Kekeringan, 47,1 Hektar Sawah di Jembrana Alami "Puso"

  • 05 Sep 2026 15:28 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Negara – Musim kemarau mulai memberikan dampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Jembrana, Bali. Keterbatasan pasokan air menyebabkan 138,3 hektar lahan pertanian terdampak kekeringan dan 47,1 hektar di antaranya mengalami gagal panen atau puso.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, I Putu Eka Arta, mengatakan lahan yang terdampak tersebar di lima kecamatan, yakni Negara, Jembrana, Melaya, Mendoyo, dan Pekutatan.

“Dari total 138,3 hektar lahan yang terdampak kekeringan, astungkara seluas 11 hektar di antaranya berhasil pulih. Namun, terdapat 47,1 hektar tanaman yang tidak bisa diselamatkan dan dinyatakan puso,” ujar Eka Arta, Kamis, 3 Septembee 2026.

Menurutnya, tingkat kerusakan tanaman di masing-masing wilayah bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Komoditas padi menjadi tanaman yang paling banyak terdampak karena membutuhkan pasokan air cukup selama masa pertumbuhan.

Sementara itu, tanaman palawija berupa jagung juga mengalami dampak kekeringan. Kerusakan tanaman jagung tercatat di Kecamatan Pekutatan, masing-masing seluas empat hektar di Subak Air Satang, Desa Medewi, serta satu hektar di Subak Pangkung Serangsang, Desa Gumbrih.

Eka Arta menyebutkan berbagai langkah penanganan telah dilakukan untuk menyelamatkan tanaman yang masih memungkinkan dipertahankan. Hingga saat ini, upaya penanganan telah mencakup lahan seluas 125,85 hektar.

Penanganan dilakukan melalui koordinasi lintas instansi, termasuk bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), PLN, Balai Wilayah Sungai (BWS), Bank Indonesia, Korem 163/Wirasatya, dan Kejaksaan Negeri Jembrana.

“Solusi utama yang diterapkan di lapangan adalah pergiliran air secara ketat serta memaksimalkan sumur bor yang tersedia di masing-masing subak,” jelasnya.

Namun, keterbatasan infrastruktur pengairan masih menjadi tantangan dalam menghadapi kondisi tersebut. Debit air dari sejumlah sumur bor belum mampu mencukupi kebutuhan seluruh lahan pertanian yang terdampak.

“Kendala utama adalah sumur bor yang ada belum mampu mengairi seluruh wilayah terdampak. Karena debit air terbatas dan harus dilakukan pergiliran, beberapa tanaman padi tidak dapat tumbuh secara maksimal hingga akhirnya mengalami puso,” pungkas Eka Arta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....