Kemarau Panjang, Warga Diimbau Waspadai Dehidrasi dan ISPA

  • 10 Sep 2026 11:00 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Kemarau panjang dengan kondisi panas, kering, dan angin kuat meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat seperti dehidrasi, ISPA, dan gangguan kulit.
  • Dehidrasi merupakan gangguan kesehatan yang paling mungkin terjadi selama cuaca panas dan kering karena penguapan cairan tubuh yang lebih tinggi.
  • Masyarakat yang kurang mengonsumsi air cenderung lebih rentan mengalami kekurangan cairan dan elektrolit pada kondisi cuaca ekstrem.

RRI.CO.ID, Singaraja - Kemarau panjang dengan kondisi panas, kering, dan angin yang cukup kuat dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat. Mulai dari dehidrasi akibat kekurangan cairan hingga penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan gangguan kulit berpotensi lebih mudah terjadi pada kondisi cuaca ekstrem seperti saat ini.

Dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD, menjelaskan dehidrasi menjadi salah satu gangguan kesehatan yang paling mungkin terjadi selama cuaca panas dan kering. Penguapan cairan tubuh yang lebih tinggi, terutama pada masyarakat yang kurang mengonsumsi air, dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan dan elektrolit.

"Pertama yang paling mungkin kan dehidrasi ya. Penyakit yang disebabkan karena penguapan berlebihan dari tubuh dan itu akan mudah terjadi kalau kita memang punya kebiasaan kurang minum," ujarnya pada Kamis, 10 September 2026.

Untuk mencegah dehidrasi, masyarakat disarankan meningkatkan asupan cairan, terutama ketika melakukan aktivitas fisik atau berolahraga di tengah kondisi panas. Jika sebelumnya kebutuhan air sekitar delapan hingga sepuluh gelas per hari, jumlah tersebut perlu ditingkatkan menyesuaikan kondisi tubuh dan aktivitas.

"Nah, jadi pencegahannya sebetulnya mudah. Jadi, hadapi panas ini, keringat yang berlebih dan penguapan ini dengan minum lebih banyak. Olahraga tetap jalan, tapi asupan air yang selama ini misalnya delapan sampai sepuluh gelas nanti harus dinaikkan dua belas sampai lima belas gelas," kata Arya.

Menurutnya, kekurangan cairan dan elektrolit dapat membuat kondisi tubuh lebih rentan mengalami berbagai gangguan kesehatan. Selain dehidrasi, kondisi udara yang kering dan berangin juga dapat meningkatkan risiko penyakit tertentu, termasuk ISPA dan campak.

"Jadi kalau kita dehidrasi, kekurangan elektrolit dan cairan, itu mudah sekali mengalami penyakit secara umum. Tapi secara khusus seperti sekarang, angin cukup besar dan kering, itu mudah ISPA dan campak." ucap Arya.

Kondisi cuaca ekstrem juga perlu diwaspadai oleh masyarakat yang memiliki kulit sensitif. Udara yang kering dapat memicu iritasi maupun peradangan kulit, sehingga perlu menjaga kecukupan cairan dan memperhatikan kondisi tubuh selama musim kemarau.

"Dan tentu saja juga bagi mereka yang sensitif, misalnya kulitnya, juga mudah mengalami peradangan ya. Jadi, sebetulnya cuaca ekstrem seperti ini sangat mudah membuat kesehatan kita terganggu," jelas Arya.

Menghadapi kemarau panjang, masyarakat diimbau tidak mengabaikan kebutuhan cairan tubuh dan tetap menjaga kebugaran. Dengan mencukupi asupan air serta memperhatikan kondisi kesehatan, risiko gangguan akibat cuaca panas dan kering dapat ditekan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....