Kemarau Panjang, Debit Air Buleleng Menyusut 20 Persen
- 14 Sep 2026 10:44 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Kemarau panjang mulai berdampak terhadap ketersediaan air di Kabupaten Buleleng. Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng mencatat debit air turun sekitar 20 persen sejak Agustus 2026 dan berpotensi kembali menurun apabila kondisi kering berlangsung lebih lama.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng, I Made Lestariana, mengatakan penurunan debit tersebut diketahui berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi bagian produksi. Kondisi kemarau tahun ini juga dinilai lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Penurunan debit air berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi dari bagian produksi kami, memang terjadi penurunan di kisaran 20 persen,” ujarnya, Senin 14 September 2026.
Menurut Lestariana, penurunan debit masih berpeluang terjadi hingga akhir tahun apabila musim kemarau belum berakhir. Meski demikian, pelayanan kepada pelanggan hingga saat ini masih dalam kondisi terkendali.
“Kalau dibanding tahun lalu otomatis tahun ini musim kemaraunya lebih parah. Lebih keraslah istilahnya,” kata dia.
Perumda telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami gangguan layanan, di antaranya Banyuning, Sambangan, Baktiseraga dan Jalak Putih. Selain faktor debit sumber air, pekerjaan perbaikan jaringan pipa transmisi maupun distribusi juga dapat memengaruhi kelancaran pelayanan.
Sebagai langkah antisipasi, Perumda Tirta Hita Buleleng juga menyalurkan air menggunakan mobil tangki ke sejumlah titik yang membutuhkan tambahan pasokan. Upaya tersebut dilakukan untuk membantu masyarakat yang mengalami keterbatasan ketersediaan air selama musim kemarau.
Lestariana berharap kondisi cuaca segera membaik. Pihaknya juga memantau perkembangan hujan di wilayah bagian atas Buleleng yang diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan sumber air.
“Kami berharap perkembangan kondisi juga semakin baik. Kami monitor kemarin katanya di daerah atas sudah mulai ada hujan. Jadi mudah-mudahan musim kemaraunya tidak sepanjang sebelumnya,” ucapnya.
Lestariana menyebut penurunan debit air akibat kemarau pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan mencapai sekitar 30 persen. Perumda tetap melakukan monitoring sumber air dan menjaga distribusi agar pelayanan air minum kepada masyarakat tetap terjamin.
“Di musim kemarau ini, kami berusaha untuk terus bisa menjaga pelayanan air minum buat masyarakat agar bisa tetap terjamin kelancarannya. Termasuk membantu masyarakat yang mungkin kesulitan air bersih pada saat musim kemarau ini,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....