Seserahan Bukan Syarat Nikah Jangan Jadi Beban Finansial
- 01 Okt 2026 15:24 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Persiapan pernikahan kerap diikuti berbagai kebutuhan tambahan yang berkembang seiring tren di masyarakat. Salah satunya seserahan yang kini semakin sering menjadi bagian dari konsep pernikahan pasangan muda. Namun, calon pengantin diingatkan agar keberadaan seserahan tidak menjadi beban finansial, mengingat pemberian tersebut bukan merupakan syarat sah dalam pelaksanaan pawiwahan Hindu. Hal tersebut disampaikan Wahyanti, Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Buleleng, dalam obrolan SPADA RRI Singaraja.
Menurut Wahyanti, pasangan yang memiliki kemampuan secara finansial dapat memberikan seserahan sebagai bentuk penghargaan atau ungkapan kasih sayang kepada pasangan. Namun, pasangan yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi bentuk seserahan tertentu tidak perlu memaksakan diri. Kondisi ekonomi masing-masing pasangan perlu menjadi pertimbangan agar persiapan pernikahan tidak menghabiskan sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga setelah menikah. “Kalau memang mampu dan ingin memberikan seserahan, itu boleh sebagai bentuk penghargaan, tetapi kalau tidak mampu jangan sampai dipaksakan,” ujar Wahyanti.
Fenomena tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan media sosial. Berbagai konten mengenai pernikahan dapat memperlihatkan konsep seserahan dengan jumlah maupun bentuk yang beragam. Bagi pasangan yang melihatnya, kondisi tersebut dapat menciptakan keinginan untuk mengikuti standar yang sedang dianggap menarik atau ideal. Padahal, kebutuhan setiap pasangan berbeda. Apa yang sesuai untuk satu keluarga belum tentu sesuai bagi keluarga lainnya, terutama dari sisi kemampuan ekonomi.
Karena itu, Wahyanti mengingatkan pasangan muda agar tidak menjadikan kemewahan acara sebagai ukuran keberhasilan sebuah pernikahan. Fokus utama pawiwahan Hindu adalah pelaksanaan upacara keagamaan sesuai ketentuan serta pemenuhan administrasi kependudukan agar perkawinan tercatat secara negara. Setelah seluruh rangkaian pernikahan selesai, pasangan akan memasuki kehidupan rumah tangga yang membutuhkan kesiapan dalam berbagai aspek, termasuk pengelolaan keuangan. “Menikah itu bukan hanya memikirkan satu hari acara, tetapi bagaimana pasangan mempersiapkan kehidupan rumah tangga setelahnya,” ucap Wahyanti.
Perencanaan keuangan sejak sebelum menikah dinilai penting untuk menghindari persoalan ekonomi di kemudian hari. Pasangan perlu membicarakan kebutuhan pernikahan secara terbuka, termasuk menentukan hal-hal yang benar-benar menjadi prioritas. Kesepakatan tersebut juga perlu melibatkan keluarga agar tidak muncul tuntutan atau ekspektasi yang tidak sesuai dengan kemampuan calon pengantin. Dengan komunikasi yang baik, keputusan mengenai seserahan maupun kebutuhan lainnya dapat dibuat secara realistis.
Seserahan dalam konteks pernikahan Bali pada akhirnya dapat ditempatkan sebagai pilihan, bukan kewajiban. Tradisi yang berkembang di masyarakat dapat tetap dijalankan selama tidak mengaburkan esensi pawiwahan dan tidak menimbulkan beban bagi pasangan. Generasi muda juga diharapkan lebih bijak dalam menyikapi tren pernikahan yang berkembang di media sosial dengan mempertimbangkan kemampuan, kebutuhan dan rencana kehidupan rumah tangga dalam jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....