Menteri Lingkungan Hidup Apresiasi Inovasi Kaki Palsu Berbahan Sampah Plastik
- 21 Sep 2026 13:35 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat mengapresiasi inovasi Yayasan Kaki Kita Se-nusantara (YKKS) yang memanfaatkan sampah plastik sebagai bahan baku pembuatan kaki palsu bagi penyandang disabilitas.
"Harus ada pemilahan kecuali organik. Padahal yang anorganik pun bisa jadi seperti ini," kata Jumhur saat menerima audiensi Ketua Dewan Pembina YKKS Putu Ivan Yunatana dan Ketua YKKS Made Aditiasthana, Senin, 21 September 2026.
Dalam pertemuan tersebut, YKKS menyerahkan dua contoh kaki palsu berbahan sampah plastik, yakni tutup botol berbahan high-density polyethylene (HDPE) dan campuran plastik kemasan multilayer (MLP) dengan HDPE.
Jumhur menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya agar sampah anorganik dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai guna.
Ketua Dewan Pembina YKKS Putu Ivan Yunatana mengatakan pemanfaatan sampah plastik menjadi kaki palsu menunjukkan bahwa material yang selama ini dianggap sebagai persoalan lingkungan dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat sosial dan nilai ekonomis.
"Dengan dua contoh kaki palsu yang sudah dikerjakan ini, menunjukkan bahwa material sampah plastik bisa bermanfaat dan bernilai ekonomis sepanjang ekosistem diatur dan dikelola dengan baik," katanya.
Ia menjelaskan pengembangan kaki palsu berbahan sampah plastik merupakan salah satu upaya YKKS menggabungkan pengelolaan lingkungan dengan pemenuhan kebutuhan kemanusiaan bagi penyandang disabilitas kurang mampu.
Menurut dia, kaki palsu hasil produksi YKKS telah disalurkan kepada penyandang disabilitas di Bali maupun luar Bali, antara lain Palu dan Lombok. Penyaluran tersebut didukung program tanggung jawab sosial perusahaan dari sejumlah perusahaan serta donasi masyarakat melalui YKKS.
Selain memproduksi kaki palsu, YKKS melalui entitas afiliasinya juga menjalankan kegiatan edukasi, pengangkutan dan pengumpulan sampah, serta pengolahan sampah organik dan anorganik menjadi refuse-derived fuel (RDF) atau bahan bakar yang berasal dari sampah.
Ivan mengatakan pihaknya juga ingin memperkenalkan pemanfaatan plastik kemasan jenis MLP yang selama ini dinilai sulit didaur ulang menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Kami ingin mengenalkan sampah plastik tidak hanya jenis HDPE, tetapi juga jenis plastik kemasan (MLP) yang selama ini dianggap sulit didaur ulang oleh para pelaku daur ulang. Namun kami bisa mengolah, salah satunya menjadi kaki palsu yang prioritasnya dibagikan kepada penyandang disabilitas yang tidak mampu," ujarnya.
Sementara itu, Ketua YKKS Made Aditiasthana menjelaskan satu kaki palsu membutuhkan sekitar lima kilogram sampah plastik sebagai bahan baku. Setelah melalui proses pengolahan dan pembentukan, material tersebut menyusut menjadi sekitar 2-3 kilogram.
Ia mengatakan penggunaan plastik daur ulang membuat setiap kaki palsu memiliki corak dan warna berbeda sesuai material sampah yang digunakan.
"Corak kreativitasnya dari pekerja. Corak terbentuk dari warna asli sampah. Misalnya putih dengan bercak hitam, menggunakan sampah putih dan hitam," kata Aditiasthana.
Made menambahkan warna dan corak kaki palsu juga dapat disesuaikan dengan permintaan penerima sehingga produk tersebut tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga nilai estetika.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....