BPBD Jembrana Ajak ASN Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Kemampuan Evakuasi Mandiri
- 08 Jun 2026 15:25 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Negara – Pemerintah Kabupaten Jembrana terus memperkuat budaya sadar bencana di lingkungan aparatur pemerintahan. Melalui apel bersama yang digelar di halaman Kantor Bupati Jembrana, Senin, 8 Juni 2026, seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) diajak memahami langkah-langkah mitigasi dan evakuasi mandiri sebagai upaya mengurangi risiko saat terjadi bencana.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana, I Putu Agus Artana Putra. Apel diikuti pejabat administrator, pejabat pengawas, pejabat fungsional, pelaksana, serta ASN di lingkungan Pemkab Jembrana.
Dalam arahannya, Agus Artana menekankan bahwa urusan kebencanaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau petugas penanggulangan bencana. Menurut dia, seluruh lapisan masyarakat, termasuk ASN, perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai potensi ancaman di wilayah masing-masing.
“Bencana bisa terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja. Karena itu setiap individu perlu mengetahui risiko yang ada di lingkungannya serta memahami cara melakukan evakuasi mandiri guna mengurangi dampak yang ditimbulkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanggulangan bencana mencakup tiga tahapan utama, yakni pra-bencana, tanggap darurat, dan pascabencana. Pada fase pra-bencana, berbagai langkah mitigasi dilakukan melalui edukasi masyarakat, pelatihan kesiapsiagaan, hingga pengoperasian sistem peringatan dini.
Menurut Agus Artana, peningkatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu kunci dalam mengurangi risiko korban saat bencana terjadi. Karena itu, BPBD Jembrana terus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi peringatan dini, termasuk Warning Receiver System untuk gempa bumi serta Early Warning System (EWS) tsunami.
“Semakin dini informasi diterima masyarakat, semakin besar peluang untuk melakukan penyelamatan diri. Edukasi dan sistem peringatan dini harus berjalan beriringan,” katanya.
Pada tahap tanggap darurat, BPBD memiliki tugas melakukan kaji cepat terhadap dampak kejadian sekaligus memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak dapat terpenuhi. Sementara pada fase pascabencana, pemerintah fokus pada rehabilitasi, rekonstruksi, serta pemberian bantuan dan santunan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam kesempatan itu, Agus Artana juga mengungkapkan bahwa sejumlah kawasan pesisir di Jembrana telah dilengkapi perangkat EWS tsunami. Fasilitas tersebut berada di Desa Penyaringan, Desa Yeh Kuning, dan Desa Pengambengan guna mendukung penyebaran informasi peringatan dini secara lebih cepat kepada masyarakat.
Selain memberikan pemahaman mengenai sistem penanggulangan bencana, BPBD turut memperkenalkan panduan kesiapsiagaan keluarga bertajuk *Siap untuk Selamat*. Panduan tersebut mendorong setiap keluarga mengenali potensi ancaman di sekitarnya, menentukan titik kumpul, memahami jalur evakuasi, serta menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting dan perlengkapan darurat.
“Perencanaan darurat di tingkat keluarga sangat penting. Menentukan jalur evakuasi, titik kumpul, hingga menyiapkan perlengkapan darurat merupakan langkah sederhana yang dapat meningkatkan keselamatan saat bencana terjadi,” ucapnya.
Melalui kegiatan edukasi tersebut, BPBD Jembrana berharap kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana semakin tertanam di lingkungan ASN maupun masyarakat. Dengan pemahaman yang baik serta kesiapan yang matang, dampak bencana diharapkan dapat diminimalkan secara bersama-sama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....