Empati Digital Dimulai Dari Nilai Luhur Tat Twam Asi
- 21 Jul 2026 08:42 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Maraknya fenomena saling menghakimi, perundungan digital, hingga budaya cancel culture di media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Untuk menghadapi kondisi tersebut, nilai-nilai luhur Tat Twam Asi dinilai mampu menjadi pedoman dalam membangun sikap yang lebih bijaksana ketika berinteraksi di ruang digital. Hal itu disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Sumertayasa, saat mengisi program Obrolan SPADA Pro 2 RRI Singaraja, Selasa, 21 Juli 2026.
Sumertayasa menjelaskan bahwa media sosial sering kali membuat seseorang lebih mudah menghakimi dibandingkan memahami keadaan orang lain. Padahal, setiap individu memiliki cerita yang belum tentu diketahui publik. "Dari konsep Tat Twam Asi ini kita belajar menghargai. Jangan langsung ketika ada satu masalah kita mengambil keputusan untuk menjatuhkan atau memberikan komentar negatif terhadap seseorang tanpa tahu penyebab sebenarnya," ujar Sumertayasa. Menurutnya, membiasakan diri berpikir sebelum berkomentar merupakan bentuk sederhana penerapan filosofi tersebut di era digital.
Selain persoalan media sosial, ia juga menyoroti semakin besarnya pengaruh ego dalam kehidupan generasi muda. Rasa iri terhadap pencapaian orang lain, menurutnya, sering kali memicu persaingan yang tidak sehat. "Bagaimana kita bisa mengolah ego yang ada di dalam diri kita dengan konsep Tat Twam Asi supaya tidak sampai melakukan hal-hal negatif untuk menjatuhkan orang lain hanya demi menonjolkan diri sendiri," kata Sumertayasa. Ia menilai pengendalian diri menjadi kunci agar generasi muda tidak mudah terbawa emosi maupun tekanan lingkungan yang kompetitif.
Dalam kesempatan tersebut, Sumertayasa juga menegaskan bahwa Tat Twam Asi tidak hanya berlaku dalam hubungan antarsesama umat Hindu, tetapi memiliki makna universal yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Menghormati perbedaan agama, budaya, adat istiadat, hingga cara beribadah merupakan bagian dari implementasi nilai tersebut. Menurutnya, kehidupan yang harmonis hanya dapat tercipta apabila setiap individu mampu melihat sesama manusia sebagai pribadi yang sama-sama memiliki martabat dan hak untuk dihormati.
Di akhir, Sumertayasa mengajak generasi muda memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan hal-hal positif, bukan menjadi sarana memperbesar konflik. Ia berharap anak muda dapat menjadi teladan dalam membangun budaya digital yang santun, penuh empati, dan saling menghargai. Dengan menghidupkan kembali nilai Tat Twam Asi dalam kehidupan sehari-hari, ruang digital diharapkan menjadi tempat yang lebih sehat sekaligus memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....