Spirit Tumpek Wariga bagi Keharmonisan Alam
- 26 Mei 2026 15:27 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Di tengah gencarnya kampanye penyelamatan lingkungan, masyarakat Hindu di Bali sebenarnya telah memiliki sistem konservasi spiritual, melalui perayaan Tumpek Wariga. Tradisi yang diperingati setiap dua ratus sepuluh hari sekali ini, dinilai sejalan dengan momentum Hari Bumi, 22 April dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni dengan kearifan lokal Tri Hita Karana.
Tumpek Wariga yang dirayakan setiap Sabtu Kliwon wuku Wariga atau 25 hari menjelang raya Galungan, sering juga disebut Tumpek Bubuh, Tumpek Uduh, Tumpek Pengatag, lahir dari kesadaran preventif. Tradisi ini menerjemahkan konservasi ke dalam tindakan psikologis, seperti menyapa dan memeluk pohon layaknya saudara, serta sebagai bentuk penghormatan kepada Sanghyang Sangkara.
Akademisi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, Doktor Ratih Anggraini menegaskan, tradisi luhur Bali ini bukan sekadar ritual, melainkan bukti nyata praktik sadar ekologi yang memiliki hubungan spiritual kuat dengan alam.
"Menurut saya, rainan Tumpek Wariga memiliki kaitan yang sangat kuat dengan peringatan Hari Bumi dan Hari Lingkungan Hidup dalam konteks pelestarian alam Bali. Karena keduanya sama-sama mengajarkan kesadaran spiritual, bagaimana kita menjaga keseimbangan lingkungan," ujar Dr. Ratih Anggraini melalui sambungan telepon
Harmonisasi manusia dengan alam melalui simbol pelukan dan kedekatan terhadap pohon besar yang sakral sejalan dengan konsep Gerakan Chipko yang menekankan perlindungan pohon sebagai sumber kehidupan.
Nilai-nilai Tumpek Wariga di Bali mengajarkan rasa bhakti dan penghormatan kepada tumbuhan sebagai manifestasi kehidupan. Hal ini juga mencerminkan spirit Hari Bumi dan Hari Lingkungan Hidup dalam membangun kesadaran ekologis, cinta lingkungan, dan tanggung jawab bersama menjaga kelestarian bumi demi keseimbangan kosmos dan kehidupan.
"Secara filosofis, nilai tersebut sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, khususnya hubungan harmonis manusia dengan alam yang disebut dengan Palemahan. Sehingga, menjaga lingkungan ini tentu dipahami bukan hanya sebagai kewajiban sosial saja, tetapi ini juga sebagai bentuk ekoteologi dan bhakti kepada Tuhan," ujar Ratih Anggraini.
Konsep ajaran Tri Hita Karana dalam Tumpek Wariga ini menjadi bukti bahwa menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam atau Palemahan, merupakan kunci penting dalam menghadapi ancaman krisis iklim global saat ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....