Kemenag Perkuat Bimbingan Remaja Siapkan Keluarga Sakinah

  • 25 Sep 2026 07:02 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Kementerian Agama memperkuat pembinaan remaja dan calon pengantin melalui program Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) dan penguatan keluarga sakinah. Program ini diarahkan untuk membantu generasi muda mempersiapkan kehidupan berkeluarga, tidak hanya dari sisi pernikahan, tetapi juga kematangan emosional, spiritual, sosial, dan ekonomi. Kegiatan BRUN diikuti ratusan mahasiswa, calon pengantin, serta unsur organisasi masyarakat di Gedung Madya Gosana, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung Mangupura, Rabu 23 September 2026.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, mengatakan pernikahan mempertemukan dua orang dengan latar belakang, pengalaman, pola pikir, dan karakter yang berbeda. Karena itu, pasangan perlu memiliki kemampuan untuk mengelola perbedaan dalam kehidupan rumah tangga. Menurutnya, pengendalian diri menjadi salah satu hal penting yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.

“Anda disatukan, tidak disamakan. Karena perbedaan itulah Anda bersatu. Kuncinya adalah pengendalian diri, sama-sama mengendalikan diri,” ujar Sunartha. Ia juga menilai pembekalan bagi remaja usia nikah penting karena kehidupan rumah tangga memiliki dinamika yang tidak selalu sama dengan bayangan sebelum seseorang menikah. Karena itu, generasi muda perlu mendapatkan pengetahuan dan ruang belajar sebelum benar-benar memasuki kehidupan berkeluarga.

Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Ahmad Zayadi, menjelaskan pembinaan keluarga sakinah dilakukan secara berkelanjutan. Pembinaan tersebut mencakup tahap persiapan, pertumbuhan, hingga keberlanjutan keluarga. Skema pembinaan dibangun melalui tiga fase, yakni Start dengan pendekatan edukatif, Grow melalui pendekatan preventif, dan Sustain dengan pendekatan solutif.

Pada fase Start, Kemenag menjalankan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), BRUN, dan Bimbingan Perkawinan bagi calon pengantin. Fase Grow mencakup program SERASI atau Sekolah Relasi Suami-Istri, literasi keuangan keluarga, serta penguatan relasi harmonis. Sementara fase Sustain dilakukan melalui KOMPAK yang mencakup konsultasi, mediasi, pendampingan, dan advokasi, serta penguatan jejaring sosial melalui program LESTARI.

“Menikah itu bukan sesuatu ibadah yang pendek, tetapi perjalanan yang sangat panjang. Karena itu, sebelum memasuki pernikahan perlu ada penguatan-penguatan agar mereka memahami diri, menjaga akhlak, menata masa depan, dan mempersiapkan kehidupan berkeluarga,” ujar Zayadi. Ia menegaskan pembinaan keluarga tidak berhenti setelah pasangan menikah, tetapi harus terus dilakukan agar keluarga mampu mengelola relasi, keuangan, dan berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan rumah tangga.

Wakil Menteri Agama RI, Romo H. R. Muhammad Syafi’i, saat membuka kegiatan mengingatkan peserta bahwa membangun keluarga merupakan bagian dari ikhtiar manusia untuk memperoleh kebahagiaan di dunia sekaligus mempersiapkan kehidupan akhirat. Ia mengajak mahasiswa dan calon pengantin memahami bahwa kebutuhan membangun keluarga perlu diarahkan pada nilai-nilai agama.

“Yang membuat manusia bahagia di dunia itu ketika dia menaati Allah. Apa yang diatur Allah untuk kita, itu sesuai dengan fitrah kita,” tutur Wamenag. Ia menambahkan, kehidupan berkeluarga tidak cukup dibangun atas dasar perasaan, tetapi membutuhkan tanggung jawab, komitmen, pengendalian diri, dan kesediaan untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Penguatan keluarga melalui BRUN dan layanan keluarga sakinah juga diarahkan untuk mendukung Asta Protas Kementerian Agama Berdampak, khususnya aspek Layanan Keagamaan Berdampak. Layanan tersebut tidak hanya berorientasi pada pencatatan pernikahan, tetapi diperluas hingga penyiapan kehidupan keluarga, pencegahan persoalan rumah tangga, penguatan relasi pasangan, serta pendampingan ketika keluarga menghadapi masalah.

Kabid Bimas Islam Kanwil Kemenag Provinsi Bali, Lewa Karma, mengapresiasi kehadiran mahasiswa, masyarakat, dan calon pengantin dari wilayah Denpasar, Badung, dan Tabanan dalam kegiatan tersebut. Ia menyebut BRUN merupakan program nasional yang ditempatkan di Bali dan menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi serta keluarga masa depan. “Kegiatan BRUN ini merupakan bukti nyata kehadiran Kementerian Agama di masyarakat menyiapkan generasi dan keluarga masa depan agar memiliki literasi keluarga SAMAWA yang kelak akan menjadi bagian penting dalam pembangunan bangsa yang memberi dampak positif menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Lewa.

Kanwil Kemenag Provinsi Bali selanjutnya mendorong agar layanan keagamaan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Penguatan keluarga dinilai perlu dimulai sejak sebelum pernikahan melalui kesiapan yang direncanakan dengan baik. Pesan utama program ini adalah agar remaja dan calon pengantin tidak hanya mempersiapkan pesta pernikahan, tetapi juga mempersiapkan kehidupan setelahnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....