Teladan Nabi Didorong Jadi Benteng Pelajar dari Bullying dan Hoaks
- 26 Agt 2026 06:30 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Keteladanan Nabi Muhammad SAW didorong menjadi salah satu fondasi penguatan karakter pelajar di tengah meningkatnya tantangan penggunaan media sosial, perundungan, kekerasan, hingga penyebaran informasi palsu. Nilai kejujuran, amanah, kasih sayang, kesabaran, dan penghormatan kepada sesama dinilai semakin relevan diterapkan dalam kehidupan siswa. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pun diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum membangun perilaku positif generasi muda.
Kepala Seksi Pendidikan Islam Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Haji Lewa Karma, M.Pd., menilai peringatan Maulid Nabi memiliki makna penting bagi dunia pendidikan. Maulid bukan sekadar momentum mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi menjadi ruang untuk menghadirkan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan sehari-hari siswa. Nilai tersebut diperlukan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kekuatan karakter dan moral.
"Kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar kegiatan untuk mengenang lahirnya Rasulullah, tetapi juga sebagai momentum menghadirkan kembali nilai-nilai kenabian untuk diterapkan dalam kehidupan murid-murid kita. Pendidikan tidak cukup hanya untuk menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi pendidikan harus melahirkan generasi yang memiliki karakter yang kuat, mampu menghargai orang lain, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial," ujarnya pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Menurutnya, keteladanan Rasulullah sebagai Al-Amin, atau pribadi yang dapat dipercaya, memiliki relevansi kuat dengan persoalan yang dihadapi pelajar saat ini. Nilai kejujuran dan amanah perlu ditanamkan secara berkelanjutan, terutama di tengah kebiasaan generasi muda dalam menggunakan media sosial. Penerapan nilai tersebut diharapkan dapat mencegah munculnya perilaku cyberbullying, penyebaran hoaks, kekerasan, maupun tindakan lain yang merugikan orang lain.
"Rasulullah ini adalah sosok yang dikenal dengan sebutan Al-Amin, orang yang dapat dipercaya. Nilai yang ditanamkan Rasulullah dengan sifat Al-Amin-nya tersebut sangat relevan untuk kehidupan anak-anak kita hari ini. Sehingga di kelas, di sekolah, dan madrasah tidak ada lagi cyberbullying, tidak ada lagi hoaks, tidak ada lagi kekerasan-kekerasan, dan tidak ada lagi perbuatan-perbuatan yang tidak menyenangkan," katanya.
Ia menjelaskan, momentum Maulid Nabi harus ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan karakter yang berkelanjutan. Kisah kehidupan Rasulullah tidak cukup hanya dibaca, didengar, atau disampaikan melalui ceramah, tetapi harus diterjemahkan dalam kebiasaan nyata di rumah, sekolah, dan madrasah. Keteladanan dalam menjaga kebersihan, menghormati sesama, bergotong royong, serta saling menolong menjadi bagian dari nilai yang perlu terus dibiasakan.
"Maulid harus ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan karakter, bukan berhenti pada ceramah dan perayaan saja. Kisah kehidupan Rasulullah tidak hanya untuk dibacakan atau dilihat, tetapi untuk dipraktikkan dan diterjemahkan dalam kehidupan di rumah, sekolah, dan madrasah," ucapnya.
Pendidikan Islam di lingkungan madrasah, lanjutnya, selama ini telah mengintegrasikan nilai keteladanan Rasulullah melalui pembelajaran dan budaya sekolah. Nilai tersebut diterapkan melalui pembiasaan doa, salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, kegiatan sosial, pembinaan kedisiplinan, penghormatan kepada guru dan teman, serta kegiatan gotong royong. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh nilai tersebut tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, melainkan berkembang menjadi ekosistem dan budaya dalam kehidupan siswa.
"Keteladanan Nabi tidak boleh hanya menjadi materi pada mata pelajaran saja, tetapi harus diterjemahkan dalam kehidupan dalam bentuk nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan seterusnya. Nilai-nilai itu harus menjadi sebuah ekosistem yang menguatkan keteladanan Nabi dalam kehidupan kita," ujarnya.
Di tengah perkembangan teknologi, siswa juga diminta memiliki kemampuan literasi digital yang dibarengi dengan etika. Sebelum mengunggah atau membagikan suatu konten, siswa perlu membiasakan diri untuk membaca, memahami, meneliti, dan menyaring informasi terlebih dahulu. Prinsip saring sebelum sharing dinilai penting agar informasi yang disebarkan benar, bermanfaat, tidak merugikan, dan layak untuk dikonsumsi publik.
"Sebelum mengunggah atau membagikan suatu materi atau konten, siswa harus memiliki kebiasaan bertanya, meneliti, membaca, dan memahami terlebih dahulu. Jadi harus disaring dulu sebelum di-sharing. Apakah informasi itu benar, bermanfaat atau tidak, merugikan atau tidak, layak atau tidak. Kalau semuanya sudah melalui proses penyaringan, barulah kemudian di-sharing ke teman atau ke publik," katanya.
Ia menambahkan, nilai tabayun yang diajarkan Rasulullah relevan diterapkan dalam membangun etika komunikasi pelajar di ruang digital. Siswa perlu memahami bahwa media sosial bukan ruang bebas tanpa tanggung jawab, melainkan bagian dari lingkungan pergaulan yang tetap membutuhkan akhlak dan etika. Komunikasi di dunia maya harus dilakukan secara santun tanpa menghina, merendahkan, menyebarkan aib, maupun menyakiti orang lain.
"Akhlak Rasulullah hadir bukan sekadar di masjid, tetapi juga harus di ruang kelas dan media sosial. Akhlak ini harus betul-betul terwujud di semua lingkungan pergaulan, baik di kehidupan nyata maupun di dunia maya," ucapnya.
Selain siswa, guru juga memiliki peran strategis dalam memperkuat pendidikan karakter melalui contoh nyata. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi atau kisah keteladanan Rasulullah, tetapi harus mampu memperlihatkan nilai kejujuran, empati, kasih sayang, dan tanggung jawab dalam proses pendidikan. Keteladanan guru dinilai memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan sekadar memberikan nasihat kepada siswa.
"Dalam pendidikan karakter, keteladanan guru sering kali lebih kuat daripada sekadar nasihat. Guru bicara tentang kejujuran, siswa harus melihat apakah kejujuran itu sudah dipraktikkan atau tidak. Oleh karena itu, contoh baik dan praktik nyata jauh lebih penting dibandingkan kita memberikan seribu nasihat," ujarnya.
Ke depan, pihaknya berharap nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW semakin terintegrasi dalam budaya pendidikan di Kabupaten Buleleng. Sekolah dan madrasah didorong mengembangkan pembiasaan yang terukur melalui gerakan kejujuran, empati, kebersihan, literasi Al-Qur'an, dan etika digital, dengan melibatkan pula peran orang tua. Dengan demikian, Maulid Nabi diharapkan menjadi titik awal perubahan perilaku, sekaligus membentuk generasi yang cerdas, santun, kritis, dan mampu bertanggung jawab dalam kehidupan nyata maupun ruang digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....