KMHDI Buleleng Cetak Kader Kritis Hadapi Tantangan AI Dalam Pendidikan
- 31 Mei 2026 20:14 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuka banyak peluang dalam dunia pendidikan. Di sisi lain, penggunaan teknologi yang semakin masif juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait kemampuan generasi muda dalam berpikir kritis saat menerima dan mengolah informasi.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) ke-XXXI Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Buleleng yang digelar di Aula Rektorat Institut Mpu Kuturan (IMK), Kelurahan Banyuning, Minggu 31 Mei 2026. Kegiatan bertema “Membentuk Kader Kritis dalam Menjawab Tantangan Pendidikan Generasi Hindu” itu diikuti sekitar 50 peserta dari kalangan mahasiswa, organisasi kepemudaan, akademisi, hingga pemerintah daerah.
Melalui kegiatan tersebut, KMHDI Buleleng mendorong lahirnya kader-kader muda yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir mandiri dalam menghadapi berbagai persoalan sosial dan pendidikan. Kemampuan menyaring informasi dinilai menjadi kebutuhan penting di tengah derasnya arus informasi digital.
Ketua Program Studi Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan IAHN Mpu Kuturan, Dr. Ayu Veronika Somawati, mengatakan generasi saat ini tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi informasi dengan akses yang sangat cepat. Kondisi itu membuat generasi muda terbiasa menerima berbagai informasi dalam waktu singkat, namun sering kali tanpa proses pendalaman yang cukup.
“AI dapat membantu proses pembelajaran, tetapi juga berpotensi menimbulkan ketergantungan jika tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis,” ujarnya.
Menurut Ayu, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi. Rendahnya literasi, pendidikan karakter, serta kecenderungan mengejar nilai akademik semata masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian bersama. Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting agar generasi muda mampu memahami persoalan secara lebih menyeluruh dan mengambil keputusan berdasarkan fakta.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAHN Mpu Kuturan, Dr. I Nyoman Suka Ardiyasa. Ia mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya kepada orang lain.
“Di era digital, informasi menyebar sangat cepat. Karena itu, kita perlu berpikir kritis agar tidak mudah tertipu hoaks dan disinformasi,” katanya.
Dalam pemaparannya, Ardiyasa juga menyinggung konsep Meboya yang dikenal di masyarakat Bali Utara. Nilai tersebut mengajarkan seseorang untuk tidak langsung menerima suatu informasi tanpa melalui proses pengecekan dan pembuktian. Menurutnya, kebiasaan itu relevan diterapkan di tengah maraknya informasi yang beredar melalui media sosial.
Sementara itu, Ketua PC KMHDI Buleleng, Komang Dia Damayanti, menegaskan bahwa MPAB bukan sekadar agenda penerimaan anggota baru. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses kaderisasi untuk membentuk generasi muda Hindu yang memiliki daya pikir kritis, kepedulian sosial, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menjadi awal kolaborasi dengan berbagai organisasi dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjawab tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini,” ujarnya.
Melalui MPAB ke-XXXI ini, KMHDI Buleleng ingin memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak. Di tengah perkembangan AI yang terus berlangsung, kemampuan berpikir kritis dinilai tetap menjadi fondasi utama agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami, menilai, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....