Moderasi Beragama Dimulai dari Sikap Bijaksana

  • 27 Jun 2026 15:59 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Moderasi beragama bukan sekadar slogan, melainkan cara pandang dan praktik beragama yang mengedepankan keseimbangan, toleransi, serta sikap saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Dewa Gede Bayu Segara, dalam dialog Moderasi Beragama di Pro 1 RRI Singaraja. Menurutnya, konsep moderasi beragama telah lama diajarkan dalam ajaran Hindu dan menjadi landasan penting dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.

"Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang mengedepankan keseimbangan. Artinya tidak berlebihan, tidak ekstrem, dan mampu menempatkan diri di tengah," ujarnya.

Ia menjelaskan, ajaran Hindu mengenal konsep Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti, yang mengandung makna bahwa kebenaran itu satu, namun dipahami dan disebut dengan berbagai cara oleh para bijaksana. Nilai tersebut mengajarkan umat untuk menghargai perbedaan tanpa kehilangan keyakinan terhadap agamanya sendiri.

Selain itu, terdapat pula ajaran Vasudhaiva Kutumbakam yang memandang seluruh umat manusia sebagai satu keluarga besar. Menurutnya, prinsip ini selaras dengan semangat moderasi beragama yang mendorong masyarakat hidup berdampingan secara damai, saling membantu, dan tidak mengkotak-kotakkan sesama berdasarkan agama, suku, maupun latar belakang lainnya.

Dewa juga menekankan pentingnya penerapan nilai Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Menurutnya, toleransi tidak hanya diwujudkan dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga melalui kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga bersama.

Di era digital, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing emosi saat menyikapi berbagai persoalan, khususnya di media sosial. Kritik tetap diperbolehkan, namun harus disampaikan dengan etika dan tidak memicu perpecahan.

"Ketika kita bersikap moderat, kita harus lebih bijaksana dalam mengkritisi sesuatu. Gunakan etika dan jangan terlalu ekstrem dalam menyampaikan pendapat," katanya.

Ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah menanamkan nilai-nilai moderasi kepada generasi muda. Pendekatan yang dilakukan tidak cukup melalui aturan semata, melainkan dengan dialog yang persuasif dan penuh kasih sehingga nilai-nilai toleransi dapat diterima dengan baik.

Menutup dialog, Dewa mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan kebijaksanaan sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, sikap moderat akan melahirkan kedamaian dan memperkuat persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

"Di atas kebenaran ada kebijaksanaan. Dengan menjadi pribadi yang moderat, tidak berlebihan, dan mampu menempatkan diri, kita akan lebih mudah mewujudkan kerukunan dan kedamaian bersama," ucapnya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....