Angkul-Angkul Pintu Masuk Arsitektur Tradisional Bali
- 13 Mei 2026 08:15 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Keberadaan pintu gerbang atau yang di Bali disebut Angkul-angkul memiliki arti penting, baik dari sisi estetika, fungsional, hingga nilai filosofis bagi Masyarakat.
Secara fisik, angkul-angkul berfungsi sebagai pintu masuk utama menuju pekarangan rumah. Angkul-angkul memiliki atap penghubung yang menyatukan kedua sisi pilar. Atap ini biasanya terbuat dari genting, tumpukan bata, atau bahkan alang-alang pada bangunan yang lebih tradisional. Khusus bangunan suci atau pura biasanya menggunakan atap ijuk (duk).

Angkul-angkul dipercaya memiliki fungsi spiritual sebagai penyaring energi negatif. Di balik angkul-angkul, biasanya terdapat dinding penghalang yang disebut aling-aling. Kombinasi antara angkul-angkul dan aling-aling ini diyakini dapat menangkal energi negatif atau gangguan spiritual agar tidak langsung masuk ke dalam area hunian.
Berdasarkan Asta Kosala Kosali (konsep arsitektur tradisional Bali) ukuran tinggi dan lebar pintu tidak menggunakan meteran standar, melainkan menggunakan ukuran tubuh kepala keluarga, seperti depa (bentangan tangan), nyari (lebar jari), atau musti (ukuran kepalan tangan). Hal ini bertujuan agar bangunan selaras dengan energi penghuninya.
Jro Mangku Ketut Rupa, Pengurus PHDI Kabupaten Buleleng menjelaskan bahwa tinggi pilar biasanya dibuat menjulang untuk memberikan kesan kewibawaan.
"Disebut Angkul-angkul karena kata ungkul-ungkul yang berarti berada di atasnya atau lebih tinggi dari orang yang lalu lalang di depannya atau dibawahnya," ujar Jro Mangku Ketut Rupa.
| Baca juga: Dokar Gilimanuk Lenyap Ditelan Zaman |
Jika dibangun sesuai aturan, Angkul-angkul diyakini mampu mendatangkan kesehatan, kelancaran rezeki, serta kerukunan keluarga.
Menurut Jro Mangku Ketut Rupa, meski saat ini material angkul-angkul berkembang, struktur dasar dan penempatan dekorasi berupa patung penjaga (Dwarapala) di sisi kanan dan kiri pintu, tetap dipertahankan. Hal ini diyakini mampu melebur atau menetralisir kekuatan yang akan masuk ke dalam pekarangan.
Dalam pakem tradisional, angkul-angkul biasanya sempit (hanya cukup untuk satu atau dua orang berjalan kaki). Namun, untuk rumah modern yang memerlukan akses mobil, seringkali digunakan konsep angkul-angkul yang tidak memiliki ambang pintu atas (tanpa atap penghubung yang rendah).
Selain itu bisa dilakukan pemisahan akses dengan dua pintu. Pintu Utama tetap menggunakan angkul-angkul tradisional dengan ukuran standar untuk akses manusia. Di sebelahnya dibuatkan gerbang luas dengan desain tanpa ornamen angkul-angkul yang menutup bagian atas, agar mobil bisa masuk dengan leluasa.
Menjaga kelestarian angkul-angkul berarti menjaga identitas Bali, seiring pesatnya perkembangan arsitektur minimalis modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....