Sampah Plastik Jadi Plang Jalan, Wajah Baru Kota Singaraja

  • 25 Jun 2026 17:28 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Pemerintah Kabupaten Buleleng mulai menerapkan inovasi pemanfaatan sampah plastik daur ulang sebagai material papan nama jalan. Program bertajuk Buleleng Terra Sign itu ditandai dengan pemasangan perdana plang jalan ramah lingkungan di kawasan Titik Nol Kota Singaraja, Kamis, 25 Juni 2026.

Langkah tersebut menjadi bagian dari penataan kawasan strategis pusat Kota Singaraja yang menggabungkan fungsi infrastruktur, estetika perkotaan, dan pengelolaan lingkungan. Program ini merupakan hasil kolaborasi Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng bersama Rumah Plastik Mandiri Buleleng dengan memanfaatkan sampah plastik yang selama ini menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan lingkungan.

Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG, mengatakan inovasi tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan pembangunan yang tidak hanya berfokus pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga memberikan solusi terhadap persoalan sampah plastik yang terus meningkat.

“Melalui inovasi ini, sampah plastik yang selama ini menjadi masalah lingkungan kami ubah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Ini bukan sekadar papan nama jalan, tetapi simbol komitmen Buleleng dalam membangun daerah yang bersih, hijau, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Sutjidra, pemanfaatan sampah plastik sebagai material infrastruktur kota merupakan langkah konkret dalam mendukung ekonomi sirkular sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Ia menilai pembangunan ke depan harus mampu menjawab tantangan lingkungan melalui inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Pembangunan masa depan harus mampu menjawab tantangan lingkungan. Kami ingin menunjukkan bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan baik. Harapannya, inovasi ini dapat menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengurangan sampah plastik,” katanya.

Ia menambahkan, program tersebut diharapkan dapat menekan timbulan sampah plastik, memperkuat budaya daur ulang di tengah masyarakat, sekaligus mendukung upaya menciptakan lingkungan yang lebih tertata.

Pemerintah Kabupaten Buleleng juga berkomitmen untuk terus mengembangkan berbagai inovasi yang menggabungkan aspek pembangunan dan keberlanjutan lingkungan.

“Ini adalah langkah kecil dengan dampak besar. Ketika sampah bisa menjadi bagian dari infrastruktur kota, maka kita sedang membangun peradaban yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng, Gede Gunawan Adnyana Putra, menjelaskan bahwa gagasan pemanfaatan sampah plastik untuk papan nama jalan berawal dari arahan Bupati dan Wakil Bupati Buleleng dalam merancang gerakan baru penataan kawasan perkotaan, khususnya di kawasan Titik Nol Singaraja. Meski menggunakan material daur ulang, seluruh desain tetap mengacu pada standar teknis Kementerian Perhubungan sehingga aspek keselamatan dan keterbacaan tetap terjamin.

“Penataan kawasan tidak hanya harus aman dan tertib, tetapi juga ramah lingkungan. Lampu penerangan jalan menggunakan PJUTS, kabel ditanam di bawah tanah, dan papan nama jalan kami hadirkan dari material hasil daur ulang sampah plastik. Hari ini kita baru pasang 3 plang papan nama jalan di 3 ruas jalan kawasan titik nol dengan total 10 plang yang nanti sisanya akan dipasang di ruas jalan lainnya,” ujarnya.

Pada tahap awal, sebanyak 10 papan nama jalan dipasang pada lima ruas jalan di kawasan Titik Nol Singaraja. Menariknya, untuk memproduksi 10 papan nama jalan tersebut dibutuhkan sekitar 1,2 ton sampah plastik mentah yang dikumpulkan dari jaringan bank sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang tersebar di Kabupaten Buleleng.

Pemilik Rumah Plastik Mandiri Buleleng, Eka Darmawan, mengatakan material yang digunakan berasal dari plastik jenis HDPE yang memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca dan aman digunakan untuk fasilitas publik. Selain itu, desain papan nama jalan juga mengadopsi identitas lokal dengan sentuhan seni Bali serta rencana penambahan ornamen khas Buleleng tanpa mengurangi fungsi utamanya sebagai sarana informasi lalu lintas, katanya.

Selain berfungsi sebagai penunjuk arah, papan nama jalan berbahan daur ulang tersebut menjadi contoh pemanfaatan sampah menjadi infrastruktur yang memiliki nilai guna tinggi. Ke depan, desain Buleleng Terra Sign direncanakan akan didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Buleleng. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong lahirnya inovasi-inovasi baru berbasis lingkungan di Kabupaten Buleleng.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....