Rumah Adat Mesegali yang Punah 40 Tahun Dibangun Kembali di Pedawa

  • 15 Jun 2026 09:46 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Pelestarian warisan budaya kembali dilakukan masyarakat Desa Adat Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng. Melalui Sekolah Adat Manik Empul, pembangunan kembali Rumah Adat Mesegali resmi dimulai dengan pelaksanaan upacara ngeruak pada Minggu 14 Juni 2026. Rumah adat tersebut merupakan salah satu tipe rumah tradisional khas Pedawa yang telah punah selama puluhan tahun.

Ketua Sekolah Adat Manik Empul Desa Pedawa, I Wayan Sadyana, menjelaskan Rumah Adat Mesegali merupakan satu dari tiga tipe rumah adat yang dimiliki Desa Pedawa selain Rumah Adat Sri Dandan dan Rumah Adat Bandung Rangki. Namun, keberadaan rumah adat tersebut telah hilang dari lingkungan masyarakat selama lebih dari empat dekade. Karena itu, rekonstruksi dan pembangunan kembali dilakukan sebagai bagian dari upaya penyelamatan warisan budaya leluhur.

“Rumah Adat Mesegali diperkirakan sudah punah lebih dari 40 tahun. Hari ini kami memulai pembangunan kembali rumah adat tersebut setelah berhasil direkonstruksi melalui kajian yang dilakukan Sekolah Adat Manik Empul bersama prajuru Desa Adat Pedawa dengan dukungan penuh desa adat dan Yayasan Wisnu,” ujarnya.

Menurut Sadyana, kondisi rumah adat di Pedawa saat ini cukup memprihatinkan. Rumah Adat Bandung Rangki yang dahulu banyak ditemukan kini hanya tersisa sekitar 20 unit, sementara Rumah Adat Sri Dandan tinggal dua unit dan Rumah Adat Mesegali sudah tidak ditemukan lagi. Kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi masyarakat untuk melakukan langkah konservasi agar kekayaan arsitektur tradisional Pedawa tidak hilang ditelan zaman.

Ia menegaskan bahwa rumah adat tidak hanya memiliki nilai arsitektur, tetapi juga menyimpan berbagai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Nilai-nilai tersebut mencakup tata kehidupan masyarakat, ketahanan pangan, hingga pengetahuan mitigasi bencana yang tercermin dalam desain bangunannya. Konstruksi rumah yang saling mengikat antarbagian juga membuat bangunan tradisional ini dikenal memiliki ketahanan terhadap guncangan gempa.

“Rumah adat ini menyimpan banyak pengetahuan lokal yang sangat berharga. Di dalamnya terdapat nilai budaya, sistem ketahanan pangan, hingga pengetahuan mitigasi bencana. Konstruksinya dirancang saling mengikat sehingga memiliki karakter tahan gempa yang menjadi bagian dari kecerdasan masyarakat Pedawa pada masa lalu,” katanya.

Proses rekonstruksi Rumah Adat Mesegali dilakukan selama lebih dari empat bulan. Tim Sekolah Adat Manik Empul melakukan wawancara mendalam dengan para tetua desa yang masih mengingat bentuk, fungsi, dan tata ruang rumah tersebut. Dari berbagai informasi yang dihimpun, akhirnya diperoleh gambaran arsitektur yang kemudian dijadikan dasar pembangunan kembali rumah adat yang telah lama hilang itu.

Sadyana menjelaskan salah satu ciri khas Rumah Adat Mesegali terletak pada keberadaan ruang tambahan di bagian depan atau teras rumah. Ruang tersebut dahulu dimanfaatkan sebagai kamar tambahan bagi anggota keluarga yang telah menikah namun belum mampu membangun rumah sendiri. Keunikan ini menjadi pembeda utama antara Rumah Adat Mesegali dengan tipe rumah adat lainnya di Pedawa.

“Dengan terbangunnya kembali Rumah Adat Mesegali, anak-anak di Sekolah Adat Manik Empul nantinya dapat mempelajari dan membandingkan tiga tipe rumah adat yang dimiliki Desa Pedawa. Rumah-rumah adat ini akan menjadi media pembelajaran yang penting untuk memahami sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Pedawa,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan Sekolah Adat Manik Empul yang berdiri sejak 22 Oktober 2024 dibentuk sebagai wadah pelestarian budaya sekaligus penguatan karakter generasi muda. Selain mempelajari adat istiadat, para siswa juga dibekali berbagai kecakapan hidup modern seperti konservasi lingkungan, pemahaman sosial, dan wawasan lintas budaya. Menurutnya, bekal tersebut penting agar generasi muda Pedawa mampu beradaptasi dengan dunia global tanpa kehilangan akar budaya mereka.

Upacara ngeruak pembangunan Rumah Adat Mesegali dipimpin oleh Dane Balian Desa dan dihadiri kelian adat, prajuru adat, pengurus sekolah adat, serta tokoh masyarakat setempat. Ritual tersebut dilaksanakan sebagai bentuk permohonan restu kepada Ibu Pertiwi sebelum pembangunan dimulai. Rumah adat yang direkonstruksi ini dibangun di kawasan Bingin, sekitar satu kilometer di sebelah timur pusat Desa Adat Pedawa, dengan dukungan Yayasan Wisnu yang juga membantu pembangunan kembali Rumah Adat Sri Dandan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....