Bubur Pirata dalam Upacara Pitra Yadnya
- 04 Jun 2026 10:34 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Bubur Pirata merupakan salah satu sarana upakara wajib yang berfungsi sebagai bekal dan persembahan suci bagi Sang Atma (leluhur) dalam perjalanannya menuju alam niskala.
Menurut Ida Bhawati Hermawan Tangkas, Manggala Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha, Bubur Pirata merupakan sarana yang wajib ada dalam prosesi penguburan atau pembakaran jenazah. Dasar penggunaannya tertuang dalam Lontar Yama Purwana Tattwa, serta berbagai teks sastra agama Hindu, yang mengatur tentang yadnya, tata cara penyucian jenasah dan teologi kematian.
"Secara etimologi, kata bubur merujuk pada proses penghancuran atau peleburan, sedangkan pitara atau pirata berarti roh leluhur atau sumber kekuatan alam. Jadi, Bubur Pirata ini simbol proses pengembalian unsur fisik manusia kehadapan sang pencipta,” ujar Ida Bhawati.
Selain sebagai simbol peleburan fisik, bubur pirata ini juga berfungsi sebagai bekal spiritual bagi sang roh dalam perjalanannya menuju alam baka.
Ida Rsi Surya Wianjana dari Geria Giri Katilasari Desa Sepang, Busungbiu, Buleleng mengatakan Bubur Pirata secara filosofis adalah bekal spiritual bagi sang roh dalam perjalanannya menuju alam niskala. Bubur Pirata terdiri dari dua warna utama Putih dan Kuning masing-masing berjumlah 54.
“Angka 54 itu jika diuraikan, 5 tambah 4 jumlahnya 9. Kemudian 54 tambah 54 jumlahnya 108. 108 dijumlahkan 1 tambah 8 hasilnya juga 9. Angka 9 merupakan angka yang istimewa. Jika dikaitkan dengan tubuh manusia, maka ada 9 lobang yang perlu dibersihkan,” ujar Ida Rsi.
Pertemuan antara 54 bubur putih dan 54 bubur kuning adalah simbol penyatuan dualitas alam Purusha dan Prakerti, Sukla dan Swanita, ayah dan ibu. Ketika angka ini menyatu menjadi 108, ia melambangkan kesempurnaan siklus kehidupan, kematian, dan kembalinya sang atma ke asal mula (Sunya).
Ida Rsi menambahkan bahwa, Bubur Kuning ditempatkan di atas daun medori yang menghadap ke atas (tengadah). Hal ini sebagai simbol sifat kedewataan, keluhuran, spirit Purusha (kesadaran/kejiwaan), serta permohonan agar sang atma mendapatkan jalan terang (cahaya) menuju alam atas.
Sedangkan Bubur Putih ditempatkan di atas daun medori yang menghadap ke bawah (telungkup). Ini sebagai simbol bumi atau Prakerti (kebendaan/unsur material), serta proses pengembalian unsur Panca Maha Bhuta yakni lima elemen dasar yang membentuk alam semesta (Bhuana Agung) dan tubuh manusia (Bhuana Alit).
| Baca juga: Orti Simbol Komunikasi dalam Upakara di Bali |
Di dalam sajian Bubur Pirata, terdapat elemen penting berupa maja muju, maja keling, serta kacang hijau yang disangrai (menyahnyah). Maja Muju dan Maja Keling melambangkan dualitas karma manusia selama hidup di dunia (baik dan buruk). Maja Muju dan Maja Keling diyakini sebagai penetralisir atau peleburan noda-noda (klesa) yang masih melekat pada sang atma, agar ia dapat menghadap Sang Pencipta dalam kondisi suci.
Kacang Hijau yang Disangrai (Menyahnyah) melambangkan proses pembakaran benih-benih karma buruk. Diibaratkan biji yang disangrai tidak akan bisa tumbuh lagi menjadi tanaman baru, proses ini adalah doa agar benih-benih dosa sang atma hangus, sehingga ia tidak lagi terikat pada hukum kelahiran kembali (samsara) yang penuh penderitaan.
Selain itu disisipkan potongan ilalang dan rumput atau padang lepas. Ilalang simbol ketajaman pikiran, penyucian, dan padang lepas, sebuah metafora untuk kebebasan mutlak (moksa). Penggunaan ilalang diartikan sebagai jalan pembebasan bagi sang atma (roh) agar dapat memotong tali pengikat keduniawian dan melintasi pembatas menuju alam pitra.
Bubur Pirata pada hakikatnya adalah lambang cinta kasih sentana (keturunan) kepada leluhurnya. Melalui perantara bubur pirata, keluarga sedang menghantarkan doa agar sang atma mampu memotong belenggu duniawi, menuju keabadian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....