Memahami Esensi Kematian Sesuai Pandangan Tattwa dan Upacara
- 11 Jun 2026 07:20 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Kematian sering kali dipandang sebagai akhir yang menakutkan atau momen duka yang mendalam. Namun, dalam perspektif agama Hindu, kematian memiliki dimensi yang jauh lebih luas dan mendalam.
Dalam buku berjudul Makna Upacara Yajña dalam Agama Hindu, cendekiawan Hindu I Ketut Wiana membedakan konsep mati ke dalam dua pandangan utama, yaitu mati secara Tattwa (filsafat/hakikat) dan mati secara upacara. Pemahaman ini penting agar umat dapat menyikapi perpisahan dengan keikhlasan.
Secara Tattwa, kematian diartikan sebagai momentum kembalinya unsur-unsur pembentuk manusia ke asalnya. Lontar Wṛhaspati Tattwa menegaskan bahwa mati pada hakikatnya adalah proses berpisahnya Atma (roh) dengan Panca Maha Butha (lima unsur fisik pembentuk badan kasar). Ketika seseorang mengembuskan napas terakhirnya, hanya badan kasarnya yang lenyap dan hancur, sedangkan Atma tetap bersifat langgeng dan tidak berubah karena seluruh alam semesta ini sejatinya dipenuhi oleh Atma.
Sedangkan secara upacara, menurut tradisi Hindu, khususnya di Bali, suatu kematian baru dianggap sah apabila telah melalui rangkaian upacara Mereteka (perawatan jenazah) yang tata caranya diuraikan dalam Lontar Pretekaning Wong Pejah.
Prosesi ini dimulai dari memandikan jenazah hingga mencapai puncaknya pada upacara Mapepegat. Upacara Mapepegat bersama keluarga yang masih hidup inilah yang menjadi simbol sahnya seseorang disebut telah meninggal dunia.
Pada saat upacara pengesahan kematian ini berlangsung, umat sangat dianjurkan untuk tidak bersedih. Ketika jenazah diberangkatkan menuju pemakaman (Setra), keluarga diharapkan melepaskannya dengan hati yang ikhlas dan suci.
Keikhlasan dalam melepaskan kepergian tersebut dilambangkan melalui tradisi menaburkan Sekar Ura di sepanjang perjalanan menuju Setra,
Daun Temen dan Daun Dapdap sebagai bahan utama Sekar Ura. Daun Temen (artinya akrab atau harmonis dalam bahasa Bali) melambangkan komitmen untuk menjaga keharmonisan hubungan antara kehidupan di dunia nyata (Sakala) dan dunia roh (Niṣkala). Sementara daun Dapdap disebut sebagai Taru Sakti dalam Lontar Taru Premaṇa, melambangkan kasih sayang (Prema).
Uang Kepeng (Uang Bolong) dan Beras Kuning dalam Sekar Ura melambangkan doa agar perpisahan tersebut membawa kebahagiaan dan kemakmuran, baik bagi keluarga yang ditinggalkan di dunia Sakala maupun bagi roh yang menuju dunia Niṣkala. Uang kepeng (Artha) yang digunakan sebagai sesari juga berfungsi sebagai lambang penebusan untuk menyempurnakan segala kekurangan yang tidak disengaja selama upacara berlangsung.
I Ketut Wiana dalam buku ini juga mengungkapkan adanya ikatan spiritual yang kuat dan tidak putus begitu saja pascakematian. Jika keluarga memperlakukan mendiang dengan baik sesuai ketentuan agama, roh yang telah mencapai tempat mulia (Sang Dewa Pitara) diyakini akan melakukan Nangun Tapa demi membawa berkah, rahmat, dan kemuliaan bagi keturunannya yang masih berjuang di dunia Sakala.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....