Menjaga Gizi, Menyemai Masa Depan Generasi Bangsa
- 31 Agt 2026 21:58 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - “Ku dé akilo sawi putih né?” tanya seorang pembeli dalam bahasa Bali.
Mengenakan jaket tebal dan kupluk abu-abu, ia berdiri di antara lapak-lapak sayur di Pasar Pancasari, Buleleng, Bali.
“Kilo, 32 ribu manten. Nah, 30 ribu baang be,” jawab Nengah Redini, sembari melayani pembelinya.
Percakapan tawar-menawar seperti itu bukan sesuatu yang asing bagi perempuan 46 tahun tersebut. Hampir 20 tahun lamanya, Nengah berjibaku dengan sayur-mayur. Pagi hingga siang, tangannya akrab dengan sawi, wortel, kol, dan berbagai hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.

Bersama sang suami, Nengah nekat meninggalkan kampung halaman. Bukan karena ingin hidup mewah, melainkan demi satu alasan sederhana untuk memastikan ketiga anaknya tetap bisa tumbuh dan bersekolah. Setiap hari, sekitar 22,6 kilometer ia tempuh dari rumah menuju tempatnya berjualan di Desa Pancasari. Jalan panjang itu menjadi bagian dari perjuangan keluarga mereka.
Namun, rutinitas tersebut berubah ketika anak ketiganya, Alita, memasuki kelas satu sekolah dasar. Saat itu, Alita mengeluh sakit perut hingga menangis.
“Tiba-tiba sore bilang sakit perut. Tadinya saya kira cuma sakit biasa, karena neneknya bilang dia masih sempat bermain. Saya kan tidak di rumah karena sedang jualan,” kata Nengah.
Begitu pulang dari berjualan, Nengah langsung membawa Alita ke bidan desa yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Kekhawatiran seorang ibu membuatnya tak ingin menunda, terlebih Alita mengeluhkan sakit perut yang cukup mengganggu.
“Ya, ternyata kata bidan, kalau dokter, apalagi rumah sakit, kan masih jauh dari desa. Jadi dibawa ke bidan. Ternyata anak saya dibilang salah makan. Perutnya kontraksi sehingga menimbulkan diare,” ujarnya.
Belakangan diketahui, Alita sempat mengonsumsi bubuk cabai yang saat itu sedang viral dan banyak digemari anak-anak. Makanan tersebut ternyata tidak cocok dengan kondisi pencernaannya hingga membuat Alita mengalami sakit perut.
Diare Dan Kematian
Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan global, terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) 2024–2025, hampir 1,7 miliar kasus diare terjadi pada anak-anak di seluruh dunia, dengan 444 ribu hingga 495 ribu kematian setiap tahun.

Pada 2022, diare tercatat sebagai penyebab kematian kedua setelah pneumonia. Secara global, penyakit ini menyumbang sekitar 4 persen dari total kematian dan dapat menimbulkan dampak jangka panjang, termasuk kecacatan pada sebagian penderita yang telah sembuh.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Buleleng, dr. I Wayan Parna Arianta, MARS, menyebut diare merupakan penyakit yang salah satunya disebabkan oleh infeksi mikroorganisme. Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok usia, mulai dari bayi hingga orang dewasa.

