Kasi Pendis Buleleng Tekankan Etika Digital Pelajar, Saring Sebelum Sharing

  • 26 Agt 2026 06:31 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Kepala Seksi Pendidikan Islam (Kasi Pendis) Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Haji Lewa Karma., M.Pd., menekankan pentingnya penguatan etika digital bagi pelajar di tengah semakin tingginya penggunaan media sosial. Siswa dinilai perlu memiliki kemampuan menyaring informasi sebelum mengunggah maupun membagikannya kepada orang lain. Pesan tersebut menjadi bagian dari penerapan nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital.

Menurutnya, perkembangan teknologi memberikan banyak manfaat bagi proses pembelajaran, namun juga menghadirkan berbagai persoalan baru bagi kalangan pelajar. Penyebaran hoaks, cyberbullying, ujaran yang menyakiti orang lain, hingga penggunaan media sosial secara tidak bijak menjadi tantangan yang perlu direspons melalui pendidikan karakter. Karena itu, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga harus disertai pemahaman mengenai etika.

Ia mengatakan, sebelum membagikan sebuah informasi, siswa harus membiasakan diri untuk memeriksa dan memahami terlebih dahulu isi informasi tersebut. Setiap konten yang diterima perlu dipertimbangkan dari sisi kebenaran, manfaat, serta dampaknya terhadap orang lain. “Jadi sebelum mengunggah atau membagikan suatu materi konten, siswa harus memiliki kebiasaan bertanya, meneliti, membaca, dan memahami dulu. Jadi harus disaring dulu sebelum di-sharing,” ujarnya pada Selasa, 25 Agustus 2026.

Prinsip tersebut, lanjutnya, dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana dengan mempertanyakan apakah informasi yang akan dibagikan benar, bermanfaat, merugikan orang lain, atau layak disebarluaskan kepada publik. Apabila informasi belum melalui proses penyaringan yang baik, siswa diharapkan tidak terburu-buru meneruskannya. “Apakah informasi itu benar, bermanfaat atau tidak, merugikan atau tidak, layak atau tidak. Kalau sudah semuanya betul-betul melalui proses penyaringan, barulah kemudian di-sharing ke teman atau di publik,” katanya.

Dalam konteks tersebut, ia menilai nilai tabayun yang diajarkan dalam Islam memiliki relevansi kuat dengan kehidupan digital saat ini. Sikap memeriksa dan memastikan kebenaran informasi menjadi bagian penting untuk mencegah penyebaran berita bohong maupun informasi yang dapat menimbulkan dampak negatif. Nilai tersebut juga sejalan dengan akhlak Rasulullah SAW dalam membangun komunikasi yang santun dan bertanggung jawab.

Ia menegaskan, komunikasi di media sosial seharusnya tidak digunakan untuk menghina, merendahkan, menyebarkan aib, maupun menyakiti orang lain. Pelajar perlu memahami bahwa perilaku dan etika tetap harus dijaga meskipun komunikasi dilakukan melalui ruang digital. “Nilai-nilai yang ditanamkan Rasulullah adalah nilai tabayun dan bagaimana komunikasi itu dilakukan dengan santun, tidak menghina, tidak merendahkan, tidak menyebarkan aib dan tidak menyakiti orang lain,” ucapnya.

Lebih lanjut, Kasi Pendis Buleleng menyampaikan bahwa penerapan akhlak Rasulullah tidak boleh hanya berlangsung dalam kegiatan keagamaan atau pembelajaran di sekolah dan madrasah. Nilai tersebut harus menjadi bagian dari seluruh lingkungan pergaulan siswa, termasuk saat menggunakan media sosial. “Jadi akhlak Rasulullah hadir bukan sekadar di masjid, tapi juga harus di ruang kelas dan juga harus di media sosial. Akhlak ini harus betul-betul terwujud di semua lingkungan pergaulan, baik di kehidupan nyata maupun di dunia maya,” ujarnya.

Penguatan etika digital, menurutnya, menjadi semakin penting karena persoalan pelajar saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Dunia pendidikan juga menghadapi persoalan bullying, kekerasan, kecanduan gawai, penyalahgunaan media sosial, penyebaran hoaks, intoleransi, hingga krisis keteladanan. Kondisi tersebut membutuhkan penguatan nilai moral yang konsisten melalui peran keluarga, guru, dan lingkungan pendidikan.

Ia pun mendorong seluruh guru untuk mengambil peran sebagai figur teladan bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter, menurutnya, harus berjalan seiring dengan peningkatan kecerdasan intelektual agar siswa mampu berkembang menjadi generasi yang kritis tanpa kehilangan kesantunan dan etika. “Mari kita memberikan teladan yang baik agar semua guru memberikan pondasi bahwa kecerdasan ini harus berjalan searah dengan akhlak,” katanya.

Melalui momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, siswa di Buleleng diharapkan tidak hanya mengenal kisah dan keteladanan Rasulullah sebagai materi pembelajaran. Nilai kejujuran, amanah, kasih sayang, tanggung jawab, toleransi, dan etika komunikasi diharapkan dapat diterjemahkan dalam perilaku nyata. Dengan demikian, peringatan Maulid dapat menjadi penguat pendidikan karakter, termasuk dalam membangun budaya digital yang lebih santun, kritis, dan bertanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....