Pasokan Berkurang, Harga Cabai Rawit Merah di Buleleng Melonjak
- 05 Jun 2026 13:11 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Harga cabai rawit merah dan bawang merah di Kabupaten Buleleng mengalami kenaikan pada awal Juni 2026. Kenaikan tersebut dipicu berkurangnya pasokan akibat faktor cuaca, sementara permintaan masyarakat masih tetap tinggi.
Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Dagperinkopukm) Kabupaten Buleleng, Dewa Made Sudiarta, mengatakan pemantauan harga kebutuhan pokok di Pasar Anyar dan Pasar Banyuasri menunjukkan sebagian besar komoditas masih relatif stabil. Namun, beberapa komoditas strategis mengalami kenaikan dibandingkan hari sebelumnya.
Berdasarkan data pemantauan harga per Kamis 4 Juni 2026, harga cabai rawit merah di Pasar Anyar mencapai Rp68.000 per kilogram dan di Pasar Banyuasri Rp70.000 per kilogram. Harga tersebut naik masing-masing Rp9.000 dan Rp10.000 per kilogram dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, bawang merah tercatat Rp48.000 per kilogram di Pasar Anyar dan Rp50.000 per kilogram di Pasar Banyuasri, atau naik Rp8.000 dan Rp7.000 per kilogram.
“Secara umum harga kebutuhan pokok masih terkendali. Namun untuk cabai rawit merah dan bawang merah memang terjadi kenaikan karena pasokan berkurang akibat kondisi cuaca, sementara permintaan masyarakat tetap tinggi dan biaya distribusi juga mengalami peningkatan,” ujar Dewa Made Sudiarta.
Selain dua komoditas tersebut, harga sejumlah kebutuhan pokok lainnya terpantau relatif stabil. Harga beras premium berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp16.000 per kilogram, sedangkan gula pasir mencapai Rp18.000 per kilogram. Minyak goreng curah tercatat Rp19.800 per liter dan Minyakita dijual Rp15.700 per liter.
Dewa Made Sudiarta menjelaskan beberapa komoditas seperti minyak goreng, gula pasir, daging ayam ras utuh, telur ayam ras, dan bawang putih masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya kebutuhan masyarakat serta tingginya biaya produksi di tingkat pemasok.
Sementara itu, harga beras premium dan beras medium juga masih tercatat di atas HET akibat produksi yang belum optimal dan tingginya permintaan konsumen terhadap beras kualitas premium. Meski demikian, pemerintah daerah terus melakukan pemantauan pasar guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan bahan pokok.
Dagperinkopukm Buleleng memastikan koordinasi dengan distributor, pedagang, dan instansi terkait terus dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan harga yang berpotensi membebani masyarakat. Pemerintah juga mengimbau masyarakat berbelanja secara bijak serta tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memicu kenaikan harga di pasaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....