Ekspor Bali Turun 8,42 Persen pada Agustus 2026, Neraca Perdagangan Tetap Surplus

  • 05 Okt 2026 11:05 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Nilai ekspor Bali pada Agustus 2026 sebesar 39,30 juta dolar AS, mengalami penurunan year-on-year sebesar 8,42 persen.
  • Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menyatakan meskipun ada penyusutan pada Agustus, performa ekspor Bali kumulatif Januari-Agustus 2026 tetap menunjukkan pertumbuhan positif.

RRI.CO.ID, Singaraja - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali melaporkan nilai ekspor barang dari Pulau Dewata pada bulan Agustus 2026 tercatat sebesar 39,30 juta dolar AS, atau mengalami penurunan 8,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year).

Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, di Denpasar, Kamis, 1 Oktober 2026, menyatakan meski terjadi penyusutan nilai pada bulan Agustus, performa ekspor Bali secara kumulatif dari Januari hingga Agustus 2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif.

"Secara kumulatif, ekspor barang dari Provinsi Bali telah mencapai 365,79 juta dolar AS. Angka ini meningkat tipis 0,03 persen jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya," kata Agus.

Peningkatan ekspor kumulatif tersebut ditopang oleh kinerja komoditas perhiasan atau permata yang nilai ekspornya melesat 21,84 persen mencapai 47,44 juta dolar AS. Komoditas ikan, krustasea, dan moluska juga naik 4,52 persen menjadi 106,89 juta dolar AS, sekaligus menjadikannya sebagai komoditas penyumbang devisa terbesar Bali.

Di sisi lain, BPS Bali mencatat nilai impor pada Agustus 2026 mencapai 12,34 juta dolar AS, anjlok 31,60 persen secara tahunan. Penurunan impor ini turut dipengaruhi oleh merosotnya pasokan barang dari Tiongkok dan Amerika Serikat.

Meski nilai impor secara umum anjlok, Agus menyoroti adanya tren positif pada komposisi impor menurut golongan penggunaan barang. BPS Bali mencatat impor barang konsumsi turun 3,95 persen dan bahan baku penolong turun 10,70 persen. Sebaliknya, impor untuk kategori barang modal justru melonjak tajam hingga 30,41 persen.

Lonjakan impor barang modal ini sejalan dengan meroketnya aktivitas impor dari Singapura yang naik 78,88 persen, dipicu oleh tingginya pembelian produk mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya.

"Tentu harapan kita dengan meningkatnya barang modal, maka kapasitas produksinya juga akan meningkat, dan tentu akan menciptakan nilai tambah yang semakin besar untuk perekonomian di Provinsi Bali," ujar Agus menjelaskan.

Secara keseluruhan, dengan selisih ekspor dan impor tersebut, Agus menegaskan bahwa neraca perdagangan Provinsi Bali selama periode Januari hingga Agustus 2026 masih mencetak surplus yang cukup tebal, yakni sebesar 268,59 juta dolar AS.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....