Budaya Instan Picu Ancaman Food Waste Generasi Muda

  • 30 Mei 2026 22:03 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Kemudahan teknologi dan layanan serba cepat telah mengubah pola konsumsi masyarakat, terutama generasi muda. Berbagai aplikasi pesan antar makanan memungkinkan seseorang mendapatkan makanan hanya dalam hitungan menit tanpa perlu keluar rumah. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena on-demand culture atau budaya serba instan yang secara tidak langsung berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah food waste atau sampah makanan. Dalam obrolan SPADA pada Jumat, 29 Mei 2026, anggota Green Youth Bali, Sensa Yudiantini dan Tia Andriyawati, mengingatkan bahwa kebiasaan konsumtif yang lahir dari budaya instan dapat menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.

Menurut Sensa, kemudahan akses terhadap makanan sering kali memicu perilaku impulsif, terutama di kalangan anak muda. Banyak orang membeli makanan bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan karena tergoda tren, promosi, atau makanan yang sedang viral di media sosial. Kondisi ini melahirkan fenomena “lapar mata” dan rasa takut ketinggalan tren atau FOMO. Akibatnya, makanan yang dipesan sering kali melebihi kebutuhan dan akhirnya tidak habis dikonsumsi.

“Budaya serba instan membuat banyak orang membeli makanan tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya,” ujar Sensa Yudiantini. Ia menilai bahwa pola konsumsi seperti ini perlu mendapat perhatian karena semakin banyak makanan yang berakhir menjadi sampah.

Persoalan food waste tidak hanya berdampak pada pemborosan sumber daya, tetapi juga memunculkan ancaman lingkungan yang sering kali luput dari perhatian masyarakat. Selama ini banyak orang lebih fokus membahas sampah plastik, padahal sampah organik juga memiliki dampak besar jika tidak dikelola dengan baik.

Tia Andriyawati menjelaskan bahwa tumpukan sampah makanan yang membusuk di tempat pembuangan dapat menghasilkan gas metana. “Gas metana dari sampah organik bisa memicu masalah lingkungan yang serius dan berkontribusi terhadap pemanasan global,” ucap Tia Andriyawati. Selain meningkatkan emisi gas rumah kaca, akumulasi gas metana di tempat pembuangan akhir juga berpotensi memicu kebakaran maupun ledakan apabila tidak ditangani dengan benar.

Untuk mengurangi persoalan tersebut, Green Youth Bali mengajak masyarakat menerapkan langkah-langkah sederhana namun efektif. Salah satunya adalah membeli dan mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan agar tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan sisa makanan sebagai pakan ternak atau mengolah limbah organik menjadi eco-enzyme melalui proses fermentasi sederhana menggunakan air, gula, dan wadah tertutup. Upaya ini dinilai mampu mengurangi volume sampah organik sekaligus memberikan manfaat tambahan bagi lingkungan. Menurut para narasumber, perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten.

Di akhir, Sensa dan Tia menekankan pentingnya edukasi bagi generasi muda mengenai pengelolaan sampah organik. Mereka berharap anak muda tidak hanya peduli terhadap isu sampah plastik, tetapi juga memahami dampak food waste terhadap lingkungan. Kesadaran untuk menghargai makanan yang dibeli dan mengendalikan perilaku konsumtif menjadi langkah awal dalam menjaga keberlanjutan ekosistem. Dengan membangun kebiasaan yang lebih bijak dan bertanggung jawab, generasi muda dapat berperan aktif dalam mengurangi sampah makanan sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....