Inflasi Tanjung Selor Melonjak 4,60 Persen, Tertinggi di Kaltara, Harga Kebutuhan

  • 04 Jul 2026 11:47 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tanjung Selor – Tekanan kenaikan harga kebutuhan masyarakat di Tanjung Selor semakin terasa.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bulungan mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Juni 2026 mencapai 4,60 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,24, menjadikan Tanjung Selor sebagai daerah dengan inflasi tertinggi di Provinsi Kaltara.

Capaian tersebut jauh melampaui inflasi di Kota Tarakan yang berada di angka 3,62 persen dan Kabupaten Nunukan sebesar 2,08 persen.

Bahkan jika dibandingkan dua tahun terakhir, lonjakan inflasi di Tanjung Selor menunjukkan peningkatan yang cukup tajam.

Pada Juni 2025 inflasi tercatat hanya 0,31 persen, sementara pada Juni 2024 berada di angka 1,25 persen.

Kepala BPS Kabupaten Bulungan, Yuda Agus Irianto, mengatakan hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat mengalami kenaikan harga sehingga mendorong inflasi terus bergerak naik.

"Perkembangan harga berbagai komoditas pada Juni 2026 secara umum mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Hal itu menyebabkan inflasi year-on-year yang tercermin dari meningkatnya indeks pada hampir seluruh kelompok pengeluaran," ujarnya dalam Berita Resmi Statistik (BRS).

Penyumbang terbesar inflasi berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak 9,59 persen dengan andil mencapai 1,99 persen terhadap inflasi tahunan.

Menurut Yuda, kenaikan tarif air minum PAM menjadi faktor paling dominan.

Selain itu, naiknya biaya sewa rumah serta harga material bangunan seperti keramik, semen, dan cat tembok turut memperbesar tekanan inflasi.

"Tarif air minum PAM memberikan andil terbesar pada kelompok ini. Di samping itu, kenaikan sewa rumah dan harga sejumlah bahan bangunan juga ikut mendorong inflasi," jelasnya.

Tekanan harga juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 7,09 persen, sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 3,90 persen dengan kontribusi 1,14 persen terhadap inflasi umum.

Sejumlah komoditas pangan yang menjadi penyebab utama kenaikan harga antara lain cabai rawit, bawang merah, ikan bandeng, minyak goreng, tempe, daging ayam ras, tahu mentah, beras, hingga daging sapi.

"Kenaikan harga berbagai komoditas pangan tersebut menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap pembentukan inflasi selama Juni 2026," kata Yuda.

Di tengah kenaikan harga yang meluas, hanya satu kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan, yakni perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga dengan deflasi 2,15 persen.

Penurunan itu dipicu melemahnya harga sejumlah barang seperti sabun detergen bubuk, pelembut pakaian, bola lampu, dan sabun cair pencuci piring.

"Penurunan harga beberapa komoditas tersebut memberikan andil terhadap deflasi pada kelompok perlengkapan rumah tangga," ungkapnya.

Secara bulanan, inflasi Tanjung Selor pada Juni 2026 juga tercatat sebesar 0,67 persen. Kenaikan dipicu oleh melonjaknya harga cabai rawit, bawang merah, bensin, dan daging ayam ras, sementara tarif angkutan udara menjadi salah satu komoditas yang menahan laju inflasi karena mengalami penurunan.

Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga Juni 2026 mencapai 1,83 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada Juni 2025 yang hanya 0,20 persen dan Juni 2024 sebesar 0,29 persen.

"Kondisi ini menunjukkan tekanan harga di Tanjung Selor sepanjang semester pertama 2026 terus menguat dan menjadi yang paling tinggi di Kaltara," pungkasnya. (rln)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....