Bawaslu Buleleng Pastikan Penyandang Disabilitas Terlibat Demokrasi
- 08 Jun 2026 21:42 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - emperkuat demokrasi yang inklusif terus dilakukan Bawaslu Kabupaten Buleleng. Tidak hanya melalui forum resmi, penguatan demokrasi juga dilakukan dengan turun langsung ke masyarakat untuk memastikan seluruh warga negara memperoleh hak dan kesempatan yang sama dalam kehidupan demokrasi.
Langkah tersebut terlihat saat Bawaslu Buleleng melaksanakan konsolidasi demokrasi di wilayah Sangket, Kelurahan Sukasada, Senin 8 Juni 2026. Kegiatan itu dilakukan dengan mengunjungi salah seorang masyarakat penyandang disabilitas sebagai bagian dari upaya mendorong demokrasi yang partisipatif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan.
Dalam kegiatan tersebut, Anggota Bawaslu Buleleng, I Ketut Adi Setiawan, berdialog langsung dengan masyarakat untuk mendengarkan aspirasi sekaligus memastikan penyandang disabilitas mendapatkan ruang yang setara dalam proses demokrasi. Menurutnya, kelompok disabilitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan demokrasi dan harus memperoleh perlindungan hak politik yang sama seperti warga negara lainnya.
“Demokrasi yang berkualitas adalah demokrasi yang memberikan ruang kepada seluruh warga negara tanpa terkecuali. Penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi, menyampaikan pendapat, serta terlibat dalam setiap proses demokrasi. Karena itu, penting bagi kita untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang terpinggirkan dalam pelaksanaan Pemilu maupun Pemilihan,” ujarnya.
Adi menjelaskan, pengawasan partisipatif yang selama ini dikembangkan Bawaslu tidak hanya menyasar masyarakat umum. Kelompok rentan yang kerap menghadapi keterbatasan dalam mengakses informasi dan layanan kepemiluan juga menjadi perhatian agar dapat terlibat aktif dalam setiap tahapan demokrasi.
“Kami ingin memastikan bahwa semangat pengawasan partisipatif dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Kehadiran kami di tengah masyarakat merupakan bagian dari upaya membangun kedekatan sekaligus mendengar secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi warga, termasuk penyandang disabilitas,” katanya.
Menurut Adi, mewujudkan Pemilu yang inklusif membutuhkan dukungan berbagai pihak. Akses terhadap informasi kepemiluan, pendidikan politik, hingga partisipasi dalam pengawasan harus dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang maupun kondisi fisik.
“Pemilu yang inklusif bukan hanya tentang menyediakan akses saat hari pemungutan suara, tetapi juga memastikan seluruh tahapan dapat diikuti dan dipahami oleh semua kalangan. Ketika seluruh masyarakat dapat berpartisipasi secara setara, maka kualitas demokrasi akan semakin kuat,” ucapnya.
Selain melaksanakan konsolidasi demokrasi, Bawaslu Buleleng juga menyerahkan bantuan sembako kepada masyarakat yang dikunjungi. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus mempererat hubungan antara lembaga dan masyarakat yang selama ini menjadi bagian penting dalam pengawasan partisipatif.
“Bantuan ini mungkin tidak besar, tetapi kami berharap dapat memberikan manfaat dan sedikit meringankan kebutuhan sehari-hari. Yang terpenting adalah membangun kepedulian dan kebersamaan, karena demokrasi yang kuat juga lahir dari rasa saling peduli antar sesama,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu Buleleng berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya demokrasi dan pengawasan partisipatif terus meningkat. Keterlibatan penyandang disabilitas dalam setiap proses demokrasi juga diharapkan semakin kuat sehingga pelaksanaan Pemilu dan Pemilihan dapat berjalan lebih inklusif, jujur, adil, dan berintegritas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....