Tat Twam Asi Tetap Relevan Bagi Generasi Muda Masa Kini
- 21 Jul 2026 08:41 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Filosofi Hindu Tat Twam Asi dinilai masih sangat relevan diterapkan oleh generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin pesat. Nilai yang mengajarkan pentingnya empati, saling menghormati, dan memahami orang lain sebelum bertindak dinilai mampu menjadi bekal menghadapi berbagai persoalan sosial di era digital. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Sumertayasa, saat menjadi narasumber dalam program Obrolan SPADA Pro 2 RRI Singaraja, Selasa, 21 Juli 2026.
Menurut Sumertayasa, Tat Twam Asi bukan sekadar teori yang dipelajari di sekolah, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa makna "aku adalah kamu, kamu adalah aku" mengingatkan manusia bahwa setiap orang memiliki hakikat yang sama sebagai ciptaan Tuhan sehingga layak diperlakukan dengan rasa hormat. "Kalau untuk Tat Twam Asi sebenarnya ini sudah dari SD kita pelajari. Artinya aku adalah kamu, kamu adalah aku, dalam artian kita semua sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Tetapi dalam praktik pergaulan, terutama generasi muda, memang kadang pengaplikasiannya masih kebablasan," ujar Sumertayasa.
Ia menilai tantangan terbesar saat ini datang dari perkembangan media sosial yang membuat seseorang sangat mudah memberikan penilaian kepada orang lain hanya berdasarkan potongan informasi. Menurutnya, kebiasaan tersebut berpotensi melahirkan konflik karena masyarakat sering kali lebih cepat berkomentar dibandingkan mencari tahu fakta yang sebenarnya. "Jangan langsung ketika ada satu masalah kita mengambil keputusan sepihak untuk menjatuhkan atau memberikan komentar negatif kepada seseorang. Cari dulu apa sebenarnya permasalahannya supaya tidak sampai menyakiti orang lain," kata Sumertayasa. Ia menambahkan, jika prinsip Tat Twam Asi diterapkan, ruang digital akan menjadi lebih sehat karena setiap orang belajar berempati sebelum mengetik komentar.
Dalam dialog tersebut, Sumertayasa juga menyinggung fenomena self love yang saat ini banyak digaungkan generasi muda. Menurutnya, mencintai diri sendiri merupakan hal yang baik selama tidak dilakukan dengan mengorbankan orang lain. Ia mengingatkan bahwa rasa bahagia seharusnya tidak dibangun di atas penderitaan sesama. Selain itu, ia juga mengajak generasi muda untuk mampu mengendalikan rasa iri, ego, maupun keinginan tampil lebih unggul dengan cara-cara yang tidak baik. Baginya, keberhasilan seseorang seharusnya menjadi motivasi untuk berkembang, bukan alasan untuk menjatuhkan orang lain.
Diakhir, Sumertayasa mengajak generasi muda terus menjaga nilai kepedulian, toleransi, dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa Tat Twam Asi memiliki nilai universal yang dapat diterapkan oleh siapa saja tanpa memandang agama maupun latar belakang. Dengan membiasakan diri memahami perasaan orang lain sebelum bertindak, ia berharap generasi muda mampu menciptakan lingkungan sosial yang lebih damai, harmonis, dan penuh rasa kemanusiaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....