Pelestarian Seni Gegindeman dalam Program Penyuluhan Agama
- 27 Jul 2026 06:29 WIB
- Singaraja
RRI.CO.COM, Singaraja - Seni tradisi Bali terus mengalami dinamika dan kreasi baru dalam upaya penyampaian pesan-pesan moral serta ajaran agama Hindu. Salah satu bentuk inovasi yang diangkat dalam program penyuluhan adalah Seni Gegindeman, yaitu kombinasi kolaboratif antara olah vokal (Dharma Gita) dan diskusi (Dharma Tula) yang diiringi tabuh gamelan.
Dalam dokumentasi program acara Obrolan Budaya RRI Singaraja dengan topik Pelestarian Seni Gegindeman, dibahas bagaimana seni Gegindeman menjadi terobosan baru untuk membumikan ajaran agama Hindu di tengah masyarakat tanpa kesan kaku atau membosankan.
Gegindeman pada dasarnya mengadopsi istilah dari seni pewayangan yang bermakna paruman atau perkumpulan untuk membahas ajaran agama secara lebih rileks. Inovasi ini digagas oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng guna mengoptimalkan pemanfaatan bantuan instrumen musik/gamelan, seperti Semar Pegulingan, gender, dan geguntangan sebagai media penyuluhan yang komunikatif.
Narasumber, Kepala Bidang Pendidikan Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Ketut Ariawan, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Seksi Urusan Agama Kementrian Agama Kabupaten Buleleng, menjelaskan struktur pertunjukan Gegindeman.
"Gegindeman ini muncul dari inovasi pemanfaatan instrumen gamelan, agar tidak mubazir, dikolaborasikan antara tabuh dan gegitaan. Susunannya terdiri dari tiga bagian yaitu Pengawit (pembukaan dan salam selamat datang), bagian inti, di mana sastra-sastra agama dibahas dan didiskusikan secara interaktif, hingga Pengecat sebagai penutup yang menyimpulkan hasil dialog,” kata I Ketut Ariawan.
Dalam pementasannya, Gegindeman dapat dimainkan oleh sekitar 20 orang penabuh dan penembang. Penonton maupun masyarakat yang hadir pun diajak untuk aktif bertanya dan berdiskusi seputar materi keagamaan yang disampaikan.
Penggunaan metode dialog berbasis seni ini dinilai lebih efektif dibandingkan metode ceramah satu arah (Dharma Wacana) yang terkadang membuat audiens jenuh.
Melalui seni Gegindeman, nilai-nilai kebenaran (Satyam), kesucian (Siwam), dan keindahan (Sundaram) dapat menyatu. Seorang penyuluh dituntut untuk multitalenta dan adaptif dengan seni. Ketika ajaran agama dikemas dengan seni, masyarakat tidak hanya menonton, tetapi juga mendapatkan pemahaman agama yang mendalam secara menyenangkan.
Gegindeman memberikan wadah bagi generasi muda dan masyarakat untuk berdiskusi serta membedah intisari ajaran sastra. Konsep ini sangat relevan untuk mengangkat isu-isu kekinian seperti moderasi beragama dan etika kerja, serta sangat potensial jika disebarluaskan melalui media sosial.
Seni Gegindeman tergolong seni klasik-modern yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan konteks upacara Panca Yadnya di masyarakat. Dengan memadukan unsur edukasi, ajaran agama, serta hiburan (bebanyolan atau dialog jenaka), Gegindeman diharapkan terus menjadi media penyuluhan agama yang efektif dan digemari oleh berbagai lapisan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....