“Diare bisa menyerang semua golongan umur. Penyebabnya salah satunya adalah infeksi mikroorganisme, sehingga kebersihan makanan, minuman, dan lingkungan menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan,” kata Parna.
Lebih lanjut, Parna mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap diare sebagai penyakit ringan. Diare yang tidak ditangani dengan tepat, terutama ketika penderita mengalami dehidrasi berat, dapat memicu komplikasi serius hingga berujung pada kematian.
“Jangan anggap diare sebagai penyakit ringan. Kalau tidak ditangani dengan baik dan sudah mengalami dehidrasi berat, kondisinya bisa memburuk, menimbulkan komplikasi, bahkan bisa berujung pada kematian,” kata Parna.
Pengalaman Alita menjadi pengingat bahwa apa yang masuk ke tubuh anak perlu mendapat perhatian. Parna menegaskan, bukan hanya soal rasa dan kesukaan anak, tetapi juga kebersihan, keamanan, serta kandungan gizinya. Terlebih pada 1.000 hari pertama kehidupan, ketika kekurangan gizi dapat meningkatkan risiko stunting.
Lebih lanjut, Parna menyebut kekurangan gizi dan infeksi seperti diare dapat membentuk lingkaran yang sulit diputus. Anak yang kekurangan gizi memiliki daya tahan tubuh lebih rendah sehingga lebih rentan terserang diare. Sebaliknya, diare dapat mengganggu asupan dan penyerapan zat gizi, sehingga semakin berisiko menghambat tumbuh kembang anak.
“Ini seperti lingkaran setan. Anak yang kurang gizi daya tahan tubuhnya turun, jadi mudah kena diare. Ketika diare, zat gizi yang masuk dan diserap tubuh juga terganggu. Kalau terus berulang, pertumbuhan anak bisa ikut terhambat dan risiko stunting semakin besar,” kata Parna.
Sementara itu, Di Indonesia pemenuhan gizi anak masih menjadi tantangan, sehingga kesadaran keluarga dalam memilih dan menyediakan makanan sesuai kebutuhan tubuh menjadi semakin penting.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI 2024, angka stunting berada di 19,8 persen, sementara underweight justru meningkat menjadi 16,9 persen.

Pemerintah menargetkan angka stunting terus ditekan hingga mencapai 14,2 persen pada 2029. Dirjen Pelayanan Kesehatan Keluarga dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menyebut target tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat penurunan stunting dan memastikan anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
“Target kita, angka stunting terus turun hingga 14,2 persen pada 2029. Ini bukan hanya soal menurunkan angka, tetapi memastikan anak-anak bisa tumbuh sehat dan berkembang secara optimal,” kata Maria Endang Sumiwi.
Untuk mewujudkan kondisi setiap anak mendapatkan asupan gizi yang seimbang, pemahaman tentang pola makan sehat perlu dibangun sejak dini.
Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kabupaten Buleleng, Bali, Eka Subiakta, menekankan pentingnya penerapan pola makan bergizi seimbang dan perilaku hidup sehat. Menurutnya, masyarakat perlu memahami makanan yang dikonsumsi harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

Eka mengatakan, pemahaman tentang gizi seimbang tidak cukup hanya dibangun di lingkungan keluarga. Pengetahuan tersebut perlu diperkuat di sekolah dan lingkungan tempat anak tumbuh, sehingga anak terbiasa mengenali dan memilih makanan sesuai dengan kebutuhan tubuh.
“Gizi yang tidak seimbang dalam jangka panjang bisa menghambat tumbuh kembang anak. Kalau kebutuhan protein Hewani, Nabati, energi, vitamin, dan mineral tidak terpenuhi, anak bisa lebih rentan mengalami masalah gizi dan pertumbuhannya tidak optimal,” kata Eka Subiakta.
Bagi seorang anak, makanan bukan sekadar pengganjal lapar. Dari apa yang masuk ke tubuhnya, tumbuh energi, daya tahan, dan kemampuan untuk berkembang.
Karena itu, memastikan anak mendapatkan gizi seimbang bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua. Sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan lingkungan sekitar juga memiliki peran dalam membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Semangat inilah yang kemudian diwujudkan JAPFA for Kids melalui edukasi gizi seimbang dan pembiasaan pola hidup sehat di lingkungan sekolah.
JAPFA for Kids, Menanam Kebiasaan Sehat Sejak 18 Tahun Lalu
Kesadaran membangun generasi sehat juga menjadi perhatian PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk melalui program JAPFA for Kids. Selama 18 tahun, program ini mendorong edukasi gizi seimbang dan pembiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah, sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi muda Indonesia yang sehat dan berkualitas.

Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya, mengatakan selama 18 tahun JAPFA for Kids menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia.
“Selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan kami dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Kami percaya, membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” kata Rachmat.
Hingga 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi.
Dampaknya juga terlihat dari hasil evaluasi program. Pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa yang sebelumnya mengalami gizi kurang dan gizi buruk berhasil mencapai status gizi baik. Jumlah tersebut setara dengan 62,5 persen.
Sekolah binaan JAPFA menjalankan berbagai pembiasaan untuk membangun pola hidup sehat sejak dini. Melalui PROMISE, siswa dibiasakan membawa bekal bergizi sesuai konsep Isi Piringku, memilih jajanan sehat, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga kebersihan lingkungan.
Bagi siswa dengan gizi kurang, terdapat program One Day One Egg dengan pemberian satu butir telur setiap hari sebagai tambahan sumber protein. Kebiasaan sehat juga diperkuat melalui Kantin Sehat, praktik PHBS, Sabtu Sehat, senam bersama, serta aktivitas fisik tambahan.
Rangkaian program tersebut tidak hanya melibatkan siswa, tetapi juga guru, orang tua, dan puskesmas. Tujuannya sederhana, menjadikan gizi seimbang dan hidup bersih bukan sekadar pengetahuan, melainkan kebiasaan yang dilakukan anak setiap hari.
Satu Tangis yang Mengubah Isi Kotak Bekal
“Saya masih ingat sekali bagaimana anak saya menahan sakit perutnya dan terlihat lemas. Sedikit tersirat penyesalan, kenapa saya tidak melakukan yang terbaik untuk anak saya.” Kata Nengah.
Kalimat itu masih teringat bagi Nengah ketika mengenang kejadian tiga tahun lalu. Melihat Alita mengerang menahan sakit menjadi pengalaman yang tidak ingin ia ulangi. Sejak saat itu, perhatian Nengah terhadap makanan yang dikonsumsi anak-anaknya perlahan berubah.
Di tengah kesibukannya berjualan sayur, Nengah mulai menyempatkan diri menyiapkan bekal dari rumah. Bukan makanan mewah, tetapi makanan yang ia yakini lebih aman dan sesuai untuk anaknya.
“Sejak saat itu saya memperhatikan apa yang anak-anak makan setiap harinya. Dibawain bekal setiap hari, biar saya juga tenang,” kata Nengah.
Dari kebiasaan membawa bekal itu, perhatian Nengah kemudian berkembang. Ia tak lagi hanya memikirkan apakah anak sudah makan, tetapi juga apa yang dimakan. Sayuran yang setiap hari ia jual tetap menjadi bagian dari menu, namun ia mulai memahami bahwa kebutuhan gizi anak tidak cukup hanya dari sayuran.
“Iya, diperhatikan juga gizinya, biar enggak cuma kenyang, tapi biar tidak sakit lagi,” ujarnya penuh harap.
Nengah pun mulai mencari informasi tentang makanan bergizi. Ia belajar menyeimbangkan menu dengan menambahkan protein hewani, serta lebih teliti memilih makanan dan produk yang dikonsumsi anak. Baginya, pengetahuan itu penting agar pengalaman Alita tidak kembali terulang.
Saat ini, Alita telah duduk di bangku kelas 4 SD, saat kami berkunjung ke SD Negeri 1 Pegadungan, Buleleng, Bali, Alita terlihat asyik bercengkerama dengan teman-temannya. Hari itu, ia membawa bekal nasi, sayur, ayam goreng, dan susu Real Good.

“Aku senang bawa bekal dari rumah. Ada nasi, sayur sama ayam goreng. Lebih enak karena bekalnya dibuat Ibu,” kata Alita sambil tersenyum.
Kini Alita bisa kembali bermain, tertawa, dan belajar bersama teman-temannya. Bagi Nengah, itu lebih dari sekadar pemandangan biasa. Ada lega setelah pernah melihat tubuh kecil anaknya lemas menahan sakit.
JAPFA for Kids hadir membawa harapan yang sama, agar tidak ada lagi ibu yang harus menyaksikan anaknya menahan sakit karena persoalan gizi dan pola hidup yang dapat dicegah.
Sebab, masa depan Indonesia tumbuh dari tubuh-tubuh kecil hari ini. Dan menjadi langkah menuju generasi yang lebih sehat itu sesederhana sebuah kotak bekal yang disiapkan dengan penuh kasih, setiap pagi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....