Kemenag Buleleng Perkuat Gerakan Jaga Pesisir dan Kelestarian Penyu
- 21 Agt 2026 14:03 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Menjaga kawasan pesisir Buleleng tidak hanya dilakukan melalui kegiatan kebersihan, tetapi mulai diperkuat dengan pendekatan keagamaan dan kolaborasi lintas sektor. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Buleleng ikut mengambil bagian dalam aksi Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar, Kecamatan Banjar, Jumat 21 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengusung tema “LESTARI”, akronim dari Lestarikan Ekosistem, Selamatkan Tukik, Asri Republik Indonesia. Kegiatan ini melibatkan unsur Forkopimda Buleleng, organisasi perangkat daerah, Pemerintah Kecamatan Banjar, kelompok pelestari lingkungan hingga masyarakat.
Dari Kemenag Buleleng, hadir mewakili pimpinan yakni Plt. Kepala Subbagian Tata Usaha sekaligus Kasi Pendidikan Hindu, Ketut Yudiastama. Ia didampingi Kasi Pendidikan Islam Lewa Karma, Kasi Urusan Agama Hindu, Kasi Bimbingan Masyarakat Islam serta sejumlah pegawai dari berbagai satuan kerja.
Keterlibatan Kemenag Buleleng menjadi bagian dari penguatan gerakan pelestarian lingkungan melalui pendekatan Ekoteologi. Konsep ini mendorong kesadaran bahwa menjaga alam tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi tanggung jawab moral dan spiritual yang dapat disampaikan melalui peran penyuluh agama, lembaga pendidikan keagamaan dan aparatur pemerintah.
Rangkaian kegiatan diawali apel yang dipimpin Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna. Dalam amanatnya, ia menekankan agar peringatan kemerdekaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.
Pesan tersebut kemudian dilanjutkan dengan aksi nyata berupa bersih-bersih kawasan pantai dan pelepasan tukik ke habitat alaminya. Kegiatan tersebut diinisiasi kelompok pelestari lingkungan Sea Turtle Ranger Conservation Center (STRCC) Buleleng dan sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kembali semangat masyarakat setelah wilayah setempat sempat terdampak bencana banjir.
Pelaksana teknis kegiatan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng I Gede Putra Aryana, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi pemerintah dengan berbagai elemen masyarakat. Kerja bersama dinilai penting karena persoalan pesisir membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, komunitas hingga masyarakat.
Bagi Kemenag Buleleng, kolaborasi tersebut menjadi ruang untuk menerjemahkan Ekoteologi ke dalam kegiatan yang dapat dirasakan langsung masyarakat. Kasi Pendidikan Islam Kemenag Kabupaten Buleleng, Lewa Karma, mengapresiasi langkah Pemkab Buleleng sekaligus mendorong agar Kemenag terus dilibatkan dalam agenda pelestarian lingkungan.
“Kami memberikan dukungan kepada Pemerintah Daerah agar bersama-sama dengan seluruh stakeholder, khususnya Kementerian Agama Buleleng, terus dilibatkan dalam berbagai kegiatan menjaga lingkungan dan kelestarian ekosistem. Program Ekoteologi yang digagas Menteri Agama sangat selaras dengan program Pemerintah Kabupaten Buleleng dan dapat diperkuat melalui peran penyuluh agama lintas agama serta seluruh ASN Kementerian Agama,” ujar Lewa Karma.
Menurut Lewa, pelepasan tukik memiliki makna lebih dari sekadar kegiatan simbolis. Pelepasan tukik menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan populasi penyu sekaligus memperlihatkan penerapan nilai Ekoteologi yang sejalan dengan program pelestarian lingkungan di daerah.
“Kegiatan pelepasan tukik hari ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlangsungan populasi penyu di wilayah pesisir Buleleng dan bukti nyata linieritas Ekoteologi dengan program daerah,” tukasnya.
Lewa menilai keterlibatan penyuluh agama lintas agama dan ASN Kemenag dapat memperluas edukasi lingkungan hingga ke masyarakat. Pesan tentang menjaga kebersihan, melindungi habitat satwa dan merawat alam dapat disampaikan melalui rumah ibadah, lembaga pendidikan keagamaan, madrasah maupun kegiatan pembinaan masyarakat.
Dengan pola tersebut, pelestarian lingkungan tidak berhenti pada kegiatan bersih pantai atau pelepasan tukik yang dilakukan pada momentum tertentu. Edukasi dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan menjadi bagian penting agar perlindungan kawasan pesisir Buleleng dapat dilakukan secara konsisten.
Aksi di Pantai Banjar sekaligus memperlihatkan bahwa agenda lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pembangunan daerah dan nilai-nilai keagamaan. Melalui tema LESTARI, Pemkab Buleleng bersama Kemenag Buleleng, komunitas pelestari dan masyarakat mendorong agar menjaga pesisir menjadi gerakan bersama, bukan hanya kegiatan sesaat dalam rangka memperingati hari besar nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....