungan Masih Bergantung Pasokan Ayam dari Luar Daerah
- 16 Sep 2026 10:57 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID. Tanjung Selor – Ketergantungan Kabupaten Bulungan terhadap pasokan ayam potong dari luar daerah masih tinggi.
Dari kebutuhan sekitar 8.000 ekor atau enam ton ayam per hari, peternak lokal baru mampu memasok sekitar 1.500 ekor.
Artinya, sekitar 6.500 ekor ayam setiap hari masih harus didatangkan dari luar daerah, terutama Berau dan Tarakan. Kondisi ini menjadi gambaran bahwa kebutuhan pangan hewani di Bulungan belum ditopang kapasitas produksi lokal yang memadai.
Bupati Bulungan Syarwani menegaskan kesenjangan tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan pasokan, tetapi harus dibaca sebagai peluang besar untuk memperkuat sektor peternakan lokal.
“Setiap hari kebutuhan kita sekitar 8.000 ekor ayam, sementara peternak Bulungan baru mampu menyediakan sekitar 1.500 ekor. Artinya masih ada sekitar 6.500 ekor yang harus kita datangkan dari Berau dan Tarakan. Ini menunjukkan ruang usaha peternakan ayam di Bulungan masih sangat terbuka,” tegasnya.
Hal itu disampaikan Syarwani saat membuka Puncak Bulan Bakti Peternakan Bulungan 2026 di Rumah Potong Hewan (RPH) Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi momentum untuk menggenjot produksi lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
“Kalau kebutuhan pasar sudah jelas sebesar itu, sebenarnya tidak ada alasan kita tidak mengembangkan produksi sendiri. Pasarnya sudah tersedia. Yang perlu kita lakukan adalah membangun kapasitas peternak agar mampu memenuhi kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Syarwani mendorong pengembangan peternakan tidak berhenti pada usaha perseorangan, tetapi diperluas melalui kelompok usaha produktif di tingkat desa.
Pemerintah daerah juga menyiapkan arah pemanfaatan Alokasi Dana Desa mulai 2027 untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif sesuai potensi masing-masing desa.
“Mulai 2027, kita ingin melihat kelompok-kelompok usaha produktif di desa mulai bergerak mengembangkan peternakan. Jangan sampai kebutuhan sebesar ini terus-menerus dipenuhi dari luar, sementara potensi usaha dan pasar ada di daerah sendiri,” katanya.
Selain kapasitas produksi, persoalan biaya pakan menjadi tantangan serius. Komponen pakan menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya produksi, sehingga tingginya biaya pakan berpotensi menekan margin dan daya saing peternak lokal.
“Kalau biaya pakan bisa kita tekan, ruang usaha peternak akan lebih besar. Kita memiliki bahan baku di daerah yang bisa dikembangkan. Potensi itu harus diolah menjadi pakan yang bisa dimanfaatkan peternak sendiri,” kata Syarwani.
Menurutnya, penguatan sektor peternakan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan produksi, efisiensi pakan, penguatan kelompok usaha hingga keberlanjutan pemasaran.
Pemerintah daerah tidak ingin pengembangan peternakan hanya bersifat sesaat, tetapi mampu menjadi usaha ekonomi masyarakat yang terus tumbuh.
“Target kita produksi lokal terus bertambah sampai kebutuhan Bulungan bisa dipenuhi dari peternak sendiri. Setelah kebutuhan daerah terpenuhi, baru kita bicara memperluas pasar ke daerah tetangga. Jadi peternakan harus tumbuh menjadi kekuatan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah,” pungkas Syarwani. (rln/*)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....