Kemarau Panjang, BPBD Buleleng Petakan Wilayah Rawan Kekeringan dan Krisis Air

  • 16 Agt 2026 14:00 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih menyusul ancaman kemarau panjang. Kesiapsiagaan diperkuat untuk memastikan kebutuhan air masyarakat di wilayah rawan dapat segera ditangani.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Buleleng, I Gede Dharma Sudana, mengatakan berdasarkan informasi dan koordinasi dengan BMKG, kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga November.

Dharma menyebut kecamatan Gerokgak dan Kecamatan Tejakula menjadi daerah yang mendapat prioritas pemantauan. Sementara itu, Kecamatan Sawan juga mulai mendapat perhatian karena sejumlah desa mengalami penurunan debit sumber air akibat kondisi cuaca yang panas.

“Yang menjadi pantauan kami untuk wilayah kekeringan ada di wilayah barat, yaitu Gerokgak, dan wilayah timur di Kecamatan Tejakula. Tidak menutup kemungkinan wilayah di tengah seperti Sawan, karena beberapa hari ini ada desa yang debit airnya menurun,” ujarnya, Sabtu 15 Agustus 2026.

Menurut Darma, penyaluran air bersih dilakukan berdasarkan laporan dari pemerintah desa. Setelah laporan diterima, BPBD akan menganalisis penyebab kekurangan air dan menentukan kebutuhan distribusi, termasuk melibatkan mitra jika kemampuan armada BPBD tidak mencukupi.

“Setiap saat masyarakat bisa melaporkan kekurangan air. Laporan dari desa akan masuk ke Pusdalops, kemudian kami analisis apakah bisa kami distribusikan langsung atau membutuhkan bantuan dari mitra-mitra,” ucapnya.

BPBD Buleleng saat ini hanya memiliki satu unit truk tangki, sehingga penanganan kekeringan membutuhkan kolaborasi dengan PMI, PDAM, Kementerian PU, BPBD Provinsi Bali, serta unsur lainnya. Kolaborasi dilakukan agar distribusi air dapat menjangkau lebih banyak wilayah terdampak.

Selain distribusi air bersih, BPBD mendorong langkah jangka panjang melalui penghijauan dan penanaman pohon sejak musim penghujan. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kelembapan tanah dan mengurangi risiko kekeringan yang berulang setiap tahun.

Ia juga mengimbau masyarakat segera melaporkan kondisi kekurangan air melalui pemerintah desa. Laporan selanjutnya diteruskan ke Pusdalops BPBD yang bersiaga selama 24 jam, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat sesuai tingkat kebutuhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....